<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="id">
	<id>https://wikipangan.id/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Kontributor</id>
	<title>WikiPangan - Kontribusi pengguna [id]</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://wikipangan.id/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Kontributor"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/wiki/Istimewa:Kontribusi_pengguna/Kontributor"/>
	<updated>2026-04-05T10:16:40Z</updated>
	<subtitle>Kontribusi pengguna</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.40.1</generator>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Sayur_Bayam&amp;diff=2309</id>
		<title>Sayur Bayam</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Sayur_Bayam&amp;diff=2309"/>
		<updated>2025-05-27T05:27:29Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Kontributor: Penambahan Kategori Olahan Pangan&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Sayur Bayam.jpg|jmpl|Semangkuk sayur bayam dengan tambahan wortel yang siap dihidangkan]]&lt;br /&gt;
Bayam (Spinaciaoleracea) adalah salah satu [[pangan lokal]] yang paling populer dan dikenal luas karena kandungan gizinya yang melimpah. Dari meja makan sehari-hari hingga cerita kartun, bayam selalu hadir sebagai simbol kesehatan dan kekuatan. Namun, tahukah Anda bagaimana sayuran sederhana ini menempuh perjalanan panjang hingga menjadi favorit di seluruh dunia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sejarah dan Asal-usul Bayam ==&lt;br /&gt;
Perjalanan bayam dimulai ribuan tahun yang lalu. &#039;&#039;&#039;Asal-usul bayam diperkirakan berasal dari Persia kuno (sekarang Iran)&#039;&#039;&#039;, di mana ia pertama kali dibudidayakan. Catatan sejarah menunjukkan bahwa bayam telah dikenal dan digunakan di Persia setidaknya sejak abad ke-4 Masehi. Bangsa Persia menyebutnya &amp;quot;aspanakh,&amp;quot; yang kemudian menjadi cikal bakal nama bayam dalam berbagai bahasa, seperti &amp;quot;spinach&amp;quot; dalam bahasa Inggris.&amp;lt;ref&amp;gt;National Institutes of Health (NIH). &#039;&#039;Office of Dietary Supplements - Vitamin K&#039;&#039;. Diakses dari &amp;lt;nowiki&amp;gt;https://ods.od.nih.gov/factsheets/VitaminK-HealthProfessional/&amp;lt;/nowiki&amp;gt;&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Persia, bayam menyebar ke berbagai wilayah. Sekitar abad ke-7 Masehi, bayam tiba di &#039;&#039;&#039;Tiongkok&#039;&#039;&#039; melalui Nepal, di mana ia dengan cepat diterima dan dijuluki &amp;quot;sayuran Persia&amp;quot; (boˉcaˋi). Orang Arab juga memainkan peran penting dalam penyebaran bayam. Mereka membawanya ke Afrika Utara dan kemudian ke &#039;&#039;&#039;Spanyol&#039;&#039;&#039; sekitar abad ke-11. Dari Spanyol, bayam mulai menyebar ke seluruh Eropa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada abad ke-14, bayam menjadi populer di Prancis dan Inggris. Bahkan, Ratu Catherine de&#039; Medici dari Prancis (yang berasal dari Firenze, Italia) sangat menyukai bayam dan dilaporkan selalu meminta bayam disajikan dalam setiap hidangan. Kegemarannya ini bahkan memunculkan istilah kuliner &amp;quot;Florentine&amp;quot; yang berarti hidangan disajikan dengan bayam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Kategori:Olahan Pangan]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Kontributor</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Sayur_Bayam&amp;diff=2302</id>
		<title>Sayur Bayam</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Sayur_Bayam&amp;diff=2302"/>
		<updated>2025-05-27T05:04:07Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Kontributor: Membalikkan revisi 2295 oleh Kontributor (bicara)&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Sayur Bayam.jpg|jmpl|Semangkuk sayur bayam dengan tambahan wortel yang siap dihidangkan]]&lt;br /&gt;
Bayam (Spinaciaoleracea) adalah salah satu [[pangan lokal]] yang paling populer dan dikenal luas karena kandungan gizinya yang melimpah. Dari meja makan sehari-hari hingga cerita kartun, bayam selalu hadir sebagai simbol kesehatan dan kekuatan. Namun, tahukah Anda bagaimana sayuran sederhana ini menempuh perjalanan panjang hingga menjadi favorit di seluruh dunia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sejarah dan Asal-usul Bayam ==&lt;br /&gt;
Perjalanan bayam dimulai ribuan tahun yang lalu. &#039;&#039;&#039;Asal-usul bayam diperkirakan berasal dari Persia kuno (sekarang Iran)&#039;&#039;&#039;, di mana ia pertama kali dibudidayakan. Catatan sejarah menunjukkan bahwa bayam telah dikenal dan digunakan di Persia setidaknya sejak abad ke-4 Masehi. Bangsa Persia menyebutnya &amp;quot;aspanakh,&amp;quot; yang kemudian menjadi cikal bakal nama bayam dalam berbagai bahasa, seperti &amp;quot;spinach&amp;quot; dalam bahasa Inggris.&amp;lt;ref&amp;gt;National Institutes of Health (NIH). &#039;&#039;Office of Dietary Supplements - Vitamin K&#039;&#039;. Diakses dari &amp;lt;nowiki&amp;gt;https://ods.od.nih.gov/factsheets/VitaminK-HealthProfessional/&amp;lt;/nowiki&amp;gt;&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Persia, bayam menyebar ke berbagai wilayah. Sekitar abad ke-7 Masehi, bayam tiba di &#039;&#039;&#039;Tiongkok&#039;&#039;&#039; melalui Nepal, di mana ia dengan cepat diterima dan dijuluki &amp;quot;sayuran Persia&amp;quot; (boˉcaˋi). Orang Arab juga memainkan peran penting dalam penyebaran bayam. Mereka membawanya ke Afrika Utara dan kemudian ke &#039;&#039;&#039;Spanyol&#039;&#039;&#039; sekitar abad ke-11. Dari Spanyol, bayam mulai menyebar ke seluruh Eropa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada abad ke-14, bayam menjadi populer di Prancis dan Inggris. Bahkan, Ratu Catherine de&#039; Medici dari Prancis (yang berasal dari Firenze, Italia) sangat menyukai bayam dan dilaporkan selalu meminta bayam disajikan dalam setiap hidangan. Kegemarannya ini bahkan memunculkan istilah kuliner &amp;quot;Florentine&amp;quot; yang berarti hidangan disajikan dengan bayam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Kontributor</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Sayur_Bayam&amp;diff=2301</id>
		<title>Sayur Bayam</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Sayur_Bayam&amp;diff=2301"/>
		<updated>2025-05-27T05:00:28Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Kontributor: Membalikkan revisi 2299 oleh Kontributor (bicara)&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Sayur Bayam.jpg|jmpl|Semangkuk sayur bayam dengan tambahan wortel yang siap dihidangkan]]&lt;br /&gt;
Bayam (Spinaciaoleracea) adalah salah satu [[Pangan Lokal|pangan lokal]] yang paling populer dan dikenal luas karena kandungan gizinya yang melimpah. Dari meja makan sehari-hari hingga cerita kartun, bayam selalu hadir sebagai simbol kesehatan dan kekuatan. Namun, tahukah Anda bagaimana sayuran sederhana ini menempuh perjalanan panjang hingga menjadi favorit di seluruh dunia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sejarah dan Asal-usul Bayam ==&lt;br /&gt;
Perjalanan bayam dimulai ribuan tahun yang lalu. &#039;&#039;&#039;Asal-usul bayam diperkirakan berasal dari Persia kuno (sekarang Iran)&#039;&#039;&#039;, di mana ia pertama kali dibudidayakan. Catatan sejarah menunjukkan bahwa bayam telah dikenal dan digunakan di Persia setidaknya sejak abad ke-4 Masehi. Bangsa Persia menyebutnya &amp;quot;aspanakh,&amp;quot; yang kemudian menjadi cikal bakal nama bayam dalam berbagai bahasa, seperti &amp;quot;spinach&amp;quot; dalam bahasa Inggris.&amp;lt;ref&amp;gt;National Institutes of Health (NIH). &#039;&#039;Office of Dietary Supplements - Vitamin K&#039;&#039;. Diakses dari &amp;lt;nowiki&amp;gt;https://ods.od.nih.gov/factsheets/VitaminK-HealthProfessional/&amp;lt;/nowiki&amp;gt;&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Persia, bayam menyebar ke berbagai wilayah. Sekitar abad ke-7 Masehi, bayam tiba di &#039;&#039;&#039;Tiongkok&#039;&#039;&#039; melalui Nepal, di mana ia dengan cepat diterima dan dijuluki &amp;quot;sayuran Persia&amp;quot; (boˉcaˋi). Orang Arab juga memainkan peran penting dalam penyebaran bayam. Mereka membawanya ke Afrika Utara dan kemudian ke &#039;&#039;&#039;Spanyol&#039;&#039;&#039; sekitar abad ke-11. Dari Spanyol, bayam mulai menyebar ke seluruh Eropa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada abad ke-14, bayam menjadi populer di Prancis dan Inggris. Bahkan, Ratu Catherine de&#039; Medici dari Prancis (yang berasal dari Firenze, Italia) sangat menyukai bayam dan dilaporkan selalu meminta bayam disajikan dalam setiap hidangan. Kegemarannya ini bahkan memunculkan istilah kuliner &amp;quot;Florentine&amp;quot; yang berarti hidangan disajikan dengan bayam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Kontributor</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Sayur_Bayam&amp;diff=2299</id>
		<title>Sayur Bayam</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Sayur_Bayam&amp;diff=2299"/>
		<updated>2025-05-27T04:53:16Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Kontributor: Tambah Referensi&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Sayur Bayam.jpg|jmpl|Semangkuk sayur bayam dengan tambahan wortel yang siap dihidangkan]]&lt;br /&gt;
Bayam (Spinaciaoleracea) adalah salah satu [[Pangan Lokal|pangan lokal]] yang paling populer dan dikenal luas karena kandungan gizinya yang melimpah. Dari meja makan sehari-hari hingga cerita kartun, bayam selalu hadir sebagai simbol kesehatan dan kekuatan. Namun, tahukah Anda bagaimana sayuran sederhana ini menempuh perjalanan panjang hingga menjadi favorit di seluruh dunia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sejarah dan Asal-usul Bayam ==&lt;br /&gt;
Perjalanan bayam dimulai ribuan tahun yang lalu. &#039;&#039;&#039;Asal-usul bayam diperkirakan berasal dari Persia kuno (sekarang Iran)&#039;&#039;&#039;, di mana ia pertama kali dibudidayakan. Catatan sejarah menunjukkan bahwa bayam telah dikenal dan digunakan di Persia setidaknya sejak abad ke-4 Masehi. Bangsa Persia menyebutnya &amp;quot;aspanakh,&amp;quot; yang kemudian menjadi cikal bakal nama bayam dalam berbagai bahasa, seperti &amp;quot;spinach&amp;quot; dalam bahasa Inggris.&amp;lt;ref&amp;gt;National Institutes of Health (NIH). &#039;&#039;Office of Dietary Supplements - Vitamin K&#039;&#039;. Diakses dari &amp;lt;nowiki&amp;gt;https://ods.od.nih.gov/factsheets/VitaminK-HealthProfessional/&amp;lt;/nowiki&amp;gt;&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Persia, bayam menyebar ke berbagai wilayah. Sekitar abad ke-7 Masehi, bayam tiba di &#039;&#039;&#039;Tiongkok&#039;&#039;&#039; melalui Nepal, di mana ia dengan cepat diterima dan dijuluki &amp;quot;sayuran Persia&amp;quot; (boˉcaˋi). Orang Arab juga memainkan peran penting dalam penyebaran bayam. Mereka membawanya ke Afrika Utara dan kemudian ke &#039;&#039;&#039;Spanyol&#039;&#039;&#039; sekitar abad ke-11. Dari Spanyol, bayam mulai menyebar ke seluruh Eropa.&amp;lt;ref&amp;gt;Liu, C. (2014). &#039;&#039;Spinach&#039;&#039;. In &#039;&#039;Oxford Companion to Food&#039;&#039; (3rd ed.). Oxford University Press.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada abad ke-14, bayam menjadi populer di Prancis dan Inggris. Bahkan, Ratu Catherine de&#039; Medici dari Prancis (yang berasal dari Firenze, Italia) sangat menyukai bayam dan dilaporkan selalu meminta bayam disajikan dalam setiap hidangan. Kegemarannya ini bahkan memunculkan istilah kuliner &amp;quot;Florentine&amp;quot; yang berarti hidangan disajikan dengan bayam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Kontributor</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Sayur_Bayam&amp;diff=2295</id>
		<title>Sayur Bayam</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Sayur_Bayam&amp;diff=2295"/>
		<updated>2025-05-27T04:35:59Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Kontributor: Perbaikan Tautan Pangan Lokal&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Sayur Bayam.jpg|jmpl|Semangkuk sayur bayam dengan tambahan wortel yang siap dihidangkan]]&lt;br /&gt;
Bayam (Spinaciaoleracea) adalah salah satu [[Pangan Lokal|pangan lokal]] yang paling populer dan dikenal luas karena kandungan gizinya yang melimpah. Dari meja makan sehari-hari hingga cerita kartun, bayam selalu hadir sebagai simbol kesehatan dan kekuatan. Namun, tahukah Anda bagaimana sayuran sederhana ini menempuh perjalanan panjang hingga menjadi favorit di seluruh dunia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sejarah dan Asal-usul Bayam ==&lt;br /&gt;
Perjalanan bayam dimulai ribuan tahun yang lalu. &#039;&#039;&#039;Asal-usul bayam diperkirakan berasal dari Persia kuno (sekarang Iran)&#039;&#039;&#039;, di mana ia pertama kali dibudidayakan. Catatan sejarah menunjukkan bahwa bayam telah dikenal dan digunakan di Persia setidaknya sejak abad ke-4 Masehi. Bangsa Persia menyebutnya &amp;quot;aspanakh,&amp;quot; yang kemudian menjadi cikal bakal nama bayam dalam berbagai bahasa, seperti &amp;quot;spinach&amp;quot; dalam bahasa Inggris.&amp;lt;ref&amp;gt;National Institutes of Health (NIH). &#039;&#039;Office of Dietary Supplements - Vitamin K&#039;&#039;. Diakses dari &amp;lt;nowiki&amp;gt;https://ods.od.nih.gov/factsheets/VitaminK-HealthProfessional/&amp;lt;/nowiki&amp;gt;&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Persia, bayam menyebar ke berbagai wilayah. Sekitar abad ke-7 Masehi, bayam tiba di &#039;&#039;&#039;Tiongkok&#039;&#039;&#039; melalui Nepal, di mana ia dengan cepat diterima dan dijuluki &amp;quot;sayuran Persia&amp;quot; (boˉcaˋi). Orang Arab juga memainkan peran penting dalam penyebaran bayam. Mereka membawanya ke Afrika Utara dan kemudian ke &#039;&#039;&#039;Spanyol&#039;&#039;&#039; sekitar abad ke-11. Dari Spanyol, bayam mulai menyebar ke seluruh Eropa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada abad ke-14, bayam menjadi populer di Prancis dan Inggris. Bahkan, Ratu Catherine de&#039; Medici dari Prancis (yang berasal dari Firenze, Italia) sangat menyukai bayam dan dilaporkan selalu meminta bayam disajikan dalam setiap hidangan. Kegemarannya ini bahkan memunculkan istilah kuliner &amp;quot;Florentine&amp;quot; yang berarti hidangan disajikan dengan bayam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Kontributor</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Sayur_Bayam&amp;diff=2294</id>
		<title>Sayur Bayam</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Sayur_Bayam&amp;diff=2294"/>
		<updated>2025-05-27T04:34:50Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Kontributor: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;Semangkuk sayur bayam dengan tambahan wortel yang siap dihidangkan Bayam (Spinaciaoleracea) adalah salah satu pangan lokal yang paling populer dan dikenal luas karena kandungan gizinya yang melimpah. Dari meja makan sehari-hari hingga cerita kartun, bayam selalu hadir sebagai simbol kesehatan dan kekuatan. Namun, tahukah Anda bagaimana sayuran sederhana ini menempuh perjalanan panjang hingga menjadi favorit di seluruh dunia?  =...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Sayur Bayam.jpg|jmpl|Semangkuk sayur bayam dengan tambahan wortel yang siap dihidangkan]]&lt;br /&gt;
Bayam (Spinaciaoleracea) adalah salah satu [[pangan lokal]] yang paling populer dan dikenal luas karena kandungan gizinya yang melimpah. Dari meja makan sehari-hari hingga cerita kartun, bayam selalu hadir sebagai simbol kesehatan dan kekuatan. Namun, tahukah Anda bagaimana sayuran sederhana ini menempuh perjalanan panjang hingga menjadi favorit di seluruh dunia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sejarah dan Asal-usul Bayam ==&lt;br /&gt;
Perjalanan bayam dimulai ribuan tahun yang lalu. &#039;&#039;&#039;Asal-usul bayam diperkirakan berasal dari Persia kuno (sekarang Iran)&#039;&#039;&#039;, di mana ia pertama kali dibudidayakan. Catatan sejarah menunjukkan bahwa bayam telah dikenal dan digunakan di Persia setidaknya sejak abad ke-4 Masehi. Bangsa Persia menyebutnya &amp;quot;aspanakh,&amp;quot; yang kemudian menjadi cikal bakal nama bayam dalam berbagai bahasa, seperti &amp;quot;spinach&amp;quot; dalam bahasa Inggris.&amp;lt;ref&amp;gt;National Institutes of Health (NIH). &#039;&#039;Office of Dietary Supplements - Vitamin K&#039;&#039;. Diakses dari &amp;lt;nowiki&amp;gt;https://ods.od.nih.gov/factsheets/VitaminK-HealthProfessional/&amp;lt;/nowiki&amp;gt;&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Persia, bayam menyebar ke berbagai wilayah. Sekitar abad ke-7 Masehi, bayam tiba di &#039;&#039;&#039;Tiongkok&#039;&#039;&#039; melalui Nepal, di mana ia dengan cepat diterima dan dijuluki &amp;quot;sayuran Persia&amp;quot; (boˉcaˋi). Orang Arab juga memainkan peran penting dalam penyebaran bayam. Mereka membawanya ke Afrika Utara dan kemudian ke &#039;&#039;&#039;Spanyol&#039;&#039;&#039; sekitar abad ke-11. Dari Spanyol, bayam mulai menyebar ke seluruh Eropa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada abad ke-14, bayam menjadi populer di Prancis dan Inggris. Bahkan, Ratu Catherine de&#039; Medici dari Prancis (yang berasal dari Firenze, Italia) sangat menyukai bayam dan dilaporkan selalu meminta bayam disajikan dalam setiap hidangan. Kegemarannya ini bahkan memunculkan istilah kuliner &amp;quot;Florentine&amp;quot; yang berarti hidangan disajikan dengan bayam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Kontributor</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Sayur_Bayam.jpg&amp;diff=2269</id>
		<title>Berkas:Sayur Bayam.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Sayur_Bayam.jpg&amp;diff=2269"/>
		<updated>2025-05-27T01:58:45Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Kontributor: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sayur Bayam dengan tambahan wortel yang siap disantap&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Kontributor</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Jando_Beraes&amp;diff=1343</id>
		<title>Jando Beraes</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Jando_Beraes&amp;diff=1343"/>
		<updated>2025-01-24T08:49:52Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Kontributor: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Kue Jando Beraes&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; merupakan kue tradisional atau yang biasa disebut orang palembang &amp;quot;bingen&amp;quot;, keunikan nama tersebut bahkan kini melekat di masyarakat. Kue dengan tekstur kenyal yang memiliki toping dengan warna mencolok di bawahnya mulai dari warna meraj, ungu hingga hijau. &amp;lt;ref&amp;gt;https://www.rmolsumsel.id/mengintip-jando-beraes-kue-khas-kota-palembang-yang-nyaris-terlupakan&amp;lt;/ref&amp;gt;  Dinamai &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Jando Beraes&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; karena memiliki tampilan warna yang mencolok sama s...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Kue Jando Beraes&#039;&#039;&#039; merupakan kue tradisional atau yang biasa disebut orang palembang &amp;quot;bingen&amp;quot;, keunikan nama tersebut bahkan kini melekat di masyarakat. Kue dengan tekstur kenyal yang memiliki toping dengan warna mencolok di bawahnya mulai dari warna meraj, ungu hingga hijau. &amp;lt;ref&amp;gt;https://www.rmolsumsel.id/mengintip-jando-beraes-kue-khas-kota-palembang-yang-nyaris-terlupakan&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dinamai &#039;&#039;&#039;Jando Beraes&#039;&#039;&#039; karena memiliki tampilan warna yang mencolok sama seperti hal nya seorang wanita yang sedang berhias (Beraes). Dalam bahasa Palembang &amp;quot;Bersaes&amp;quot; memiliki arti yaitu berhias dengan &#039;&#039;make up&amp;quot;.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;Bahan-bahan :&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
Berikut merupakan bahan-bahan pembuatan Kue Jando Beraes : &amp;lt;ref&amp;gt;https://www.ketikpos.com/pariwisata-kebudayaan/95911934239/menghidupkan-kembali-kelezatan-kue-jando-beraes-resep-dan-cerita-di-balik-kue-tradisional&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* - 500 gram tepung ketan&lt;br /&gt;
* - 1/2 butir kelapa setengah tua, diparut&lt;br /&gt;
* - 200 gram gula pasir&lt;br /&gt;
* - 1 sendok teh garam halus&lt;br /&gt;
* - 3 sendok makan air kapur sirih&lt;br /&gt;
* - Pewarna makanan warna merah secukupnya&lt;br /&gt;
* - Daun pisang untuk alas&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;Cara Pembuatan :&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
1. Persiapan Bahan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Campurkan tepung ketan, kelapa parut, gula pasir, air kapur sirih, dan garam halus dalam sebuah wadah besar. Pastikan semua bahan tercampur secara merata untuk hasil yang konsisten.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Pembagian dan Pewarnaan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Bagi adonan menjadi dua bagian, dengan satu bagian yang akan diberi pewarna makanan warna merah. Aduk rata masing-masing adonan hingga warnanya merata dan menarik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Persiapan Loyang dan Kukusan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Olesi permukaan loyang dengan minyak dan alasi dengan daun pisang. Hal ini tidak hanya mencegah adonan menempel, tetapi juga memberikan aroma khas yang menyatu dengan kue.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Pastikan kukusan telah dipanaskan terlebih dahulu agar proses pengukusan berjalan lancar dan kue matang secara merata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Penataan Adonan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Tuangkan adonan putih ke dalam loyang dan ratakan permukaannya dengan baik. Ini akan menjadi lapisan dasar kue Jando Beraes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Tumpahkan adonan merah di atas adonan putih dengan cara yang merata dan hati-hati. Ini akan memberikan sentuhan warna yang menarik pada kue.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Proses Pengukusan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Kukus adonan dengan api sedang sampai matang, sekitar 30-40 menit. Pastikan kukusan ditutup rapat untuk menjaga kelembapan dan suhu yang diperlukan untuk proses pengukusan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;Referensi&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Kontributor</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Pempek&amp;diff=1306</id>
		<title>Pempek</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Pempek&amp;diff=1306"/>
		<updated>2025-01-24T08:05:51Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Kontributor: typo mudha, menjadi mudah&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Pempek adalah olahan pangan khas dari Sumatera, dan dapat dengan mudah dijumpai di Provinsi Sumatera Selatan, Jambi, dan Lampung. Bahan baku pempek, biasanya berasal dari jenis ikan sungai. Pada awalnya, pempek dibuat dari bahan baku utama ikan belida, namun dnegan semakin sulitnya didapatkan ikan tersebut/langka, maka saat ini banyak pempek yang berasal dari ikan gabus, ikan tenggiri maupun jenis ikan sungai lainnya.&lt;br /&gt;
[[Berkas:Pempek Palembang.png|jmpl|Pempek, olahan ikan khas Sumatera Selatan]]&lt;br /&gt;
Kata pempek, berasal dari bahasa hokien, apek (paman). Karena pada awalnya, pempek ini dijajakan atau dijual oleh orang tionghoa yang ada di sekitar Palembang. Pempek adalah salah satu olahan pangan hasil asimilasi budaya tionghoa dan nusantara, yang hingga saat ini masih dengan mudah dijumpai dan masih banyak dikonsumsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= Cara Mengolah =&lt;br /&gt;
Pempek pada umumnya dibuat dnegan bahan baku:  daging ikan yang digiling (Ikan gabus, tenggiri, dll), tepung tapioka atau tepung sagu, air, garam dan bumbu lainnya sebagai penambah cita rasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daging ikan yang dicampur dengan tepung sagu, dicampur dengan garam dan rempah-rempah lainnya. Seteah dicampur menjadi adonan, kemudian dibentuk memanjang dan dikukus. Setelah dikukus bisa langsung dihidangkan atau digoreng dahulu sebentar kemudian disajikan dengan cuko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pempek memiliki berbagai macam jenis, yaitu; adaan, lenjer, kapal selam, kulit, pistel, keriting, tahu, panggang dan lenggang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= Sejarah =&lt;br /&gt;
Jenis ikan yang biasa diolah menjadi lenjeran adalah ikan gabus maupun ikan berpatil lainnya. Ikan berpatil sudah lama dikonsumsi oleh masyarakat Sumatera Selatan. Hal ini dapat kita temukan pada bukti arkeologi yang ditemukan di situs pemukiman pra Sriwijaya di Desa Margomulyo, Kecamatan Muara Sugihan, Kabupaten Banyuasin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengolahan ikan menjadi pempek sebetulnya berasal dari ide untuk membuat hasil tangkapan ikan yang dihasilkan oleh nelayan di sekitar Sungai Musi. Pada masa lalu masyarakat masih terbatas dalam melakukan pengawetan ikan, sehingga dibutuhkan berbagai cara untuk menyimpan agar ikan yang dipanen tidak busuk dna merugi. Salah satu caranya adalah dengan mengolah ikan hasil tangkapan menjadi pempek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasar cerita rakyat, sekitar tahun 1617 seorang apek berusia 65 tahun yang tinggal di daerah Perakitan (tepian Sungai Musi) merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah di Sungai Musi. Hasil tangkapan itu belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik, hanya sebatas digoreng dan dipindang. Si apek kemudian mencoba alternatif pengolahan lain. Ia mencampur daging ikan giling dengan tepung tapioka, sehingga dihasilkan makanan baru. Makanan baru tersebut dijajakan oleh para apek dengan bersepeda. Oleh karena penjualnya dipanggil dengan sebutan “pek... apek”, maka makanan tersebut akhirnya dikenal sebagai pempek atau empek-empek. Pendapat lain mengemukakan bahwa nama pempek asal kata dari cara membuat makanan tersebut yaitu adonan campuran ikan dan sagu ”dilepekan” kemudian dibentuk sesuai keinginan. Kata dilepekan ini yang selanjutnya dijadikan sebagai nama makanan yaitu ”pempek”&amp;lt;ref&amp;gt;https://balitbangnovdasumsel.com/warisanbudaya/budaya/19&amp;lt;/ref&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= Rujukan =&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Kontributor</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Laksan&amp;diff=1305</id>
		<title>Laksan</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Laksan&amp;diff=1305"/>
		<updated>2025-01-24T08:04:45Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Kontributor: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Laksan adalah makanan khas Palembang, Sumatera Selatan, yang terkenal dengan cita rasa yang kaya dan unik. Berikut adalah beberapa detail tentang laksan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;Asal Usul dan Sejarah&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
Laksan berasal dari Palembang, Sumatera Selatan, dan memiliki beberapa versi asal usul yang berbeda. Salah satu versi populer mengaitkan nama &amp;quot;laksan&amp;quot; dengan kisah masyarakat Tionghoa yang bermukim di Palembang. Kata &amp;quot;laksan&amp;quot; mungkin berasal dari bahasa Inggris, dengan akronim &amp;quot;Luck Son&amp;quot; yang artinya &amp;quot;anak laki-laki yang beruntung&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;Bahan dan Cara Pembuatan:&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Bahan Laksan:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
[[Berkas:Laksan.jpg|al=Makanan yang kerap dijumpai sebagai menu sarapan masyarakat Palembang|jmpl|&#039;&#039;&#039;Laksan&#039;&#039;&#039; ]]&lt;br /&gt;
- Ikan: digiling dan dihaluskan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Tepung Sagu: sebagai bahan pengikat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Santan: untuk kuah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Daun Kucai : sebagai penambah rasa dan &#039;&#039;topping&#039;&#039;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Cara Membuat:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Ikan digiling dan dihaluskan hingga menjadi bubur dengan tekstur yang halus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Campurkan ikan yang telah dihaluskan dan digiling dengan tepung sagu hingga terbentuk adonan yang konsisten dan kalis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Bentuk adonan menjadi oval atau persegi panjang dan kukus hingga matang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Buat kuah santan merah dengan menambahkan bahan-bahan yaitu udang, ebi, dan bumbu giling.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;Karakteristik dan Rasa&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
Laksan memiliki bentuk oval yang mirip dengan pempek, tetapi lebih kecil dengan ketebalan sekitar 1 hingga 1,5 cm. Laksan disantap dengan kuah santan merah yang gurih dan kental, mirip dengan kuah lontong sayur. Teksturnya lembut dan kenyal, dengan rasa yang legit dan gurih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;Ketersediaan&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
Laksan biasanya tersedia di beberapa tempat di Palembang, terutama pada bulan Ramadhan. Selama bulan ini, laksan menjadi camilan yang populer di kalangan warga ketika berbuka puasa. Meskipun demikian, laksan tetap menjadi bagian dari tradisi Palembang yang terus dipertahankan hingga saat ini. Laksan juga banyak dijumpai sebagai menu sarapan masyarakat kota Palembang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;Variasi dan Penyajian&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
Selain laksan, ada beberapa makanan lain yang mirip dengan laksan, seperti pempek. Semua makanan ini terbuat dari bahan-bahan sederhana seperti ikan, tepung sagu, dan kuah santan, yang memberikan rasa yang khas dan gurih. Laksan merupakan makanan khas Palembang yang unik dan lezat, yang terus mempertahankan tradisinya di kalangan masyarakat Palembang.&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;Referensi:&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
[1] &amp;lt;nowiki&amp;gt;https://harianmuba.bacakoran.co/read/4481/asal-usul-laksan-kuliner-khas-palembang-yang-kaya-cita-rasa&amp;lt;/nowiki&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[2] &amp;lt;nowiki&amp;gt;https://palpres.disway.id/read/665395/asal-usul-nama-laksan-makanan-khas-palembang-bercita-rasa-dahsyat-benarkah-dari-bahasa-inggris&amp;lt;/nowiki&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[3] &amp;lt;nowiki&amp;gt;https://id.theasianparent.com/laksan-palembang&amp;lt;/nowiki&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Kontributor</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Pempek&amp;diff=1304</id>
		<title>Pempek</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Pempek&amp;diff=1304"/>
		<updated>2025-01-24T08:03:06Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Kontributor: Perbaikan kata olahna menjadi olahan&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Pempek adalah olahan pangan khas dari Sumatera, dan dapat dengan mudha dijumpai di Provinsi Sumatera Selatan, Jambi, dan Lampung. Bahan baku pempek, biasanya berasal dari jenis ikan sungai. Pada awalnya, pempek dibuat dari bahan baku utama ikan belida, namun dnegan semakin sulitnya didapatkan ikan tersebut/langka, maka saat ini banyak pempek yang berasal dari ikan gabus, ikan tenggiri maupun jenis ikan sungai lainnya.&lt;br /&gt;
[[Berkas:Pempek Palembang.png|jmpl|Pempek, olahan ikan khas Sumatera Selatan]]&lt;br /&gt;
Kata pempek, berasal dari bahasa hokien, apek (paman). Karena pada awalnya, pempek ini dijajakan atau dijual oleh orang tionghoa yang ada di sekitar Palembang. Pempek adalah salah satu olahan pangan hasil asimilasi budaya tionghoa dan nusantara, yang hingga saat ini masih dengan mudah dijumpai dan masih banyak dikonsumsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= Cara Mengolah =&lt;br /&gt;
Pempek pada umumnya dibuat dnegan bahan baku:  daging ikan yang digiling (Ikan gabus, tenggiri, dll), tepung tapioka atau tepung sagu, air, garam dan bumbu lainnya sebagai penambah cita rasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daging ikan yang dicampur dengan tepung sagu, dicampur dengan garam dan rempah-rempah lainnya. Seteah dicampur menjadi adonan, kemudian dibentuk memanjang dan dikukus. Setelah dikukus bisa langsung dihidangkan atau digoreng dahulu sebentar kemudian disajikan dengan cuko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pempek memiliki berbagai macam jenis, yaitu; adaan, lenjer, kapal selam, kulit, pistel, keriting, tahu, panggang dan lenggang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= Sejarah =&lt;br /&gt;
Jenis ikan yang biasa diolah menjadi lenjeran adalah ikan gabus maupun ikan berpatil lainnya. Ikan berpatil sudah lama dikonsumsi oleh masyarakat Sumatera Selatan. Hal ini dapat kita temukan pada bukti arkeologi yang ditemukan di situs pemukiman pra Sriwijaya di Desa Margomulyo, Kecamatan Muara Sugihan, Kabupaten Banyuasin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengolahan ikan menjadi pempek sebetulnya berasal dari ide untuk membuat hasil tangkapan ikan yang dihasilkan oleh nelayan di sekitar Sungai Musi. Pada masa lalu masyarakat masih terbatas dalam melakukan pengawetan ikan, sehingga dibutuhkan berbagai cara untuk menyimpan agar ikan yang dipanen tidak busuk dna merugi. Salah satu caranya adalah dengan mengolah ikan hasil tangkapan menjadi pempek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasar cerita rakyat, sekitar tahun 1617 seorang apek berusia 65 tahun yang tinggal di daerah Perakitan (tepian Sungai Musi) merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah di Sungai Musi. Hasil tangkapan itu belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik, hanya sebatas digoreng dan dipindang. Si apek kemudian mencoba alternatif pengolahan lain. Ia mencampur daging ikan giling dengan tepung tapioka, sehingga dihasilkan makanan baru. Makanan baru tersebut dijajakan oleh para apek dengan bersepeda. Oleh karena penjualnya dipanggil dengan sebutan “pek... apek”, maka makanan tersebut akhirnya dikenal sebagai pempek atau empek-empek. Pendapat lain mengemukakan bahwa nama pempek asal kata dari cara membuat makanan tersebut yaitu adonan campuran ikan dan sagu ”dilepekan” kemudian dibentuk sesuai keinginan. Kata dilepekan ini yang selanjutnya dijadikan sebagai nama makanan yaitu ”pempek”&amp;lt;ref&amp;gt;https://balitbangnovdasumsel.com/warisanbudaya/budaya/19&amp;lt;/ref&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= Rujukan =&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Kontributor</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Pempek&amp;diff=1303</id>
		<title>Pempek</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Pempek&amp;diff=1303"/>
		<updated>2025-01-24T08:02:35Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Kontributor: /* Cara Mengolah */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Pempek adalah olahan pangan khas dari Sumatera Selatan, dan dapat dengan mudah dijumpai di Provinsi Sumatera Selatan, Jambi, dan Lampung. Bahan baku pempek, biasanya berasal dari jenis ikan sungai. Pada awalnya, pempek dibuat dari bahan baku utama ikan belida, namun dengan semakin sulitnya didapatkan ikan tersebut/langka, maka saat ini banyak pempek yang berasal dari ikan gabus, ikan tenggiri maupun jenis ikan sungai lainnya.&lt;br /&gt;
[[Berkas:Pempek Palembang.png|jmpl|Pempek, olahan ikan khas Sumatera Selatan]]&lt;br /&gt;
Kata pempek, berasal dari bahasa hokien, apek (paman). Karena pada awalnya, pempek ini dijajakan atau dijual oleh orang tionghoa yang ada di sekitar Palembang. Pempek adalah salah satu olahan pangan hasil asimilasi budaya tionghoa dan nusantara, yang hingga saat ini masih dengan mudah dijumpai dan masih banyak dikonsumsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= Cara Mengolah =&lt;br /&gt;
Pempek pada umumnya dibuat dengan bahan baku :  daging ikan yang digiling (Ikan gabus, tenggiri, dll), tepung tapioka atau tepung sagu, air, garam dan bumbu lainnya sebagai penambah cita rasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daging ikan yang dicampur dengan tepung sagu, dicampur dengan garam dan rempah-rempah lainnya. Setelah dicampur menjadi adonan, kemudian dibentuk memanjang, bulat, keriting  dan dikukus. Setelah dikukus bisa langsung dihidangkan atau digoreng dahulu sebentar kemudian disajikan dengan cuko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pempek memiliki berbagai macam jenis, yaitu; adaan, lenjer, kapal selam, kulit, pistel, keriting, tahu, panggang dan lenggang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= Sejarah =&lt;br /&gt;
Jenis ikan yang biasa diolah menjadi lenjeran adalah ikan gabus maupun ikan berpatil lainnya. Ikan berpatil sudah lama dikonsumsi oleh masyarakat Sumatera Selatan. Hal ini dapat kita temukan pada bukti arkeologi yang ditemukan di situs pemukiman pra Sriwijaya di Desa Margomulyo, Kecamatan Muara Sugihan, Kabupaten Banyuasin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengolahan ikan menjadi pempek sebetulnya berasal dari ide untuk membuat hasil tangkapan ikan yang dihasilkan oleh nelayan di sekitar Sungai Musi. Pada masa lalu masyarakat masih terbatas dalam melakukan pengawetan ikan, sehingga dibutuhkan berbagai cara untuk menyimpan agar ikan yang dipanen tidak busuk dna merugi. Salah satu caranya adalah dengan mengolah ikan hasil tangkapan menjadi pempek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasar cerita rakyat, sekitar tahun 1617 seorang apek berusia 65 tahun yang tinggal di daerah Perakitan (tepian Sungai Musi) merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah di Sungai Musi. Hasil tangkapan itu belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik, hanya sebatas digoreng dan dipindang. Si apek kemudian mencoba alternatif pengolahan lain. Ia mencampur daging ikan giling dengan tepung tapioka, sehingga dihasilkan makanan baru. Makanan baru tersebut dijajakan oleh para apek dengan bersepeda. Oleh karena penjualnya dipanggil dengan sebutan “pek... apek”, maka makanan tersebut akhirnya dikenal sebagai pempek atau empek-empek. Pendapat lain mengemukakan bahwa nama pempek asal kata dari cara membuat makanan tersebut yaitu adonan campuran ikan dan sagu ”dilepekan” kemudian dibentuk sesuai keinginan. Kata dilepekan ini yang selanjutnya dijadikan sebagai nama makanan yaitu ”pempek”&amp;lt;ref&amp;gt;https://balitbangnovdasumsel.com/warisanbudaya/budaya/19&amp;lt;/ref&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= Rujukan =&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Kontributor</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Pempek&amp;diff=1302</id>
		<title>Pempek</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Pempek&amp;diff=1302"/>
		<updated>2025-01-24T08:01:48Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Kontributor: memperbaiki typo&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Pempek adalah olahan pangan khas dari Sumatera, dan dapat dengan mudah dijumpai di Provinsi Sumatera Selatan, Jambi, dan Lampung. Bahan baku pempek, biasanya berasal dari jenis ikan sungai. Pada awalnya, pempek dibuat dari bahan baku utama ikan belida, namun dengan semakin sulitnya didapatkan ikan tersebut/langka, maka saat ini banyak pempek yang berasal dari ikan gabus, ikan tenggiri maupun jenis ikan sungai lainnya.&lt;br /&gt;
[[Berkas:Pempek Palembang.png|jmpl|Pempek, olahan ikan khas Sumatera Selatan]]&lt;br /&gt;
Kata pempek, berasal dari bahasa hokien, apek (paman). Karena pada awalnya, pempek ini dijajakan atau dijual oleh orang tionghoa yang ada di sekitar Palembang. Pempek adalah salah satu olahan pangan hasil asimilasi budaya tionghoa dan nusantara, yang hingga saat ini masih dengan mudah dijumpai dan masih banyak dikonsumsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= Cara Mengolah =&lt;br /&gt;
Pempek pada umumnya dibuat dnegan bahan baku:  daging ikan yang digiling (Ikan gabus, tenggiri, dll), tepung tapioka atau tepung sagu, air, garam dan bumbu lainnya sebagai penambah cita rasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daging ikan yang dicampur dengan tepung sagu, dicampur dengan garam dan rempah-rempah lainnya. Seteah dicampur menjadi adonan, kemudian dibentuk memanjang dan dikukus. Setelah dikukus bisa langsung dihidangkan atau digoreng dahulu sebentar kemudian disajikan dengan cuko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pempek memiliki berbagai macam jenis, yaitu; adaan, lenjer, kapal selam, kulit, pistel, keriting, tahu, panggang dan lenggang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= Sejarah =&lt;br /&gt;
Jenis ikan yang biasa diolah menjadi lenjeran adalah ikan gabus maupun ikan berpatil lainnya. Ikan berpatil sudah lama dikonsumsi oleh masyarakat Sumatera Selatan. Hal ini dapat kita temukan pada bukti arkeologi yang ditemukan di situs pemukiman pra Sriwijaya di Desa Margomulyo, Kecamatan Muara Sugihan, Kabupaten Banyuasin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengolahan ikan menjadi pempek sebetulnya berasal dari ide untuk membuat hasil tangkapan ikan yang dihasilkan oleh nelayan di sekitar Sungai Musi. Pada masa lalu masyarakat masih terbatas dalam melakukan pengawetan ikan, sehingga dibutuhkan berbagai cara untuk menyimpan agar ikan yang dipanen tidak busuk dna merugi. Salah satu caranya adalah dengan mengolah ikan hasil tangkapan menjadi pempek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasar cerita rakyat, sekitar tahun 1617 seorang apek berusia 65 tahun yang tinggal di daerah Perakitan (tepian Sungai Musi) merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah di Sungai Musi. Hasil tangkapan itu belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik, hanya sebatas digoreng dan dipindang. Si apek kemudian mencoba alternatif pengolahan lain. Ia mencampur daging ikan giling dengan tepung tapioka, sehingga dihasilkan makanan baru. Makanan baru tersebut dijajakan oleh para apek dengan bersepeda. Oleh karena penjualnya dipanggil dengan sebutan “pek... apek”, maka makanan tersebut akhirnya dikenal sebagai pempek atau empek-empek. Pendapat lain mengemukakan bahwa nama pempek asal kata dari cara membuat makanan tersebut yaitu adonan campuran ikan dan sagu ”dilepekan” kemudian dibentuk sesuai keinginan. Kata dilepekan ini yang selanjutnya dijadikan sebagai nama makanan yaitu ”pempek”&amp;lt;ref&amp;gt;https://balitbangnovdasumsel.com/warisanbudaya/budaya/19&amp;lt;/ref&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= Rujukan =&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Kontributor</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Pempek&amp;diff=1301</id>
		<title>Pempek</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Pempek&amp;diff=1301"/>
		<updated>2025-01-24T08:01:36Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Kontributor: memperbaiki kata olahan&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Pempek adalah olahan pangan khas dari Sumatera, dan dapat dengan mudha dijumpai di Provinsi Sumatera Selatan, Jambi, dan Lampung. Bahan baku pempek, biasanya berasal dari jenis ikan sungai. Pada awalnya, pempek dibuat dari bahan baku utama ikan belida, namun dnegan semakin sulitnya didapatkan ikan tersebut/langka, maka saat ini banyak pempek yang berasal dari ikan gabus, ikan tenggiri maupun jenis ikan sungai lainnya.&lt;br /&gt;
[[Berkas:Pempek Palembang.png|jmpl|Pempek, olahan ikan khas Sumatera Selatan]]&lt;br /&gt;
Kata pempek, berasal dari bahasa hokien, apek (paman). Karena pada awalnya, pempek ini dijajakan atau dijual oleh orang tionghoa yang ada di sekitar Palembang. Pempek adalah salah satu olahan pangan hasil asimilasi budaya tionghoa dan nusantara, yang hingga saat ini masih dengan mudah dijumpai dan masih banyak dikonsumsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= Cara Mengolah =&lt;br /&gt;
Pempek pada umumnya dibuat dnegan bahan baku:  daging ikan yang digiling (Ikan gabus, tenggiri, dll), tepung tapioka atau tepung sagu, air, garam dan bumbu lainnya sebagai penambah cita rasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daging ikan yang dicampur dengan tepung sagu, dicampur dengan garam dan rempah-rempah lainnya. Seteah dicampur menjadi adonan, kemudian dibentuk memanjang dan dikukus. Setelah dikukus bisa langsung dihidangkan atau digoreng dahulu sebentar kemudian disajikan dengan cuko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pempek memiliki berbagai macam jenis, yaitu; adaan, lenjer, kapal selam, kulit, pistel, keriting, tahu, panggang dan lenggang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= Sejarah =&lt;br /&gt;
Jenis ikan yang biasa diolah menjadi lenjeran adalah ikan gabus maupun ikan berpatil lainnya. Ikan berpatil sudah lama dikonsumsi oleh masyarakat Sumatera Selatan. Hal ini dapat kita temukan pada bukti arkeologi yang ditemukan di situs pemukiman pra Sriwijaya di Desa Margomulyo, Kecamatan Muara Sugihan, Kabupaten Banyuasin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengolahan ikan menjadi pempek sebetulnya berasal dari ide untuk membuat hasil tangkapan ikan yang dihasilkan oleh nelayan di sekitar Sungai Musi. Pada masa lalu masyarakat masih terbatas dalam melakukan pengawetan ikan, sehingga dibutuhkan berbagai cara untuk menyimpan agar ikan yang dipanen tidak busuk dna merugi. Salah satu caranya adalah dengan mengolah ikan hasil tangkapan menjadi pempek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasar cerita rakyat, sekitar tahun 1617 seorang apek berusia 65 tahun yang tinggal di daerah Perakitan (tepian Sungai Musi) merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah di Sungai Musi. Hasil tangkapan itu belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik, hanya sebatas digoreng dan dipindang. Si apek kemudian mencoba alternatif pengolahan lain. Ia mencampur daging ikan giling dengan tepung tapioka, sehingga dihasilkan makanan baru. Makanan baru tersebut dijajakan oleh para apek dengan bersepeda. Oleh karena penjualnya dipanggil dengan sebutan “pek... apek”, maka makanan tersebut akhirnya dikenal sebagai pempek atau empek-empek. Pendapat lain mengemukakan bahwa nama pempek asal kata dari cara membuat makanan tersebut yaitu adonan campuran ikan dan sagu ”dilepekan” kemudian dibentuk sesuai keinginan. Kata dilepekan ini yang selanjutnya dijadikan sebagai nama makanan yaitu ”pempek”&amp;lt;ref&amp;gt;https://balitbangnovdasumsel.com/warisanbudaya/budaya/19&amp;lt;/ref&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= Rujukan =&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Kontributor</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Pempek&amp;diff=1300</id>
		<title>Pempek</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Pempek&amp;diff=1300"/>
		<updated>2025-01-24T08:00:37Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Kontributor: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Pempek adalah olahan pangan khas dari Sumatera Selatan, dan dapat dengan mudah dijumpai di Provinsi Sumatera Selatan, Jambi, dan Lampung. Bahan baku pempek, biasanya berasal dari jenis ikan sungai. Pada awalnya, pempek dibuat dari bahan baku utama ikan belida, namun dengan semakin sulitnya didapatkan ikan tersebut/langka, maka saat ini banyak pempek yang berasal dari ikan gabus, ikan tenggiri maupun jenis ikan sungai lainnya.&lt;br /&gt;
[[Berkas:Pempek Palembang.png|jmpl|Pempek, olahan ikan khas Sumatera Selatan]]&lt;br /&gt;
Kata pempek, berasal dari bahasa hokien, apek (paman). Karena pada awalnya, pempek ini dijajakan atau dijual oleh orang tionghoa yang ada di sekitar Palembang. Pempek adalah salah satu olahan pangan hasil asimilasi budaya tionghoa dan nusantara, yang hingga saat ini masih dengan mudah dijumpai dan masih banyak dikonsumsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= Cara Mengolah =&lt;br /&gt;
Pempek pada umumnya dibuat dnegan bahan baku:  daging ikan yang digiling (Ikan gabus, tenggiri, dll), tepung tapioka atau tepung sagu, air, garam dan bumbu lainnya sebagai penambah cita rasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daging ikan yang dicampur dengan tepung sagu, dicampur dengan garam dan rempah-rempah lainnya. Seteah dicampur menjadi adonan, kemudian dibentuk memanjang dan dikukus. Setelah dikukus bisa langsung dihidangkan atau digoreng dahulu sebentar kemudian disajikan dengan cuko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pempek memiliki berbagai macam jenis, yaitu; adaan, lenjer, kapal selam, kulit, pistel, keriting, tahu, panggang dan lenggang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= Sejarah =&lt;br /&gt;
Jenis ikan yang biasa diolah menjadi lenjeran adalah ikan gabus maupun ikan berpatil lainnya. Ikan berpatil sudah lama dikonsumsi oleh masyarakat Sumatera Selatan. Hal ini dapat kita temukan pada bukti arkeologi yang ditemukan di situs pemukiman pra Sriwijaya di Desa Margomulyo, Kecamatan Muara Sugihan, Kabupaten Banyuasin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengolahan ikan menjadi pempek sebetulnya berasal dari ide untuk membuat hasil tangkapan ikan yang dihasilkan oleh nelayan di sekitar Sungai Musi. Pada masa lalu masyarakat masih terbatas dalam melakukan pengawetan ikan, sehingga dibutuhkan berbagai cara untuk menyimpan agar ikan yang dipanen tidak busuk dna merugi. Salah satu caranya adalah dengan mengolah ikan hasil tangkapan menjadi pempek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasar cerita rakyat, sekitar tahun 1617 seorang apek berusia 65 tahun yang tinggal di daerah Perakitan (tepian Sungai Musi) merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah di Sungai Musi. Hasil tangkapan itu belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik, hanya sebatas digoreng dan dipindang. Si apek kemudian mencoba alternatif pengolahan lain. Ia mencampur daging ikan giling dengan tepung tapioka, sehingga dihasilkan makanan baru. Makanan baru tersebut dijajakan oleh para apek dengan bersepeda. Oleh karena penjualnya dipanggil dengan sebutan “pek... apek”, maka makanan tersebut akhirnya dikenal sebagai pempek atau empek-empek. Pendapat lain mengemukakan bahwa nama pempek asal kata dari cara membuat makanan tersebut yaitu adonan campuran ikan dan sagu ”dilepekan” kemudian dibentuk sesuai keinginan. Kata dilepekan ini yang selanjutnya dijadikan sebagai nama makanan yaitu ”pempek”&amp;lt;ref&amp;gt;https://balitbangnovdasumsel.com/warisanbudaya/budaya/19&amp;lt;/ref&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= Rujukan =&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Kontributor</name></author>
	</entry>
</feed>