<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="id">
	<id>https://wikipangan.id/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Luthfiah.usman</id>
	<title>WikiPangan - Kontribusi pengguna [id]</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://wikipangan.id/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Luthfiah.usman"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/wiki/Istimewa:Kontribusi_pengguna/Luthfiah.usman"/>
	<updated>2026-04-05T10:54:18Z</updated>
	<subtitle>Kontribusi pengguna</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.40.1</generator>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Nyale&amp;diff=348</id>
		<title>Nyale</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Nyale&amp;diff=348"/>
		<updated>2023-12-13T22:27:21Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Luthfiah.usman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Nale-Nyale (cacing Laut).jpg|al=(Foto fino-monteiro.blogspot.com)|jmpl|327x327px|&#039;&#039;(Foto fino-monteiro.blogspot.com)&#039;&#039;Nale/Nyale (Cacing Laut)]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Sejarah  Nale/Nyale&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
Berdasarkan cerita turun-temurun yang disampaikan secara lisan, tradisi Tewa Nale/Guti Nale telah dimulai sejak tahun 500 Masehi. Pada awalnya, Nale berasal dari perairan desa Duli, salah satu desa di Alor yang terletak di Selat Merica. Nale merupakan cacing laut berwarna hijiau kebiruan yang hanya muncul pada musim hujan di Bulan Pebruari dan Maret.Tradisi Tewa Nale/Gute Nale dibawah oleh dua orang pendatang bernama Srona dan Srani ke kampung Mingar (Lembata) &amp;lt;ref&amp;gt;&amp;lt;nowiki&amp;gt;https://1001indonesia.net/guti-nale-tradisi-tangkap-cacing-laut-masyarakat-mingar-di-pulau-lembata/&amp;lt;/nowiki&amp;gt;&amp;lt;/ref&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Srona dan Srani kemudian memperkenalkan Nale kepada Belake dan Geroda (Suku Ketepapa) serta Belawa (Suku Ata Kabeleng). Kabar baik ini kemudian disebarluaskan kepada seluruh masyarakat Mingar. Selama tinggal bersama masyarakat Mingar, Srona dan Srani tidak hanya memperkenalkan cara menangkap Nale, tetapi juga mengajarkan kewajiban dan pantangan yang harus diikuti ketika menangkap Nale. Mereka juga mewariskan pengetahuan tentang cara berkomunikasi, memanggil, dan berpamitan dengan Nale. Dengan demikian, Srona dan Srani berkontribusi besar dalam memperkenalkan dan melestarikan tradisi Tewa Nale/Guti Nale di kampung Mingar &amp;lt;ref&amp;gt;Malang UN. Kata Kunci: Sumber Belajar, Kearifan Lokal, Kegiatan Ekonomi, Sumber. 2013;1–9. &amp;lt;/ref&amp;gt;.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Nale/Nyale (Cacing Laut)&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
Masyarakat solor memiliki sebuah tradisi yang diwariskan turun temurun, yaitu Tewa Nale/Gute Nale. Tewa Nale/Gute Nale adalah aktivitas menangkap atau mengambil Nale yang ikan tersebut sejenis cacing laut. Ritual ini dilakukan setiap bulan Februari sampai Maret setiap tahun sebagai bagian dari warisan budaya yang dijaga dengan penuh kebanggaan oleh masyarakat solor. Tradisi menangkap  Nale ini biasanya terjadi secara bersama-sama oleh  penduduk desa. Biasanya, tradisi ini dimulai dengan upacara adat yang melibatkan pemuka adat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam pelaksanaan tradisi Tewa Nale/Gute Nale, digunakan beberapa peralatan khusus yaitu seniru anyaman dari daun lontar, sebuah alat yang digunakan untuk menangkap atau mengambil nale. Setelah nale penuh di seniru, mereka juga menggunakan sebenale, wadah khusus yang berfungsi untuk menampung nale. Untuk memberikan penerangan di tengah kegelapan, masyarakat menggunakan ku&#039;um (Obor) &amp;lt;ref&amp;gt;&amp;lt;nowiki&amp;gt;https://www.atapunang.com/2020/03/sejarah-tradisi-dan-cara-pengolahan-nale.html&amp;lt;/nowiki&amp;gt;&amp;lt;/ref&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tradisi menangkap ikan Nale ini juga memiliki nilai sosial yang kuat. Ikan yang berhasil ditangkap dibagikan kepada seluruh masyarakat desa. Ini tidak hanya sebagai sumber makanan, tetapi juga sebagai cara untuk memperkuat ikatan sosial di antara masyarakat Solor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika melakukan aktivitas pengambilan nale, masyarakat secara bersama-sama melantunkan yel-yel kebahagiaan dengan teriakan &amp;quot;&#039;&#039;duli gere-duli gere-duli gere&#039;&#039;&amp;quot;. Teriakan ini semacam seruan sukacita yang mencerminkan kegembiraan atas kedatangan nale, memberikan nuansa meriah dan kebersamaan selama pelaksanaan tradisi Tewa Nale/Gute Nale di Solor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nale yang diperoleh, kemudian ada yang difermentasi untuk menambah masa simpan si Nale, dengan tujuan apabila terjadi musim barat/tenggara maka aktivitas penangkapan tidak bisa dilakukan. Sehingga dengan tersedianya Nale dijadikan sebagai lauk untuk pemenuhan protein hewani. Kandungan gizi cacing laut nyale yaitu kadar air 6,22%., kadar abu 10.41%, protein kasar 52.34%, lemak kasar 9.61%, serat kasar 0.51%, BETN 27.13%, dan Aktioksidan  53.59% hal ini menunjukkan cacing nyale dapat dijadikan sebagai pangan alternatif bersumber protein yang dapat menggantikan sumber protein ikan, daging, telur, tempe dan tahu &amp;lt;ref&amp;gt;Vertygo, Stormy. 2022. Analisis Kandungan Nutrisi cacing laut nyale pada perairan Pantai Wanokaka, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur. Jurnal Pendidikan dan Sains Biologi.1(2)&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Olahan Nale: Lawar Nale&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Tanpa proses pemasakan, Ikan nale langsug dicampur dengan perasan air jeruk nipis/jeruk purut, lombok, bawang, dan daun kemangi yang dihidangkan bersama dengan pisang rebus atau ubi rebus.&lt;br /&gt;
# Ikan Nale dicampur dengan parutan kelapa, diberi bumbu seperti garam, micin, perasan air jeruk nipis/purut, daun kemangi, dan lombok (sesuai selera). Kemudian dimasak dengan api kecil hingga kering. Biasanya dihidangkan dengan nasi, pisang rebus, dan ubi rebus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Luthfiah.usman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Nyale&amp;diff=344</id>
		<title>Nyale</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Nyale&amp;diff=344"/>
		<updated>2023-12-13T22:19:32Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Luthfiah.usman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Nale-Nyale (cacing Laut).jpg|al=(Foto fino-monteiro.blogspot.com)|jmpl|327x327px|&#039;&#039;(Foto fino-monteiro.blogspot.com)&#039;&#039;Nale/Nyale (Cacing Laut)]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Sejarah  Nale/Nyale&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
Berdasarkan cerita turun-temurun yang disampaikan secara lisan, tradisi Tewa Nale/Guti Nale telah dimulai sejak tahun 500 Masehi. Pada awalnya, Nale berasal dari perairan desa Duli, salah satu desa di Alor yang terletak di Selat Merica. Nale merupakan cacing laut berwarna hijiau kebiruan yang hanya muncul pada musim hujan di Bulan Pebruari dan Maret.Tradisi Tewa Nale/Gute Nale dibawah oleh dua orang pendatang bernama Srona dan Srani ke kampung Mingar (Lembata) &amp;lt;ref&amp;gt;&amp;lt;nowiki&amp;gt;https://1001indonesia.net/guti-nale-tradisi-tangkap-cacing-laut-masyarakat-mingar-di-pulau-lembata/&amp;lt;/nowiki&amp;gt;&amp;lt;/ref&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Srona dan Srani kemudian memperkenalkan Nale kepada Belake dan Geroda (Suku Ketepapa) serta Belawa (Suku Ata Kabeleng). Kabar baik ini kemudian disebarluaskan kepada seluruh masyarakat Mingar. Selama tinggal bersama masyarakat Mingar, Srona dan Srani tidak hanya memperkenalkan cara menangkap Nale, tetapi juga mengajarkan kewajiban dan pantangan yang harus diikuti ketika menangkap Nale. Mereka juga mewariskan pengetahuan tentang cara berkomunikasi, memanggil, dan berpamitan dengan Nale. Dengan demikian, Srona dan Srani berkontribusi besar dalam memperkenalkan dan melestarikan tradisi Tewa Nale/Guti Nale di kampung Mingar &amp;lt;ref&amp;gt;Malang UN. Kata Kunci: Sumber Belajar, Kearifan Lokal, Kegiatan Ekonomi, Sumber. 2013;1–9. &amp;lt;/ref&amp;gt;.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Nale/Nyale (Cacing Laut)&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
Masyarakat solor memiliki sebuah tradisi yang diwariskan turun temurun, yaitu Tewa Nale/Gute Nale. Tewa Nale/Gute Nale adalah aktivitas menangkap atau mengambil Nale yang ikan tersebut sejenis cacing laut. Ritual ini dilakukan setiap bulan Februari sampai Maret setiap tahun sebagai bagian dari warisan budaya yang dijaga dengan penuh kebanggaan oleh masyarakat solor. Tradisi menangkap  Nale ini biasanya terjadi secara bersama-sama oleh  penduduk desa. Biasanya, tradisi ini dimulai dengan upacara adat yang melibatkan pemuka adat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam pelaksanaan tradisi Tewa Nale/Gute Nale, digunakan beberapa peralatan khusus yaitu seniru anyaman dari daun lontar, sebuah alat yang digunakan untuk menangkap atau mengambil nale. Setelah nale penuh di seniru, mereka juga menggunakan sebenale, wadah khusus yang berfungsi untuk menampung nale. Untuk memberikan penerangan di tengah kegelapan, masyarakat menggunakan ku&#039;um (Obor) &amp;lt;ref&amp;gt;&amp;lt;nowiki&amp;gt;https://www.atapunang.com/2020/03/sejarah-tradisi-dan-cara-pengolahan-nale.html&amp;lt;/nowiki&amp;gt;&amp;lt;/ref&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tradisi menangkap ikan Nale ini juga memiliki nilai sosial yang kuat. Ikan yang berhasil ditangkap dibagikan kepada seluruh masyarakat desa. Ini tidak hanya sebagai sumber makanan, tetapi juga sebagai cara untuk memperkuat ikatan sosial di antara masyarakat Solor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika melakukan aktivitas pengambilan nale, masyarakat secara bersama-sama melantunkan yel-yel kebahagiaan dengan teriakan &amp;quot;&#039;&#039;duli gere-duli gere-duli gere&#039;&#039;&amp;quot;. Teriakan ini semacam seruan sukacita yang mencerminkan kegembiraan atas kedatangan nale, memberikan nuansa meriah dan kebersamaan selama pelaksanaan tradisi Tewa Nale/Gute Nale di Solor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ikan Nale yang diperoleh, kemudian ada yang difermentasi untuk menambah masa simpan si Nale, dengan tujuan apabila terjadi musim barat/tenggara maka aktivitas penangkapan tidak bisa dilakukan. Sehingga dengan tersedianya Nale dijadikan sebagai lauk untuk pemenuhan protein hewani. Kandungan gizi cacing laut nyale yaitu kadar air 6,22%., kadar abu 10.41%, protein kasar 52.34%, lemak kasar 9.61%, serat kasar 0.51%, BETN 27.13%, dan Aktioksidan  53.59% hal ini menunjukkan cacing nyale dapat dijadikan sebagai pangan alternatif bersumber protein yang dapat menggantikan sumber protein ikan, daging, telur, tempe dan tahu &amp;lt;ref&amp;gt;Vertygo, Stormy. 2022. Analisis Kandungan Nutrisi cacing laut nyale pada perairan Pantai Wanokaka, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur. Jurnal Pendidikan dan Sains Biologi.1(2)&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Olahan Nale: Lawar Nale&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Tanpa proses pemasakan, Ikan nale langsug dicampur dengan perasan air jeruk nipis/jeruk purut, lombok, bawang, dan daun kemangi yang dihidangkan bersama dengan pisang rebus atau ubi rebus.&lt;br /&gt;
# Ikan Nale dicampur dengan parutan kelapa, diberi bumbu seperti garam, micin, perasan air jeruk nipis/purut, daun kemangi, dan lombok (sesuai selera). Kemudian dimasak dengan api kecil hingga kering. Biasanya dihidangkan dengan nasi, pisang rebus, dan ubi rebus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Luthfiah.usman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Nyale&amp;diff=340</id>
		<title>Nyale</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Nyale&amp;diff=340"/>
		<updated>2023-12-13T22:14:24Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Luthfiah.usman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Nale-Nyale (cacing Laut).jpg|al=(Foto fino-monteiro.blogspot.com)|jmpl|327x327px|&#039;&#039;(Foto fino-monteiro.blogspot.com)&#039;&#039;Nale/Nyale (Cacing Laut)]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Sejarah  Nale/Nyale&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
Berdasarkan cerita turun-temurun yang disampaikan secara lisan, tradisi Tewa Nale/Guti Nale telah dimulai sejak tahun 500 Masehi. Pada awalnya, Nale berasal dari perairan desa Duli, sala satu desa di Alor yang terletak di Selat Merica. Nale merupakan cacing laut berwarna hijiau kebiruan yang hanya muncul pada musim hujan di Bulan Pebruari dan Maret.Tradisi Tewa Nale/Gute Nale dibawah oleh dua orang pendatang bernama Srona dan Srani ke kampung Mingar (Lembata) &amp;lt;ref&amp;gt;&amp;lt;nowiki&amp;gt;https://1001indonesia.net/guti-nale-tradisi-tangkap-cacing-laut-masyarakat-mingar-di-pulau-lembata/&amp;lt;/nowiki&amp;gt;&amp;lt;/ref&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Srona dan Srani kemudian memperkenalkan Nale kepada Belake dan Geroda (Suku Ketepapa) serta Belawa (Suku Ata Kabeleng). Kabar baik ini kemudian disebarluaskan kepada seluruh masyarakat Mingar. Selama tinggal bersama masyarakat Mingar, Srona dan Srani tidak hanya memperkenalkan cara menangkap Nale, tetapi juga mengajarkan kewajiban dan pantangan yang harus diikuti ketika menangkap Nale. Mereka juga mewariskan pengetahuan tentang cara berkomunikasi, memanggil, dan berpamitan dengan Nale. Dengan demikian, Srona dan Srani berkontribusi besar dalam memperkenalkan dan melestarikan tradisi Tewa Nale/Guti Nale di kampung Mingar &amp;lt;ref&amp;gt;Malang UN. Kata Kunci: Sumber Belajar, Kearifan Lokal, Kegiatan Ekonomi, Sumber. 2013;1–9. &amp;lt;/ref&amp;gt;.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Nale/Nyale (Cacing Laut)&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
Masyarakat solor memiliki sebuah tradisi yang diwariskan turun temurun, yaitu Tewa Nale/Gute Nale. Tewa Nale/Gute Nale adalah aktivitas menangkap atau mengambil Nale yang ikan tersebut sejenis cacing laut. Ritual ini dilakukan setiap bulan Februari sampai Maret setiap tahun sebagai bagian dari warisan budaya yang dijaga dengan penuh kebanggaan oleh masyarakat solor. Tradisi menangkap  Nale ini biasanya terjadi secara bersama-sama oleh  penduduk desa. Biasanya, tradisi ini dimulai dengan upacara adat yang melibatkan pemuka adat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam pelaksanaan tradisi Tewa Nale/Gute Nale, digunakan beberapa peralatan khusus yaitu seniru anyaman dari daun lontar, sebuah alat yang digunakan untuk menangkap atau mengambil nale. Setelah nale penuh di seniru, mereka juga menggunakan sebenale, wadah khusus yang berfungsi untuk menampung nale. Untuk memberikan penerangan di tengah kegelapan, masyarakat menggunakan ku&#039;um (Obor) &amp;lt;ref&amp;gt;&amp;lt;nowiki&amp;gt;https://www.atapunang.com/2020/03/sejarah-tradisi-dan-cara-pengolahan-nale.html&amp;lt;/nowiki&amp;gt;&amp;lt;/ref&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tradisi menangkap ikan Nale ini juga memiliki nilai sosial yang kuat. Ikan yang berhasil ditangkap dibagikan kepada seluruh masyarakat desa. Ini tidak hanya sebagai sumber makanan, tetapi juga sebagai cara untuk memperkuat ikatan sosial di antara masyarakat Solor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika melakukan aktivitas pengambilan nale, masyarakat secara bersama-sama melantunkan yel-yel kebahagiaan dengan teriakan &amp;quot;&#039;&#039;duli gere-duli gere-duli gere&#039;&#039;&amp;quot;. Teriakan ini semacam seruan sukacita yang mencerminkan kegembiraan atas kedatangan nale, memberikan nuansa meriah dan kebersamaan selama pelaksanaan tradisi Tewa Nale/Gute Nale di Solor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ikan Nale yang diperoleh, kemudian ada yang difermentasi untuk menambah masa simpan si Nale, dengan tujuan apabila terjadi musim barat/tenggara maka aktivitas penangkapan tidak bisa dilakukan. Sehingga dengan tersedianya Nale dijadikan sebagai lauk untuk pemenuhan protein hewani. Kandungan gizi cacing laut nyale yaitu kadar air 6,22%., kadar abu 10.41%, protein kasar 52.34%, lemak kasar 9.61%, serat kasar 0.51%, BETN 27.13%, dan Aktioksidan  53.59% hal ini menunjukkan cacing nyale dapat dijadikan sebagai pangan alternatif bersumber protein yang dapat menggantikan sumber protein ikan, daging, telur, tempe dan tahu &amp;lt;ref&amp;gt;Vertygo, Stormy. 2022. Analisis Kandungan Nutrisi cacing laut nyale pada perairan Pantai Wanokaka, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur. Jurnal Pendidikan dan Sains Biologi.1(2)&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Olahan Nale: Lawar Nale&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Tanpa proses pemasakan, Ikan nale langsug dicampur dengan perasan air jeruk nipis/jeruk purut, lombok, bawang, dan daun kemangi yang dihidangkan bersama dengan pisang rebus atau ubi rebus.&lt;br /&gt;
# Ikan Nale dicampur dengan parutan kelapa, diberi bumbu seperti garam, micin, perasan air jeruk nipis/purut, daun kemangi, dan lombok (sesuai selera). Kemudian dimasak dengan api kecil hingga kering. Biasanya dihidangkan dengan nasi, pisang rebus, dan ubi rebus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Luthfiah.usman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Mudu&amp;diff=331</id>
		<title>Mudu</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Mudu&amp;diff=331"/>
		<updated>2023-12-13T22:01:45Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Luthfiah.usman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Mudu&#039;&#039;&#039; adalah salah satu olahan pangan berbahan dasar fermentasi jeroan ikan dengan yang dicampurkan dengan parutan kelapa . Mudu menjadi salah satu pangan lokal dari daerah Flores timur Provinsi Nusa Tenggara Timur. Mudu biasa dijadikan pengganti lauk yang disajikan bersamaan dengan makanan khas &amp;quot;[[Kalesong]]&amp;quot;. Mudu merupakan salah satu makanan khas yang buat dengan memanfaatkan limbah ikan, karena sebagain besar letak geografis Flores Timur adalah daerah pesisir laut dengan mata pencaharian nelayan. Hasil alam ikan yang melimpah dan satu satunya sumber protein yang terbesar yang menjadi satu-satunya lauk utama. Namun pada saat musim-musim tertentu karena faktor cuaca, maka hasil tangkapan ikan yang berkurang, maka masyarakat memanfaatkan hasil olahan limbah ikan yang telah difermentasi untuk dijadikan sebagai bahan pengganti lauk. Mudu dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama yakni mencapai 1 bulan, namun jika disimpan di dalam kulkas bisa tahan hingga 6 bulan. Dulu banyak masyarakat yang membuat dan menyimpan mudu untuk menjaga ketahanan pangan rumah tangga, namun sekarang biasanya hanya penjual kalesong yang masih membuat mudu. Meski begitu, Mudu tetap disajikan sebagai pelengkap lauk dalam setiap acara adat di Flores Timur.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bahan-bahan: ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Isian perut ikan 1 toples (Jenis Ikan yang dibuat menjadi Mudu bisa Ikan apa saja, namun yang paling sering dipakai adalah ikan tongkol.)&lt;br /&gt;
* Kelapa parut 2 buah&lt;br /&gt;
* Asam 2 atau 3 bulatan &lt;br /&gt;
* Bawang merah 7 siung &lt;br /&gt;
* bawang putih 4 siung&lt;br /&gt;
* Kunyit 1 jari&lt;br /&gt;
* Jahe 1 jari&lt;br /&gt;
* Lengkuas 1 jari.&lt;br /&gt;
* Daun kemangi&lt;br /&gt;
* Garam secukupnya&lt;br /&gt;
* Gula merah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;Cara Pembuatan Mudu&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
# Isian dalam ikan yang digunakan (insang, perut, tulang maupun daging ikan), dihaluskan kemudian di cuci bersih.&lt;br /&gt;
# Bagian ikan yang sudah dicuci kemudian diberi garam dengan kadar tinggi dan dicampur hingga merata&lt;br /&gt;
# Ikan tersebut kemudian dibiarkan (difermentasi) selama kurang lebih 2 minggu untuk mendapatkan hasil yang baik&lt;br /&gt;
# Haluskan semua bumbu kemudian tumis dengan minyak sedikit hingga harum, selanjutnya masukkan air asam dan tunggu hingga mendidih.&lt;br /&gt;
# Masukkan perut atau tai ikan dan kemudian tambahkan garam atau gula sesuai selera.&lt;br /&gt;
# Tunggu hingga mendidih lagi, dan masukkan kelapa yang sudah di sangrai tadi. Tunggu air asam pada masakan sampai kering dan mudu siap disajikan.&lt;br /&gt;
# Setelah dimasak hingga matang, untuk menambah selera bisa ditambahkan perasa pedas , daun kemangi dan juga bisa menambahkan mentimun sesuai selera.&lt;br /&gt;
# Mudu siap disantap. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;Kandungan Mudu&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
Karbohidrat 21.002%, Protein 11,8%, Lemak 0,420%, Kadar air 60,171%, Serat 1,94% &amp;lt;ref&amp;gt;Mahmud, N.R.A. 2023. Chemical Charakteristics and Microbial Identification of Fish Fermented Food by Flores Ethnic. Internasional Conference Health and Medicine.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;Referensi&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
Wawancara secara langsung dengan pembuat &amp;quot;Mudu&amp;quot;.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Luthfiah.usman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Kalesong&amp;diff=314</id>
		<title>Kalesong</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Kalesong&amp;diff=314"/>
		<updated>2023-12-13T21:49:42Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Luthfiah.usman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Kalesong.jpg|jmpl|Kalesong]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;&amp;quot;Kalesong&amp;quot;&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; merupakan salah satu olahan bahan makanan berbahan dasar beras dengan campuran santan kelapa untuk membuat rasa menjadi nikmat dan gurih. Kalesong saat ini menjadi makanan khas yang berasal dari dataran Flores khususnya Flores Timur, Alor, Ende, Maumere. Kalesong tidak hanya menjadi makanan utama pengganti nasi namun saat ini sudah dijadikan sebagai jajanan pengganti nasi untuk sebagian masyarakat. Kalesong jbiasanya disajikan saat lebaran dengan [[Mudu]], opor ayam, dan ayam kecap sebagai lauk.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Cara Membuat Kalesong&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Bahan yang dibutuhkan membuat kalesong yaitu beras (bisa menggunakan beras putih dan campuran beras merah), santan kelapa dan garam dengan menggunakan daun janur kelapa atau daun lontar yang telah dibentuk sebagai pembungkus olahan tersebut.&lt;br /&gt;
# Kelapa yang telah diparut diperas santannya, kemudian dipanaskan dengan menambahkan garam secukupnya. &lt;br /&gt;
# Beras yang digunakan dicuci hingga bersih, kemudian dimasukkan ke dalam santan yang sudah panas, dimasak hingga setengah matang berasnya. &lt;br /&gt;
# Setelah setengah matang, kemudian diangkat dan didinginkan.&lt;br /&gt;
# Setelah dingin, kemudian dibungkus dalam daun janur yang telah dibentuk kemudian diikat hingga rapat.&lt;br /&gt;
# Selanjutnya direbus hingga matang kemudian diangkat dan ditiriskan hingga dingin dan siap disajikan.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Luthfiah.usman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Kalesong.jpg&amp;diff=311</id>
		<title>Berkas:Kalesong.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Kalesong.jpg&amp;diff=311"/>
		<updated>2023-12-13T21:48:58Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Luthfiah.usman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Kalesong&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Luthfiah.usman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Jagung_Bose&amp;diff=283</id>
		<title>Jagung Bose</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Jagung_Bose&amp;diff=283"/>
		<updated>2023-12-13T21:35:30Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Luthfiah.usman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{DISPLAYTITLE:Jagung Katemak }}&lt;br /&gt;
[[Berkas:Jagung Bose.jpg|al=Jagung Bose|jmpl|Jagung bose yang sudah matang dan siap dihidangkan]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Jagung Bose&#039;&#039;&#039; adalah salah satu olahan [[Pangan Lokal|pangan lokal]] yang berasal dari Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jagung bose biasanya dihidangkan sebagai [[Makanan Pokok|makanan pokok]] sehari-hari sebagai pengganti nasi.  Jagung bose memiliki tekstur lebih lembut daripada [[Jagung Katemak|jagung katemak]]. Bahan utama jagung bose yaitu jagung pulut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Cara membuat :&#039;&#039;&#039; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Jagung pulut ditumbuk menggunakan lesung sampai kulit arinya keluar kemudian dibersihkan.&lt;br /&gt;
# Setelah dibersihkan, kemudian jagung tersebut direndam air beberapa jam untuk memudahkan proses pematangan jagung. &lt;br /&gt;
# Jagung direbus sampai empuk, bisa ditambahkan dengan kacang-kacangan seperti kacang tanah, brenibon, tambahan daging sapi (tulang sapi).&lt;br /&gt;
# Jika air rebusan jagung sudah menyusut, tambahkan santan kelapa dan dimasak sampai matang. &lt;br /&gt;
# jagung bose yang sudah matang dapat ditambahkan gula atau garam sesuai selera.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jagung bose memiliki kandungan gizi berupa karbohidrat dan protein. Dinas Ketahanan Pangan NTT (2016), melaporkan kandungan gizi jagung &#039;&#039;bose&#039;&#039; terdapat karbohidrat (29,27 gr), protein (5,79 gr), dan lemak (4,97 gr) per 100 g. Jagung bose biasanya dihidangkan dengan sayur rumpu-rempe, serta lawar sambel mentah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;ref&amp;gt;https://badanpangan.go.id/storage/app/media/Evalap/Laporan%20Tahunan%20BKP%20Tahun%202016_.pdf&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Luthfiah.usman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Nyale&amp;diff=254</id>
		<title>Nyale</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Nyale&amp;diff=254"/>
		<updated>2023-12-13T21:18:44Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Luthfiah.usman: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;(Foto fino-monteiro.blogspot.com)&amp;#039;&amp;#039;Nale/Nyale (Cacing Laut)  == &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Sejarah  Nale/Nyale&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; == Berdasarkan cerita turun-temurun yang disampaikan secara lisan, tradisi Tewa Nale/Guti Nale telah dimulai sejak tahun 500 Masehi. Pada awalnya, Nale berasal dari Duli, sebuah laut di Alor yang terletak di Selat Merica. Tradisi Tewa Nale/Gute Nale dibawah oleh dua orang penda...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Nale-Nyale (cacing Laut).jpg|al=(Foto fino-monteiro.blogspot.com)|jmpl|327x327px|&#039;&#039;(Foto fino-monteiro.blogspot.com)&#039;&#039;Nale/Nyale (Cacing Laut)]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Sejarah  Nale/Nyale&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
Berdasarkan cerita turun-temurun yang disampaikan secara lisan, tradisi Tewa Nale/Guti Nale telah dimulai sejak tahun 500 Masehi. Pada awalnya, Nale berasal dari Duli, sebuah laut di Alor yang terletak di Selat Merica. Tradisi Tewa Nale/Gute Nale dibawah oleh dua orang pendatang bernama Srona dan Srani ke kampung Mingar (Lembata) &amp;lt;ref&amp;gt;&amp;lt;nowiki&amp;gt;https://1001indonesia.net/guti-nale-tradisi-tangkap-cacing-laut-masyarakat-mingar-di-pulau-lembata/&amp;lt;/nowiki&amp;gt;&amp;lt;/ref&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Srona dan Srani kemudian memperkenalkan Nale kepada Belake dan Geroda (Suku Ketepapa) serta Belawa (Suku Ata Kabeleng). Kabar baik ini kemudian disebarluaskan kepada seluruh masyarakat Mingar. Selama tinggal bersama masyarakat Mingar, Srona dan Srani tidak hanya memperkenalkan cara menangkap Nale, tetapi juga mengajarkan kewajiban dan pantangan yang harus diikuti ketika menangkap Nale. Mereka juga mewariskan pengetahuan tentang cara berkomunikasi, memanggil, dan berpamitan dengan Nale. Dengan demikian, Srona dan Srani berkontribusi besar dalam memperkenalkan dan melestarikan tradisi Tewa Nale/Guti Nale di kampung Mingar &amp;lt;ref&amp;gt;Malang UN. Kata Kunci: Sumber Belajar, Kearifan Lokal, Kegiatan Ekonomi, Sumber. 2013;1–9. &amp;lt;/ref&amp;gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Nale/Nyale (Cacing Laut)&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
Masyarakat solor memiliki sebuah tradisi yang diwariskan turun temurun, yaitu Tewa Nale/Gute Nale. Tewa Nale/Gute Nale adalah aktivitas menangkap atau mengambil Nale yang ikan tersebut sejenis cacing laut. Ritual ini dilakukan setiap bulan Februari sampai Maret setiap tahun sebagai bagian dari warisan budaya yang dijaga dengan penuh kebanggaan oleh masyarakat solor. Tradisi menangkap  Nale ini biasanya terjadi secara bersama-sama oleh  penduduk desa. Biasanya, tradisi ini dimulai dengan upacara adat yang melibatkan pemuka adat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam pelaksanaan tradisi Tewa Nale/Gute Nale, digunakan beberapa peralatan khusus yaitu seniru anyaman dari daun lontar, sebuah alat yang digunakan untuk menangkap atau mengambil nale. Setelah nale penuh di seniru, mereka juga menggunakan sebenale, wadah khusus yang berfungsi untuk menampung nale. Untuk memberikan penerangan di tengah kegelapan, masyarakat menggunakan ku&#039;um (Obor) &amp;lt;ref&amp;gt;&amp;lt;nowiki&amp;gt;https://www.atapunang.com/2020/03/sejarah-tradisi-dan-cara-pengolahan-nale.html&amp;lt;/nowiki&amp;gt;&amp;lt;/ref&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tradisi menangkap ikan Nale ini juga memiliki nilai sosial yang kuat. Ikan yang berhasil ditangkap dibagikan kepada seluruh masyarakat desa. Ini tidak hanya sebagai sumber makanan, tetapi juga sebagai cara untuk memperkuat ikatan sosial di antara masyarakat Solor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika melakukan aktivitas pengambilan nale, masyarakat secara bersama-sama melantunkan yel-yel kebahagiaan dengan teriakan &amp;quot;&#039;&#039;duli gere-duli gere-duli gere&#039;&#039;&amp;quot;. Teriakan ini semacam seruan sukacita yang mencerminkan kegembiraan atas kedatangan nale, memberikan nuansa meriah dan kebersamaan selama pelaksanaan tradisi Tewa Nale/Gute Nale di Solor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ikan Nale yang diperoleh, kemudian ada yang difermentasi untuk menambah masa simpan si Nale, dengan tujuan apabila terjadi musim barat/tenggara maka aktivitas penangkapan tidak bisa dilakukan. Sehingga dengan tersedianya Nale dijadikan sebagai lauk untuk pemenuhan protein hewani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Olahan Nale: Lawar Nale&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Tanpa proses pemasakan, Ikan nale langsug dicampur dengan perasan air jeruk nipis/jeruk purut, lombok, bawang, dan daun kemangi yang dihidangkan bersama dengan pisang rebus atau ubi rebus.&lt;br /&gt;
# Ikan Nale dicampur dengan parutan kelapa, diberi bumbu seperti garam, micin, perasan air jeruk nipis/purut, daun kemangi, dan lombok (sesuai selera). Kemudian dimasak dengan api kecil hingga kering. Biasanya dihidangkan dengan nasi, pisang rebus, dan ubi rebus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Luthfiah.usman</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Nale-Nyale_(cacing_Laut).jpg&amp;diff=219</id>
		<title>Berkas:Nale-Nyale (cacing Laut).jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Nale-Nyale_(cacing_Laut).jpg&amp;diff=219"/>
		<updated>2023-12-13T20:33:08Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Luthfiah.usman: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;(Foto fino-monteiro.blogspot.com)&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Luthfiah.usman</name></author>
	</entry>
</feed>