<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="id">
	<id>https://wikipangan.id/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Abdul.rizal</id>
	<title>WikiPangan - Kontribusi pengguna [id]</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://wikipangan.id/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Abdul.rizal"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/wiki/Istimewa:Kontribusi_pengguna/Abdul.rizal"/>
	<updated>2026-04-05T04:01:29Z</updated>
	<subtitle>Kontribusi pengguna</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.40.1</generator>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Matoa&amp;diff=3884</id>
		<title>Matoa</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Matoa&amp;diff=3884"/>
		<updated>2026-02-09T18:02:09Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Matoa&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; (&amp;#039;&amp;#039;Pometia pinnata&amp;#039;&amp;#039;) adalah tanaman buah khas yang menjadi identitas flora wilayah Papua di Indonesia. Tanaman ini termasuk dalam keluarga &amp;#039;&amp;#039;Sapindaceae&amp;#039;&amp;#039; (satu kerabat dengan Leci dan Rambutan). Pohon Matoa tumbuh menjulang tinggi sebagai tanaman hutan hujan tropis dengan karakter batang kayu keras yang kokoh.  Secara sensoris, buah Matoa menawarkan pengalaman rasa yang unik dan kompleks. Banyak orang mendeskripsikan rasanya sebagai &amp;quot;per...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Matoa&#039;&#039;&#039; (&#039;&#039;Pometia pinnata&#039;&#039;) adalah tanaman buah khas yang menjadi identitas flora wilayah [[Papua]] di Indonesia. Tanaman ini termasuk dalam keluarga &#039;&#039;Sapindaceae&#039;&#039; (satu kerabat dengan [[Leci]] dan [[Rambutan]]). Pohon Matoa tumbuh menjulang tinggi sebagai tanaman hutan hujan tropis dengan karakter batang kayu keras yang kokoh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara sensoris, buah Matoa menawarkan pengalaman rasa yang unik dan kompleks. Banyak orang mendeskripsikan rasanya sebagai &amp;quot;perkawinan&amp;quot; antara manisnya rambutan, legitnya lengkeng, dan sedikit aroma durian. Karena keunikannya ini, Matoa memiliki nilai ekonomi tinggi di luar Papua, namun sering kali melimpah ruah di tanah asalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Taksonomi dan Varietas Lokal ==&lt;br /&gt;
Di Papua, masyarakat lokal dan peneliti pertanian membedakan Matoa menjadi dua varietas utama berdasarkan tekstur daging buahnya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Matoa [[Kelapa]]:&#039;&#039;&#039; Ini adalah varietas yang paling disukai dan bernilai jual tinggi. Daging buahnya kenyal, padat, dan mudah lepas dari bijinya (&#039;&#039;ngelotok&#039;&#039;), mirip tekstur Rambutan Aceh. Diameter buahnya rata-rata 2,2 – 2,9 cm.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Matoa [[Papeda]]:&#039;&#039;&#039; Sesuai namanya yang merujuk pada bubur [[sagu]], varietas ini memiliki daging buah yang lembek, basah, dan lengket pada bijinya. Varietas ini kurang populer untuk dikonsumsi segar karena agak sulit dimakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain tekstur, Matoa juga dibedakan berdasarkan warna kulit buahnya: ada yang berwarna hijau (&#039;&#039;Emme Anokhong&#039;&#039;), kuning (&#039;&#039;Emme Khabhelaw&#039;&#039;), dan merah kecokelatan (&#039;&#039;Emme Bhanggahe&#039;&#039;).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Ekologi dan Sebaran ==&lt;br /&gt;
Matoa adalah tanaman asli (indigenous) yang tumbuh liar di hutan-hutan Papua pada dataran rendah hingga ketinggian 1.200 mdpl. Pohon ini memiliki akar tunggang yang kuat dan toleran terhadap kondisi tanah kering, sehingga sering dijadikan tanaman konservasi atau peneduh jalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski identik dengan Papua, Matoa sebenarnya tersebar di wilayah Malesia lainnya, termasuk Maluku, Sulawesi, hingga Pasifik. Namun, varietas dengan kualitas buah terbaik secara genetik diakui berasal dari Papua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Kandungan Gizi dan Manfaat ==&lt;br /&gt;
Daging buah Matoa kaya akan sumber energi dan vitamin.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Vitamin C dan E:&#039;&#039;&#039; Berfungsi sebagai antioksidan kuat untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan kesehatan kulit.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Glukosa Jenuh:&#039;&#039;&#039; Rasa manis Matoa memberikan energi instan. Namun, konsumsi berlebihan (terutama Matoa Papeda) sering dipercaya masyarakat lokal dapat menyebabkan rasa &amp;quot;mabuk&amp;quot; atau pusing ringan karena kandungan glukosanya yang tinggi.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Kulit Batang:&#039;&#039;&#039; Secara tradisional, masyarakat Papua menggunakan air rebusan kulit batang Matoa untuk mandi guna mengobati luka atau masalah kulit, karena sifat antimikrobanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua. (2025). &#039;&#039;[https://pustaka.bppsdmp.pertanian.go.id/info-literasi/info-literasi Info Literasi: Matoa Permata Tropis dari Papua]&#039;&#039;. Kementerian Pertanian.&lt;br /&gt;
* Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Palangka Raya. (2021). &#039;&#039;[https://disperkimtan.palangkaraya.go.id/tanaman-matoa-pometia-pinnata/ Tanaman Matoa (Pometia pinnata): Karakteristik dan Sebaran]&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
* Mongabay Indonesia. (2021). &#039;&#039;[https://mongabay.co.id/2021/12/06/matoa-buah-khas-papua-yang-kaya-manfaat/ Matoa, Buah Khas Papua yang Kaya Manfaat]&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
* Tehuayo, M. N., et al. (2023). &#039;&#039;Identifikasi Struktur Morfologi Tumbuhan Matoa (Pometia pinnata) di Lingkungan Kampus UNIMUDA Sorong&#039;&#039;. Biolearning Journal, 10(1), 25-29.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Bahan Pangan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Buah-buahan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Flora Papua]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Flora Identitas Indonesia]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Pattikala&amp;diff=3879</id>
		<title>Pattikala</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Pattikala&amp;diff=3879"/>
		<updated>2026-02-09T17:53:07Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Pattikala&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; atau &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Patikala&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; adalah sebutan lokal masyarakat Luwu dan Toraja di Sulawesi Selatan untuk buah dari tanaman Etlingera elatior (Kecombrang/Honje). Jika di wilayah lain di Nusantara bagian tanaman yang umum dikonsumsi adalah bunga atau tunas mudanya, maka dalam tradisi kuliner Luwu Raya dan Toraja, bagian yang paling bernilai adalah buahnya.  Buah ini memegang peranan vital sebagai pemberi rasa asam (&amp;#039;&amp;#039;acidulant&amp;#039;&amp;#039;) alami yang men...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Pattikala&#039;&#039;&#039; atau &#039;&#039;&#039;Patikala&#039;&#039;&#039; adalah sebutan lokal masyarakat [[Luwu]] dan [[Toraja]] di [[Sulawesi Selatan]] untuk buah dari tanaman [[Etlingera elatior]] (Kecombrang/Honje). Jika di wilayah lain di Nusantara bagian tanaman yang umum dikonsumsi adalah bunga atau tunas mudanya, maka dalam tradisi kuliner Luwu Raya dan Toraja, bagian yang paling bernilai adalah buahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buah ini memegang peranan vital sebagai pemberi rasa asam (&#039;&#039;acidulant&#039;&#039;) alami yang menyegarkan pada hidangan berbasis ikan dan [[sagu]]. Tanpa Pattikala, hidangan ikonik seperti [[Kapurung]] atau [[Parende]] dianggap kehilangan &amp;quot;jiwa&amp;quot; aslinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Karakteristik Fisik dan Rasa ==&lt;br /&gt;
Secara botani, Pattikala termasuk dalam famili &#039;&#039;Zingiberaceae&#039;&#039; ([[jahe]]-jahean).&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Bentuk&#039;&#039;&#039; Buahnya tumbuh bergerombol dalam bonggol di dekat tanah (terpisah dari batang daun). Berbentuk bulat atau lonjong dengan ujung meruncing, berwarna hijau saat muda dan berubah menjadi merah kecokelatan saat matang.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Struktur Dalam&#039;&#039;&#039; Kulitnya tebal dan berserat. Di dalamnya terdapat biji-biji kecil berwarna hitam/cokelat yang terbungkus selaput putih bening.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Rasa dan Aroma&#039;&#039;&#039; Memiliki rasa asam yang sangat tajam (&#039;&#039;citrusy&#039;&#039;) namun tidak menyengat seperti cuka, disertai aroma wangi khas rempah yang mampu menghilangkan bau amis ikan sungai maupun laut secara instan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Peran dalam Kuliner Sulawesi ==&lt;br /&gt;
Dalam peta kuliner Sulawesi Selatan (khususnya wilayah utara seperti Palopo, Luwu, Masamba, dan Tana Toraja), Pattikala adalah bumbu wajib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Kapurung (Luwu):&#039;&#039;&#039; Pada hidangan sagu ini, sari buah Pattikala (yang telah direbus dan diremas/dihancurkan) dicampurkan ke dalam kuah ikan. Rasa asamnya menetralkan rasa sagu yang tawar dan menyeimbangkan rasa gurih ikan. Biji-biji kecil Pattikala yang ikut termakan memberikan sensasi tekstur tersendiri.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Piong/Pa&#039;piong (Toraja):&#039;&#039;&#039; Dalam masakan daging atau ikan yang dimasak dalam bambu, buah Pattikala sering ditambahkan (digeprek atau diiris) untuk melunakkan daging dan memberikan aroma segar.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Parende (Buton/Luwu):&#039;&#039;&#039; Pada versi Luwu, sup ikan ini wajib menggunakan air asam Pattikala, berbeda dengan versi daerah lain yang mungkin menggunakan asam jawa atau belimbing wuluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Khasiat dan Nilai Gizi ==&lt;br /&gt;
Secara tradisional, masyarakat setempat meyakini bahwa rasa asam Pattikala tidak memicu sakit lambung (maag) sekeras cuka atau asam buatan. Penelitian modern menunjukkan buah ini kaya akan senyawa bioaktif. Ekstrak buah Pattikala diketahui mengandung flavonoid dan memiliki aktivitas antioksidan serta antibakteri yang dapat mengawetkan makanan secara alami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Seven Hub. (2024). &#039;&#039;[https://sevenhub.id/articles/article-detail/intip-jejak-pohon-patikala-di-luwu-utara-bersama-jejak-petualang Intip Jejak Pohon Patikala di Luwu Utara]&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
* Budaya Indonesia. (2018). &#039;&#039;[https://budaya-indonesia.org/Sayur-Asam-Patikala Sayur Asam Patikala dan Kapurung]&#039;&#039;. Perpustakaan Digital Budaya Indonesia.&lt;br /&gt;
* Majid, I., et al. (2024). &#039;&#039;Potential of Patikala Fruit (Etlingera elatior) in Improving the Physical Quality of Spent Layer Meat&#039;&#039;. Jurnal Ilmu Ternak Universitas Padjadjaran, 24(1). (Jurnal ilmiah yang meneliti potensi ekstrak buah Patikala).&lt;br /&gt;
* Tribun Timur. (2020). &#039;&#039;[https://makassar.tribunnews.com/2020/06/03/9-manfaat-buah-patikala-sumber-rasa-asam-pada-makanan-khas-luwu-kapurung 9 Manfaat Buah Patikala, Sumber Rasa Asam pada Makanan Khas Luwu Kapurung]&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Bahan Pangan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Rempah-rempah]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Flora Sulawesi]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Luwu]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Toraja]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Palopo]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sulawesi Selatan]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Koyabu&amp;diff=3878</id>
		<title>Koyabu</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Koyabu&amp;diff=3878"/>
		<updated>2026-02-09T17:37:07Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Koyabu&#039;&#039;&#039; adalah kue basah tradisional khas masyarakat [[Manado]] dan [[Minahasa]] di [[Sulawesi Utara]]. Identitas utama kue ini terletak pada kemasannya yang unik dibungkus dengan daun [[pandan]] besar yang dilipat menyerupai limas segitiga. Aroma pandan yang meresap kuat ke dalam adonan menjadi ciri khas yang tak tergantikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbeda dengan [[Lemet]] di Jawa yang berbahan dasar [[singkong]] dan dibungkus daun pisang, Koyabu Manado umumnya menggunakan bahan dasar [[Tepung Ketan]] putih yang dicampur dengan [[kelapa]] parut. Di dalamnya tersembunyi gula merah yang akan meleleh saat dikukus, menciptakan kejutan rasa manis di setiap gigitan. Kue ini adalah teman setia bagi warga Manado saat menikmati kopi pagi (&#039;&#039;smokol&#039;&#039;) atau teh sore.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Filosofi: Segitiga Pandan ==&lt;br /&gt;
Bentuk segitiga atau kerucut pada bungkusan Koyabu bukan sekadar estetika. Dalam budaya kuliner Nusantara, bentuk yang mengerucut ke atas (seperti tumpeng) sering dimaknai sebagai simbol hubungan vertikal dengan Tuhan (keilahian) dan harapan yang tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aspek paling pragmatis dan jenius dari Koyabu adalah penggunaan daun pandan sebagai pembungkus sekaligus pewangi alami (&#039;&#039;natural perfuming&#039;&#039;). Daun pandan menjaga kelembapan kue agar tidak kering saat dikukus, sekaligus mentransfer aroma wangi yang menenangkan. Masyarakat Minahasa percaya bahwa kue yang wangi akan mengundang selera dan kebahagiaan bagi siapa saja yang menyantapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Karakteristik Rasa ==&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Aroma&#039;&#039;&#039; adalah kekuatan utamanya. Wangi daun pandan yang terkena uap panas sangat dominan, menutupi aroma tepung atau amis telur.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Tekstur&#039;&#039;&#039; Bagian luarnya kenyal dan lengket khas ketan, namun bertekstur kasar  karena campuran kelapa parut yang melimpah.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Rasa&#039;&#039;&#039; Gurih kelapa yang asin-sedap berpadu kontras dengan lelehan gula merah yang manis legit di bagian tengah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bahan dan Proses Pembuatan ==&lt;br /&gt;
Pembuatan Koyabu membutuhkan keterampilan tangan khusus dalam melipat daun pandan agar rapat dan tidak bocor saat gula mencair.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Bahan Utama ===&lt;br /&gt;
* 250 gram [[Tepung Ketan]] Putih.&lt;br /&gt;
* 200 gram Kelapa Parut (pilih yang setengah tua/mengkal, kupas kulit arinya agar putih bersih).&lt;br /&gt;
* 150 gram [[Gula Merah]] / Gula [[Aren]] (sisir halus untuk isian).&lt;br /&gt;
* 1/2 sdt Garam.&lt;br /&gt;
* Air secukupnya (untuk membasahi adonan).&lt;br /&gt;
* Daun Pandan yang lebar dan panjang (bersihkan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Langkah Pengolahan ===&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Persiapan Daun&#039;&#039;&#039; Pilih daun pandan yang lebar. Potong bagian pangkal yang keras. Lipat bagian ujung daun membentuk corong atau limas segitiga yang rapat di bagian bawahnya. Kunci lipatan ini agar tidak lepas. Ini tahap tersulit; jika bocor, gula merah akan tumpah mengotori kukusan.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pembuatan Adonan&#039;&#039;&#039; Campurkan tepung ketan, kelapa parut, dan garam dalam wadah. Perciki dengan sedikit air. Aduk rata menggunakan tangan dengan teknik &amp;quot;diawur-awur&amp;quot; (diaduk ringan hingga berbutir lembap, jangan diuleni sampai kalis padat). Adonan harus tetap berurai namun menyatu jika dikepal.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pengisian&#039;&#039;&lt;br /&gt;
#* Masukkan sedikit adonan ketan-kelapa ke dalam corong daun pandan (sebagai dasar).&lt;br /&gt;
#* Beri isian gula merah sisir di tengahnya.&lt;br /&gt;
#* Tutup kembali dengan adonan ketan-kelapa hingga penuh.&lt;br /&gt;
#* Lipat sisa daun pandan ke bawah untuk menutup rapat bagian atas kue. Sematkan lidi atau tusuk gigi untuk mengunci bungkusan.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pengukusan:&#039;&#039;&#039; Panaskan dandang kukusan hingga air mendidih bergolak. Susun Koyabu di dalamnya (beri jarak agar uap merata). Kukus selama 20–30 menit hingga matang tanak.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penyajian:&#039;&#039;&#039; Angkat dan dinginkan. Koyabu lebih nikmat disantap saat hangat ketika gula merah di dalamnya masih lumer, namun tetap lezat saat dingin karena teksturnya menjadi lebih kenyal (set).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* RRI Manado. (2025). &#039;&#039;Resep Kukis Koyabu Khas Manado Enak&#039;&#039;. Radio Republik Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Perpustakaan Digital Budaya Indonesia. (2017). &#039;&#039;Koyabu: Jajanan Tradisional Khas Manado&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
* Pamantung, R., et al. (2023). &#039;&#039;Revitalization of Minahasan Culture Through Vocabulary of Traditional Food Names&#039;&#039;. Jurnal Ilmiah Global Education, 4(1), 20-27. (Jurnal akademik yang membahas Koyabu sebagai kosakata budaya kuliner Minahasa).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Kue Tradisional]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Jajanan Pasar]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Olahan Ketan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Manado]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Minahasa]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sulawesi Utara]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Koyabu&amp;diff=3871</id>
		<title>Koyabu</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Koyabu&amp;diff=3871"/>
		<updated>2026-02-09T17:19:25Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Koyabu&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; adalah kue basah tradisional khas masyarakat Manado dan Minahasa di Sulawesi Utara. Identitas utama kue ini terletak pada kemasannya yang unik dibungkus dengan daun pandan besar yang dilipat menyerupai limas segitiga. Aroma pandan yang meresap kuat ke dalam adonan menjadi ciri khas yang tak tergantikan.  Berbeda dengan Lemet di Jawa yang berbahan dasar singkong dan dibungkus daun pisang, Koyabu Manado umumnya menggunakan bahan das...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Koyabu&#039;&#039;&#039; adalah kue basah tradisional khas masyarakat [[Manado]] dan [[Minahasa]] di [[Sulawesi Utara]]. Identitas utama kue ini terletak pada kemasannya yang unik dibungkus dengan daun [[pandan]] besar yang dilipat menyerupai limas segitiga. Aroma pandan yang meresap kuat ke dalam adonan menjadi ciri khas yang tak tergantikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbeda dengan [[Lemet]] di Jawa yang berbahan dasar [[singkong]] dan dibungkus daun pisang, Koyabu Manado umumnya menggunakan bahan dasar [[Tepung Ketan]] putih yang dicampur dengan [[kelapa]] parut. Di dalamnya tersembunyi gula merah yang akan meleleh saat dikukus, menciptakan kejutan rasa manis di setiap gigitan. Kue ini adalah teman setia bagi warga Manado saat menikmati kopi pagi (&#039;&#039;smokol&#039;&#039;) atau teh sore.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Filosofi: Segitiga Pandan ==&lt;br /&gt;
Bentuk segitiga atau kerucut pada bungkusan Koyabu bukan sekadar estetika. Dalam budaya kuliner Nusantara, bentuk yang mengerucut ke atas (seperti tumpeng) sering dimaknai sebagai simbol hubungan vertikal dengan Tuhan (keilahian) dan harapan yang tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aspek paling pragmatis dan jenius dari Koyabu adalah penggunaan daun pandan sebagai pembungkus sekaligus pewangi alami (&#039;&#039;natural perfuming&#039;&#039;). Daun pandan menjaga kelembapan kue agar tidak kering saat dikukus, sekaligus mentransfer aroma wangi yang menenangkan. Masyarakat Minahasa percaya bahwa kue yang wangi akan mengundang selera dan kebahagiaan bagi siapa saja yang menyantapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Karakteristik Rasa ==&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Aroma&#039;&#039;&#039; adalah kekuatan utamanya. Wangi daun pandan yang terkena uap panas sangat dominan, menutupi aroma tepung atau amis telur.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Tekstur&#039;&#039;&#039; Bagian luarnya kenyal dan lengket khas ketan, namun bertekstur kasar  karena campuran kelapa parut yang melimpah.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Rasa&#039;&#039;&#039; Gurih kelapa yang asin-sedap berpadu kontras dengan lelehan gula merah yang manis legit di bagian tengah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bahan dan Proses Pembuatan ==&lt;br /&gt;
Pembuatan Koyabu membutuhkan keterampilan tangan khusus dalam melipat daun pandan agar rapat dan tidak bocor saat gula mencair.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Bahan Utama ===&lt;br /&gt;
* 250 gram [[Tepung Ketan]] Putih.&lt;br /&gt;
* 200 gram Kelapa Parut (pilih yang setengah tua/mengkal, kupas kulit arinya agar putih bersih).&lt;br /&gt;
* 150 gram [[Gula Merah]] / Gula [[Aren]] (sisir halus untuk isian).&lt;br /&gt;
* 1/2 sdt Garam.&lt;br /&gt;
* Air secukupnya (untuk membasahi adonan).&lt;br /&gt;
* Daun Pandan yang lebar dan panjang (bersihkan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Langkah Pengolahan ===&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Persiapan Daun&#039;&#039;&#039; Pilih daun pandan yang lebar. Potong bagian pangkal yang keras. Lipat bagian ujung daun membentuk corong atau limas segitiga yang rapat di bagian bawahnya. Kunci lipatan ini agar tidak lepas. Ini tahap tersulit; jika bocor, gula merah akan tumpah mengotori kukusan.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pembuatan Adonan&#039;&#039;&#039; Campurkan tepung ketan, kelapa parut, dan garam dalam wadah. Perciki dengan sedikit air. Aduk rata menggunakan tangan dengan teknik &amp;quot;diawur-awur&amp;quot; (diaduk ringan hingga berbutir lembap, jangan diuleni sampai kalis padat). Adonan harus tetap berurai namun menyatu jika dikepal.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pengisian&#039;&#039;&lt;br /&gt;
#* Masukkan sedikit adonan ketan-kelapa ke dalam corong daun pandan (sebagai dasar).&lt;br /&gt;
#* Beri isian gula merah sisir di tengahnya.&lt;br /&gt;
#* Tutup kembali dengan adonan ketan-kelapa hingga penuh.&lt;br /&gt;
#* Lipat sisa daun pandan ke bawah untuk menutup rapat bagian atas kue. Sematkan lidi atau tusuk gigi untuk mengunci bungkusan.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pengukusan:&#039;&#039;&#039; Panaskan dandang kukusan hingga air mendidih bergolak. Susun Koyabu di dalamnya (beri jarak agar uap merata). Kukus selama 20–30 menit hingga matang tanak.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penyajian:&#039;&#039;&#039; Angkat dan dinginkan. Koyabu lebih nikmat disantap saat hangat ketika gula merah di dalamnya masih lumer, namun tetap lezat saat dingin karena teksturnya menjadi lebih kenyal (set).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* RRI Manado. (2024). &#039;&#039;[https://rri.co.id/manado/kuliner/821943/koyabu-kue-tradisional-manado-dengan-aroma-pandan-khas Koyabu, Kue Tradisional Manado dengan Aroma Pandan Khas]&#039;&#039;. Radio Republik Indonesia.&lt;br /&gt;
* iNews Sulut. (2023). &#039;&#039;[https://sulut.inews.id/berita/resep-kue-koyabu-khas-manado-manis-dan-gurih-bikin-ketagihan Resep Kue Koyabu Khas Manado]&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
* Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara. (2024). &#039;&#039;Ragam Kuliner Minahasa: Warisan Rasa dari Utara&#039;&#039;. Manado.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Kue Tradisional]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Jajanan Pasar]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Olahan Ketan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Manado]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Minahasa]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sulawesi Utara]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Onyop&amp;diff=3864</id>
		<title>Onyop</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Onyop&amp;diff=3864"/>
		<updated>2026-02-09T16:57:46Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Onyop&#039;&#039;&#039; adalah hidangan pokok tradisional berbahan dasar [[sagu]] (&#039;&#039;Metroxylon sagu&#039;&#039;) yang menjadi identitas kuliner masyarakat [[Luwuk]], Kabupaten [[Banggai]], [[Sulawesi Tengah]]. Sekilas, tampilannya menyerupai [[Papeda]] dari Maluku, [[Sinonggi]] dari Kendari, atau [[Kapurung]] dari Palopo. Namun, Onyop memiliki karakter penyajian yang berbeda, yakni disandingkan dengan kuah ikan asam yang sangat segar dan irisan jeruk nipis yang dominan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Luwuk Banggai, Onyop bukan sekadar makanan selingan, melainkan makanan pokok pengganti nasi. Hidangan ini sangat populer sebagai menu makan siang karena sifatnya yang menyegarkan dan memicu keringat, cocok dengan iklim pesisir Banggai yang panas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Filosofi dan Cara Makan ==&lt;br /&gt;
Bagi masyarakat Luwuk, menikmati Onyop adalah seni &amp;quot;melucur&amp;quot;. Tekstur sagu yang licin dan lengket seperti lem menuntut teknik makan yang spesifik: tidak boleh dikunyah. Onyop harus disendok (atau digulung dengan sumpit/garpu), dicelupkan ke kuah asam pedas, lalu langsung ditelan (&#039;&#039;slurp&#039;&#039;).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sensasi &amp;quot;kaget&amp;quot; saat bola sagu panas meluncur di tenggorokan, disusul dengan kuah ikan yang asam-pedas, dianggap sebagai kenikmatan tertinggi. Makanan ini juga menyimbolkan ketergantungan masyarakat Banggai terhadap dua sumber daya alam utama mereka: pohon sagu di daratan dan ikan di lautan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Karakteristik Rasa ==&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Tekstur Sagu:&#039;&#039;&#039; Bening transparan, sangat lengket (viskositas tinggi), dan kenyal. Sagu yang baik harus matang sempurna (tidak ada bintik putih) agar tidak menyebabkan sakit perut.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Rasa Kuah (The Soul):&#039;&#039;&#039; Berbeda dengan Kapurung yang sering dicampur sayuran dan kacang, kuah Onyop murni menonjolkan rasa &#039;&#039;&#039;Asam Segar&#039;&#039;&#039; (dari jeruk nipis/lemon cui atau belimbing wuluh) dan gurih kaldu ikan. Rasa asam ini berfungsi menetralkan rasa tawar pada sagu.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Aroma:&#039;&#039;&#039; Wangi sagu yang &#039;&#039;earthy&#039;&#039; berpadu dengan aroma amis segar ikan laut dan daun kemangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bahan dan Proses Pembuatan ==&lt;br /&gt;
Pembuatan Onyop terdiri dari dua tahap terpisah: mengolah sagu (menjadi ongol-ongol) dan memasak kuah ikan (biasanya [[Ikan Kuah Asam]]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== 1. Membuat Kuah Ikan Asam ===&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Bahan:&#039;&#039;&#039; 1 ekor Ikan segar (Bubara, Kakap Merah, atau Baronang), Jeruk Nipis/Lemon Cui (jumlah banyak), Cabai Rawit, [[Bawang Merah]], [[Kunyit]] (bakar/haluskan), Serai, dan Daun Kemangi.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Cara Membuat:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*# Rebus air hingga mendidih. Masukkan bumbu iris (bawang, serai, kunyit).&lt;br /&gt;
*# Masukkan potongan ikan. Masak hingga ikan berubah warna.&lt;br /&gt;
*# Tambahkan air perasan jeruk nipis/lemon cui dalam jumlah yang cukup banyak (kuah harus terasa asam kuat).&lt;br /&gt;
*# Masukkan cabai rawit utuh dan garam. Sesaat sebelum diangkat, masukkan daun kemangi. Kuah harus cair dan bening (tidak bersantan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== 2. Membuat Onyop (Adonan Sagu) ===&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Bahan:&#039;&#039;&#039; Tepung Sagu tani (kualitas baik, bersih dari ampas), Air matang dingin, dan Air mendidih.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Teknik Penyiraman (Scalding):&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*# Dalam wadah tahan panas, larutkan tepung sagu dengan sedikit air dingin. Aduk rata hingga menjadi cairan susu encer. Langkah ini wajib agar sagu tidak menggumpal saat disiram air panas.&lt;br /&gt;
*# Siapkan air yang &#039;&#039;&#039;benar-benar mendidih&#039;&#039;&#039; (bergejolak). Tuangkan air mendidih tersebut ke dalam larutan sagu secara perlahan sambil &#039;&#039;&#039;diaduk cepat&#039;&#039;&#039; dan konstan.&lt;br /&gt;
*# Terus aduk hingga warna sagu berubah dari putih&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Penyajian ===&lt;br /&gt;
Siapkan mangkuk. Ambil segumpal Onyop menggunakan sumpit/garpu dengan gerakan memutar (menggulung). Letakkan di mangkuk. Siram dengan kuah ikan asam panas beserta potongan ikannya. Tambahkan sambal terpisah jika kurang pedas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah. (2024). &#039;&#039;Kuliner Khas Banggai: Onyop dan Keunikan Rasanya&#039;&#039;. Palu.&lt;br /&gt;
* RRI Tolitoli. (2025). &#039;&#039;[https://rri.co.id/tolitoli/kuliner/1587210/onyop-makanan-khas-luwuk-banggai-yang-menggugah-selera Onyop, Makanan Khas Luwuk Banggai yang Menggugah Selera]&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
* Tribun Palu. (2023). &#039;&#039;[https://palu.tribunnews.com/2023/08/21/wisata-kuliner-sulteng-mencicipi-onyop-kuliner-khas-banggai-bersaudara-papeda-dan-sinonggi Mencicipi Onyop, Saudara Papeda di Banggai]&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Makanan Tradisional]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Makanan Pokok]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Olahan Sagu]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sup]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Luwuk]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Banggai]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sulawesi Tengah]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Onyop&amp;diff=3863</id>
		<title>Onyop</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Onyop&amp;diff=3863"/>
		<updated>2026-02-09T16:55:51Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Onyop&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; adalah hidangan pokok tradisional berbahan dasar sagu (&amp;#039;&amp;#039;Metroxylon sagu&amp;#039;&amp;#039;) yang menjadi identitas kuliner masyarakat Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Sekilas, tampilannya menyerupai Papeda dari Maluku, Sinonggi dari Kendari, atau Kapurung dari Palopo. Namun, Onyop memiliki karakter penyajian yang berbeda, yakni disandingkan dengan kuah ikan asam yang sangat segar dan irisan jeruk nipis yang dominan.  Di Luwuk Banggai...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Onyop&#039;&#039;&#039; adalah hidangan pokok tradisional berbahan dasar [[sagu]] (&#039;&#039;Metroxylon sagu&#039;&#039;) yang menjadi identitas kuliner masyarakat [[Luwuk]], Kabupaten [[Banggai]], [[Sulawesi Tengah]]. Sekilas, tampilannya menyerupai [[Papeda]] dari Maluku, [[Sinonggi]] dari Kendari, atau [[Kapurung]] dari Palopo. Namun, Onyop memiliki karakter penyajian yang berbeda, yakni disandingkan dengan kuah ikan asam yang sangat segar dan irisan jeruk nipis yang dominan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Luwuk Banggai, Onyop bukan sekadar makanan selingan, melainkan makanan pokok pengganti nasi. Hidangan ini sangat populer sebagai menu makan siang karena sifatnya yang menyegarkan dan memicu keringat, cocok dengan iklim pesisir Banggai yang panas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Filosofi dan Cara Makan ==&lt;br /&gt;
Bagi masyarakat Luwuk, menikmati Onyop adalah seni &amp;quot;melucur&amp;quot;. Tekstur sagu yang licin dan lengket seperti lem menuntut teknik makan yang spesifik: tidak boleh dikunyah. Onyop harus disendok (atau digulung dengan sumpit/garpu), dicelupkan ke kuah asam pedas, lalu langsung ditelan (&#039;&#039;slurp&#039;&#039;).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sensasi &amp;quot;kaget&amp;quot; saat bola sagu panas meluncur di tenggorokan, disusul dengan kuah ikan yang asam-pedas, dianggap sebagai kenikmatan tertinggi. Makanan ini juga menyimbolkan ketergantungan masyarakat Banggai terhadap dua sumber daya alam utama mereka: pohon sagu di daratan dan ikan di lautan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Karakteristik Rasa ==&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Tekstur Sagu:&#039;&#039;&#039; Bening transparan, sangat lengket (viskositas tinggi), dan kenyal. Sagu yang baik harus matang sempurna (tidak ada bintik putih) agar tidak menyebabkan sakit perut.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Rasa Kuah (The Soul):&#039;&#039;&#039; Berbeda dengan Kapurung yang sering dicampur sayuran dan kacang, kuah Onyop murni menonjolkan rasa &#039;&#039;&#039;Asam Segar&#039;&#039;&#039; (dari jeruk nipis/lemon cui atau belimbing wuluh) dan gurih kaldu ikan. Rasa asam ini berfungsi menetralkan rasa tawar pada sagu.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Aroma:&#039;&#039;&#039; Wangi sagu yang &#039;&#039;earthy&#039;&#039; berpadu dengan aroma amis segar ikan laut dan daun kemangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bahan dan Proses Pembuatan ==&lt;br /&gt;
Pembuatan Onyop terdiri dari dua tahap terpisah: mengolah sagu (menjadi ongol-ongol) dan memasak kuah ikan (biasanya [[Ikan Kuah Asam]]).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== 1. Membuat Kuah Ikan Asam ===&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Bahan:&#039;&#039;&#039; 1 ekor Ikan segar (Bubara, Kakap Merah, atau Baronang), Jeruk Nipis/Lemon Cui (jumlah banyak), Cabai Rawit, [[Bawang Merah]], [[Kunyit]] (bakar/haluskan), Serai, dan Daun Kemangi.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Cara Membuat:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*# Rebus air hingga mendidih. Masukkan bumbu iris (bawang, serai, kunyit).&lt;br /&gt;
*# Masukkan potongan ikan. Masak hingga ikan berubah warna.&lt;br /&gt;
*# Tambahkan air perasan jeruk nipis/lemon cui dalam jumlah yang cukup banyak (kuah harus terasa asam kuat).&lt;br /&gt;
*# Masukkan cabai rawit utuh dan garam. Sesaat sebelum diangkat, masukkan daun kemangi. Kuah harus cair dan bening (tidak bersantan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== 2. Membuat Onyop (Adonan Sagu) ===&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Bahan:&#039;&#039;&#039; Tepung Sagu tani (kualitas baik, bersih dari ampas), Air matang dingin, dan Air mendidih.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Teknik Penyiraman (Scalding):&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*# &#039;&#039;&#039;Pelarutan:&#039;&#039;&#039; Dalam wadah tahan panas, larutkan tepung sagu dengan sedikit air dingin. Aduk rata hingga menjadi cairan susu encer. Langkah ini wajib agar sagu tidak menggumpal saat disiram air panas.&lt;br /&gt;
*# &#039;&#039;&#039;Pematangan:&#039;&#039;&#039; Siapkan air yang &#039;&#039;&#039;benar-benar mendidih&#039;&#039;&#039; (bergejolak). Tuangkan air mendidih tersebut ke dalam larutan sagu secara perlahan sambil &#039;&#039;&#039;diaduk cepat&#039;&#039;&#039; dan konstan.&lt;br /&gt;
*# &#039;&#039;&#039;Perubahan Wujud:&#039;&#039;&#039; Terus aduk hingga warna sagu berubah dari putih&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Utti_Manurung&amp;diff=3860</id>
		<title>Utti Manurung</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Utti_Manurung&amp;diff=3860"/>
		<updated>2026-02-09T16:40:34Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Utti Manurung&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;  atau &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Unti Manurung&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; adalah kultivar pisang lokal yang secara taksonomi nasional dikenal sebagai &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Pisang Kepok&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;. Utti manurung adalah salah satu kultivar pisang dari kelompok kultivar ABB. Pisang ini termasuk kelompok pisang olah karena tinggi kandungan patinya. Meskipun secara biologis sama dengan pisang kepok di Jawa, dalam kosmologi masyarakat Sulawesi Selatan, Utti Manurung memiliki stratifikasi sosial yang jauh lebih tinggi.  Pis...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Utti Manurung&#039;&#039;&#039;  atau &#039;&#039;&#039;Unti Manurung&#039;&#039;&#039; adalah kultivar pisang lokal yang secara taksonomi nasional dikenal sebagai &#039;&#039;&#039;Pisang Kepok&#039;&#039;&#039;. Utti manurung adalah salah satu kultivar pisang dari kelompok kultivar ABB. Pisang ini termasuk kelompok pisang olah karena tinggi kandungan patinya. Meskipun secara biologis sama dengan pisang kepok di Jawa, dalam kosmologi masyarakat Sulawesi Selatan, Utti Manurung memiliki stratifikasi sosial yang jauh lebih tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pisang ini dianggap sebagai &amp;quot;induk&amp;quot; dari segala pisang di tanah Bugis. Ia tidak hanya dikonsumsi sebagai buah meja, melainkan menjadi bahan baku mutlak dan tidak tergantikan untuk berbagai hidangan adat, terutama kue [[Barongko]] yang filosofis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Etimologi dan Mitologi ==&lt;br /&gt;
Nama &#039;&#039;Utti&#039;&#039; berarti pisang, dan &#039;&#039;Manurung&#039;&#039; berarti &amp;quot;yang turun&amp;quot; (dari langit/dunia atas). Penggunaan kata &amp;quot;Manurung&amp;quot; menghubungkan buah ini dengan konsep &#039;&#039;&#039;To Manurung&#039;&#039;&#039;—sosok manusia suci/dewa dalam mitologi Bugis yang turun ke bumi untuk menjadi pemimpin pertama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penamaan ini menyiratkan bahwa Utti Manurung bukan sekadar tanaman budidaya biasa, melainkan &amp;quot;anugerah&amp;quot; yang diturunkan untuk kelangsungan hidup. Karena label &amp;quot;Manurung&amp;quot; inilah, pisang jenis ini kerap dijadikan simbol doa dalam hantaran pernikahan (&#039;&#039;Erang-erang&#039;&#039;). Kehadirannya menyimbolkan harapan agar kehidupan rumah tangga pengantin memiliki derajat yang mulia dan senantiasa tumbuh (beranak-pinak) seperti tunas pisang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Karakteristik Fisik ==&lt;br /&gt;
Utti Manurung (khususnya varian kuning) memiliki ciri fisik yang membedakannya dari pisang buah (seperti Ambon atau Cavendish):&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Bentuk:&#039;&#039;&#039; Buah cenderung gemuk, pendek, dan bersegi (gepeng/tidak bulat sempurna).&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Kulit:&#039;&#039;&#039; Sangat tebal dan liat. Kulit tebal ini melindunginya dari kerusakan fisik, yang secara filosofis sering dikaitkan dengan &amp;quot;benteng diri&amp;quot; atau harga diri yang kuat.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Daging Buah:&#039;&#039;&#039; Berwarna kuning kemerahan (krem) hingga oranye saat matang. Teksturnya padat, kenyal, dan tidak lembek/berair, sehingga sangat ideal untuk diolah melalui pemanasan (kukus atau goreng).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Peran Vital dalam Kuliner Adat ==&lt;br /&gt;
Dalam dapur tradisional Bugis-Makassar, Utti Manurung adalah raja. Hampir seluruh kue tradisional berbasis pisang mewajibkan penggunaan jenis ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Barongko:&#039;&#039;&#039; Kue bangsawan ini &#039;&#039;&#039;wajib&#039;&#039;&#039; menggunakan Utti Manurung yang sudah sangat matang. Penggunaan pisang jenis lain (seperti pisang raja atau ambon) dianggap &amp;quot;merusak&amp;quot; identitas dan rasa Barongko. Filosofi Barongko (kejujuran) diambil dari sifat Utti Manurung: dibungkus dengan daunnya sendiri, yang menandakan kesatuan antara &amp;quot;kulit dan isi&amp;quot; (apa yang tampak di luar sama dengan yang di dalam).&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Sanggara&#039; Peppe&#039;:&#039;&#039;&#039; Pisang goreng geprek khas Makassar ini hanya bisa dibuat menggunakan Utti Manurung muda (mengkal). Tekstur patinya yang tinggi membuat pisang ini renyah saat digoreng dan tidak hancur saat digeprek (di-peppe&#039;).&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;[[Pallu Butung]]:&#039;&#039;&#039; Hidangan pisang berkuah santan ini juga mengandalkan kelembutan tekstur Utti Manurung yang matang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Selatan. (2023). &#039;&#039;Keragaman Sumber Daya Genetik Pisang Lokal Sulawesi Selatan&#039;&#039;. Kementerian Pertanian.&lt;br /&gt;
* Klik Hijau. (2022). &#039;&#039;[https://klikhijau.com/nuansa-ekologi-pisang-manurung-dengan-4-varian-olahannya-khas-makassar/ Nuansa Ekologi Pisang Manurung]&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
* RRI. (2024). &#039;&#039;[https://rri.co.id/kuliner/532786/barongko-kue-khas-bugis-makassar-dengan-filosofi-nilai-siri-hingga-kejujuran Filosofi Barongko dan Utti Manurung]&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Bahan Pangan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Buah-buahan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Flora Sulawesi]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Simbol Adat]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Bugis]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Makassar]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Bale_Kandia&amp;diff=3856</id>
		<title>Bale Kandia</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Bale_Kandia&amp;diff=3856"/>
		<updated>2026-02-09T16:33:08Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Bale Kandia&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; (nama lokal dalam bahasa Bugis) atau dikenal secara nasional sebagai &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Ikan Tawes&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; (&amp;#039;&amp;#039;Barbonymus gonionotus&amp;#039;&amp;#039;), adalah spesies ikan air tawar yang memegang peranan vital dalam ekosistem pangan masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya di wilayah yang memiliki bentangan perairan darat (danau dan sungai) seperti Wajo, Soppeng, dan Bone.  Berbeda dengan persepsi di Pulau Jawa yang menempatkannya sebagai ikan budidaya kolam biasa...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Bale Kandia&#039;&#039;&#039; (nama lokal dalam bahasa [[Bugis]]) atau dikenal secara nasional sebagai &#039;&#039;&#039;Ikan Tawes&#039;&#039;&#039; (&#039;&#039;Barbonymus gonionotus&#039;&#039;), adalah spesies ikan air tawar yang memegang peranan vital dalam ekosistem pangan masyarakat [[Sulawesi Selatan]], khususnya di wilayah yang memiliki bentangan perairan darat (danau dan sungai) seperti [[Wajo]], [[Soppeng]], dan [[Bone]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbeda dengan persepsi di Pulau Jawa yang menempatkannya sebagai ikan budidaya kolam biasa, di Sulawesi Selatan, Bale Kandia yang tangkapan alam dari [[Danau Tempe]] atau [[Danau Sidenreng]] dianggap sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi. Ikan ini menjadi sumber protein utama bagi masyarakat non-pesisir laut dan merupakan bahan baku tak tergantikan untuk beberapa hidangan adat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Karakteristik Biologis dan Fisik ==&lt;br /&gt;
Bale Kandia termasuk dalam famili &#039;&#039;Cyprinidae&#039;&#039; (kerabat ikan mas). Secara fisik, ia mudah dikenali di pasar-pasar tradisional Sulawesi Selatan dengan ciri-ciri:&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Warna:&#039;&#039;&#039; Tubuh didominasi sisik berwarna perak mengkilap (&#039;&#039;Silver Barb&#039;&#039;) dengan punggung sedikit gelap (abu-abu kehijauan).&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Bentuk Tubuh:&#039;&#039;&#039; Pipih melebar ke atas (&#039;&#039;compressed&#039;&#039;) dengan punggung yang agak meninggi. Kepala relatif kecil dengan moncong yang agak runcing.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Daging:&#039;&#039;&#039; Memiliki daging berwarna putih bersih dengan tekstur yang sangat halus, namun memiliki banyak duri halus (&#039;&#039;intermuscular bones&#039;&#039;) berbentuk huruf Y di dalam dagingnya. Keberadaan duri inilah yang membuat teknik pengolahannya menuntut keahlian khusus (seperti dicincang halus atau dipresto).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Habitat dan Distribusi ==&lt;br /&gt;
Di Sulawesi Selatan, Bale Kandia bukan hanya ikan peliharaan empang, melainkan penghuni asli perairan umum. Populasi terbesarnya ditemukan di:&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Danau [[Tempe]] (Wajo):&#039;&#039;&#039; Di sini, Bale Kandia berkembang biak secara alami mengikuti siklus pasang surut danau. Ikan hasil tangkapan alam ini diklaim memiliki rasa yang lebih manis dan tanah (&#039;&#039;earthy&#039;&#039;) yang lebih sedikit dibandingkan ikan tambak.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Sungai Walanae:&#039;&#039;&#039; Sebagai jalur migrasi ikan air tawar di semenanjung selatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pemanfaatan Kuliner dan Sosial ==&lt;br /&gt;
Dalam peta kuliner Bugis, Bale Kandia bukan sekadar lauk goreng. Ia memiliki fungsi spesifik sebagai bahan baku hidangan premium:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Bahan Baku [[Lawa]]&#039;:&#039;&#039;&#039; Ini adalah penggunaan paling prestisius dari Bale Kandia. Dagingnya yang putih dan manis dinilai paling cocok untuk diolah menjadi [[Lawa&#039;]], yakni daging ikan mentah yang &amp;quot;dimatangkan&amp;quot; menggunakan asam cuka atau jeruk nipis dan dicampur [[kelapa]] sangrai. Masyarakat Wajo sangat selektif; Lawa&#039; yang otentik harus menggunakan Bale Kandia, bukan ikan lain.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Bale Rakka&#039; ([[Ikan Kering]]/Asin):&#039;&#039;&#039; Saat musim panen raya di Danau Tempe, kelebihan tangkapan Bale Kandia diawetkan dengan cara dibelah punggung (&#039;&#039;butterfly cut&#039;&#039;), digarami, dan dijemur hingga kering. Bale Rakka&#039; Kandia menjadi komoditas perdagangan antar-kabupaten.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Bale Bungo:&#039;&#039;&#039; Ikan Kandia kecil sering kali diolah menjadi ikan asap atau ikan panggang jepit bambu yang dijajakan di pinggir jalan poros Bone-Makassar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Balai Riset Perikanan Perairan Umum. (2024). &#039;&#039;Dinamika Populasi Ikan Tawes (Barbonymus gonionotus) di Danau Tempe&#039;&#039;. Palembang: Kementerian Kelautan dan Perikanan.&lt;br /&gt;
* Pemerintah Kabupaten Wajo. (2023). &#039;&#039;Potensi Perikanan Darat Danau Tempe: Ikan Kandia sebagai Primadona&#039;&#039;. Website Resmi Pemkab Wajo.&lt;br /&gt;
* WikiPangan. (2025). &#039;&#039;[https://wikipangan.id/wiki/Lawa&#039;_Bale Lawa&#039; Bale: Seni Mengolah Ikan Mentah Bugis]&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Bahan Pangan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Ikan Air Tawar]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Fauna Sulawesi]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Wajo]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Bone]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Soppeng]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Bingka&amp;diff=3853</id>
		<title>Bingka</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Bingka&amp;diff=3853"/>
		<updated>2026-02-09T16:25:37Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Bingka&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; adalah jenis kue basah tradisional yang terbuat dari campuran tepung terigu, telur, santan, dan gula yang dipanggang. Meskipun memiliki nama yang sama dengan Bingka Banjar dari Kalimantan Selatan, Bingka khas Bugis-Makassar memiliki profil tekstur dan komposisi bahan yang sedikit berbeda.  Di Sulawesi Selatan, kue ini menempati posisi istimewa sebagai kue &amp;quot;kaum ningrat&amp;quot; pada masanya karena penggunaan bahan-bahan yang dianggap mewah (telur...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Bingka&#039;&#039;&#039; adalah jenis kue basah tradisional yang terbuat dari campuran tepung terigu, telur, santan, dan gula yang dipanggang. Meskipun memiliki nama yang sama dengan [[Bingka Banjar]] dari Kalimantan Selatan, Bingka khas [[Bugis]]-[[Makassar]] memiliki profil tekstur dan komposisi bahan yang sedikit berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Sulawesi Selatan, kue ini menempati posisi istimewa sebagai kue &amp;quot;kaum ningrat&amp;quot; pada masanya karena penggunaan bahan-bahan yang dianggap mewah (telur itik dan gula pasir). Kini, Bingka menjadi salah satu isi wajib dalam [[Bosara]] baki hantaran pada upacara pernikahan adat atau disajikan sebagai takjil premium saat bulan Ramadan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Filosofi: Simbol Kemuliaan Warna Kuning ==&lt;br /&gt;
Dalam kosmologi masyarakat Bugis, warna kuning (&#039;&#039;idi&#039;&#039;) adalah warna sakral yang melambangkan kemuliaan, keceriaan, dan status sosial yang tinggi. Oleh karena itu, Bingka khas Sulawesi Selatan umumnya dibuat menggunakan &#039;&#039;&#039;Telur Itik&#039;&#039;&#039; ([[bebek]]) dalam jumlah banyak untuk menghasilkan warna kuning alami yang pekat dan berkilau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teksturnya yang padat namun lembut saat digigit menyimbolkan harapan akan kehidupan yang &amp;quot;berisi&amp;quot; (sejahtera) dan harmonis. Kehadirannya di meja tamu bukan sekadar pengganjal perut, melainkan penghormatan tuan rumah kepada tamunya melalui sajian yang kaya rasa (&#039;&#039;rich&#039;&#039;).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Karakteristik Rasa ==&lt;br /&gt;
Bingka Bugis-Makassar menawarkan sensasi rasa yang sangat &amp;quot;tebal&amp;quot;:&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Visual:&#039;&#039;&#039; Permukaan atas berwarna cokelat keemasan (&#039;&#039;golden brown&#039;&#039;) akibat karamelisasi saat pemanggangan, dengan bagian dalam berwarna kuning cerah.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Tekstur:&#039;&#039;&#039; Berbeda dengan bolu yang berongga (&#039;&#039;spongy&#039;&#039;), Bingka memiliki tekstur yang padat, masif, namun lumer di mulut (&#039;&#039;custardy&#039;&#039;). Ia basah dan berminyak karena kandungan santan kental.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Rasa:&#039;&#039;&#039; Dominasi rasa manis legit yang beradu dengan gurihnya santan dan kekayaan rasa kuning telur itik. Tidak ada rasa amis jika pengolahannya benar (biasanya dinetralkan dengan [[vanili]] atau daun pandan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bahan dan Proses Pembuatan ==&lt;br /&gt;
Rahasia kelezatan Bingka Sulawesi terletak pada kualitas santan (harus santan dari [[kelapa]] tua) dan penggunaan telur itik segar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Bahan Utama ===&lt;br /&gt;
* 5 butir [[Telur Itik]] (bisa diganti [[telur ayam]], tapi warna dan kekenyalan akan berbeda).&lt;br /&gt;
* 250 gram Gula Pasir.&lt;br /&gt;
* 300 ml [[Santan]] kental (&#039;&#039;Pati Santan&#039;&#039;).&lt;br /&gt;
* 200 gram [[Tepung Terigu]] protein sedang.&lt;br /&gt;
* 1/2 sdt Garam.&lt;br /&gt;
* 1/2 sdt Vanili bubuk (untuk pengharum).&lt;br /&gt;
* Daun Pandan (untuk merebus santan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Langkah Pengolahan ===&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Persiapan Santan:&#039;&#039;&#039; Rebus santan kental bersama daun pandan dan garam di atas api kecil. Aduk terus agar santan tidak pecah. Masak hingga mendidih dan sedikit berminyak. Angkat dan biarkan hingga benar-benar dingin. &#039;&#039;Catatan: Penggunaan santan matang membuat kue lebih awet dan gurih.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pencampuran (Mixing):&#039;&#039;&#039; Dalam wadah, kocok telur dan gula pasir. Tidak perlu menggunakan mikser kecepatan tinggi hingga mengembang kaku (&#039;&#039;stiff peak&#039;&#039;), cukup diaduk (&#039;&#039;whisk&#039;&#039;) hingga gula larut sepenuhnya dan telur agak berbuih. Jika terlalu mengembang, Bingka akan berongga seperti bolu, padahal tekstur yang dicari adalah padat.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penyatuan Bahan:&#039;&#039;&#039; Masukkan tepung terigu dan vanili sedikit demi sedikit sambil diaduk rata. Tuangkan santan yang sudah dingin secara perlahan. Aduk hingga adonan licin dan tidak ada gumpalan (bisa disaring jika perlu).&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pemanggangan:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
#* Panaskan cetakan Bingka (biasanya berbentuk bunga atau loyang bulat biasa) yang telah diolesi minyak/margarin di dalam oven panas (suhu 180°C).&lt;br /&gt;
#* Tuang adonan ke dalam cetakan panas (akan terdengar bunyi mendesis pelan, ini membantu membentuk kulit luar yang bagus).&lt;br /&gt;
#* Panggang selama 45-60 menit hingga permukaan atasnya berwarna kecokelatan dan kue matang sempurna (lakukan tes tusuk).&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penyajian:&#039;&#039;&#039; Keluarkan dari oven. Biarkan dingin dalam loyang sebelum dipotong. Bingka akan memadat (set) saat suhu turun. Potong-potong dan sajikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan. (2024). &#039;&#039;Inventarisasi Kue Tradisional Bugis-Makassar&#039;&#039;. Makassar: Kemendikbud.&lt;br /&gt;
* RRI Makassar. (2025). &#039;&#039;[https://rri.co.id/makassar/kuliner/1029384/bingka-bugis-si-manis-kuning-yang-menggoda Bingka Bugis: Si Manis Kuning yang Menggoda]&#039;&#039;. Radio Republik Indonesia.&lt;br /&gt;
* Dinas Pariwisata Sulawesi Selatan. (2024). &#039;&#039;[https://disbudpar.sulselprov.go.id/kuliner/kue-bingka Ragam Kue Basah Andalan Bosara]&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Kue Tradisional]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Kue Basah]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Bugis]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Makassar]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sulawesi Selatan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Makanan Ritual]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Settung&amp;diff=3852</id>
		<title>Settung</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Settung&amp;diff=3852"/>
		<updated>2026-02-09T16:17:47Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Settung.jpg|jmpl|348x348px|Buah Settung (foto: Katakerja)]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Settung&#039;&#039;&#039; (dalam bahasa [[Bugis]]) atau dikenal secara nasional sebagai &#039;&#039;&#039;Kecapi&#039;&#039;&#039; atau &#039;&#039;&#039;Sentul&#039;&#039;&#039; (&#039;&#039;Sandoricum koetjape&#039;&#039;), adalah jenis tanaman buah tropis tahunan yang tumbuh di wilayah Asia Tenggara, termasuk di [[Sulawesi Selatan]]. Buah ini memiliki karakteristik kulit yang tebal, keras, dan berbulu halus seperti beludru, dengan daging buah berwarna putih yang menyerupai kapas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Sulawesi Selatan, Settung bukan sekadar tanaman pekarangan, melainkan bahan pangan musiman yang memiliki nilai nostalgia kuat. Ia kerap diolah menjadi berbagai hidangan tradisional, mulai dari manisan hingga pelengkap sambal ([[Sambala&#039; Settung]]). Namun, seiring dengan alih fungsi lahan dan masuknya buah-buahan impor, keberadaan pohon Settung di pemukiman warga kini semakin langka dan termasuk kategori &#039;&#039;underutilized fruit&#039;&#039; atau buah yang mulai terlupakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Karakteristik Botani dan Fisik ==&lt;br /&gt;
Settung adalah pohon rimbun yang dapat tumbuh hingga ketinggian 30 meter, menjadikannya pohon peneduh yang ideal di halaman rumah tradisional Bugis-Makassar di masa lampau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Buah:&#039;&#039;&#039; Berbentuk bulat pipih dengan diameter 5–7 cm. Saat matang, kulitnya berwarna kuning kecokelatan atau emas pudar.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Kulit (Pericarp):&#039;&#039;&#039; Sangat tebal, liat, dan mengandung getah putih (lateks) saat masih muda. Bagian dalam kulit yang tebal ini sebenarnya bisa dimakan (&#039;&#039;edible&#039;&#039;) jika diolah dengan benar, memiliki tekstur renyah dan rasa sepat-asam.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Daging Buah (Aril):&#039;&#039;&#039; Menempel erat pada biji (sulit dilepas), berwarna putih, bertekstur lunak seperti busa/kapas, dengan rasa yang bervariasi dari masam hingga manis segar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Akar Sosial dan Memori Kolektif ==&lt;br /&gt;
Dalam antropologi kuliner masyarakat Sulawesi, Settung memiliki tempat unik karena &amp;quot;tingkat kesulitan&amp;quot; untuk menikmatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Tradisi &amp;quot;Jepit Pintu&amp;quot; ===&lt;br /&gt;
Salah satu memori kolektif yang paling melekat pada generasi tua di Sulawesi Selatan adalah cara membuka buah Settung. Karena kulitnya yang sangat keras dan liat (sulit dikupas dengan tangan kosong atau pisau tumpul), buah ini sering kali dibuka dengan cara **dijepitkan pada engsel pintu**. Tekanan dari pintu akan meretakkan kulit buah tanpa menghancurkan daging di dalamnya. Praktik ini melahirkan ungkapan lokal tentang &amp;quot;usaha keras&amp;quot; untuk mendapatkan hasil yang manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pemanfaatan Lokal ===&lt;br /&gt;
Masyarakat Bugis dan Makassar mempraktikkan konsep &#039;&#039;zero waste&#039;&#039; (tanpa limbah) pada buah ini jauh sebelum istilah tersebut populer:&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Sebagai Buah Meja:&#039;&#039;&#039; Daging bijinya diemut/dihisap untuk rasa manis-asam.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Sebagai Sayur/Lauk:&#039;&#039;&#039; Kulit bagian dalamnya yang tebal tidak dibuang, melainkan dicacah, direndam air garam untuk menghilangkan getah, lalu dijadikan bahan utama sambal (&#039;&#039;Pecce&#039;&#039; atau &#039;&#039;Sambala&#039;&#039;&#039;) atau ditumis. Rasa sepat kulit Settung dipercaya ampuh menetralkan rasa amis ikan dan lemak daging.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Kayu:&#039;&#039;&#039; Batang pohon Settung yang tua dan keras juga kerap dimanfaatkan sebagai bahan bangunan atau perabotan rumah tangga di pedesaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. (2018). &#039;&#039;Karakteristik Morfologi dan Potensi Kecapi (Sandoricum koetjape)&#039;&#039;. Kementerian Pertanian.&lt;br /&gt;
* Dinas Ketahanan Pangan Sulawesi Selatan. (2024). &#039;&#039;[[Pangan Lokal]] yang Terlupakan: Potensi Gizi Buah Settung&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
* Jurnal Etnobotani Indonesia. (2020). &#039;&#039;Pemanfaatan Tumbuhan Pekarangan oleh Masyarakat Bugis di Kabupaten Bone&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Bahan Pangan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Buah-buahan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Flora Sulawesi]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Bugis]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Makassar]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Pangan Lokal]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Settung.jpg&amp;diff=3851</id>
		<title>Berkas:Settung.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Settung.jpg&amp;diff=3851"/>
		<updated>2026-02-09T16:17:06Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;ini adalah foto settung&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Settung&amp;diff=3848</id>
		<title>Settung</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Settung&amp;diff=3848"/>
		<updated>2026-02-09T16:15:53Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Settung&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; (dalam bahasa Bugis) atau dikenal secara nasional sebagai &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Kecapi&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; atau &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Sentul&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; (&amp;#039;&amp;#039;Sandoricum koetjape&amp;#039;&amp;#039;), adalah jenis tanaman buah tropis tahunan yang tumbuh di wilayah Asia Tenggara, termasuk di Sulawesi Selatan. Buah ini memiliki karakteristik kulit yang tebal, keras, dan berbulu halus seperti beludru, dengan daging buah berwarna putih yang menyerupai kapas.  Di Sulawesi Selatan, Settung bukan sekadar tanaman pekarangan, melaink...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Settung&#039;&#039;&#039; (dalam bahasa [[Bugis]]) atau dikenal secara nasional sebagai &#039;&#039;&#039;Kecapi&#039;&#039;&#039; atau &#039;&#039;&#039;Sentul&#039;&#039;&#039; (&#039;&#039;Sandoricum koetjape&#039;&#039;), adalah jenis tanaman buah tropis tahunan yang tumbuh di wilayah Asia Tenggara, termasuk di [[Sulawesi Selatan]]. Buah ini memiliki karakteristik kulit yang tebal, keras, dan berbulu halus seperti beludru, dengan daging buah berwarna putih yang menyerupai kapas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Sulawesi Selatan, Settung bukan sekadar tanaman pekarangan, melainkan bahan pangan musiman yang memiliki nilai nostalgia kuat. Ia kerap diolah menjadi berbagai hidangan tradisional, mulai dari manisan hingga pelengkap sambal ([[Sambala&#039; Settung]]). Namun, seiring dengan alih fungsi lahan dan masuknya buah-buahan impor, keberadaan pohon Settung di pemukiman warga kini semakin langka dan termasuk kategori &#039;&#039;underutilized fruit&#039;&#039; atau buah yang mulai terlupakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Karakteristik Botani dan Fisik ==&lt;br /&gt;
Settung adalah pohon rimbun yang dapat tumbuh hingga ketinggian 30 meter, menjadikannya pohon peneduh yang ideal di halaman rumah tradisional Bugis-Makassar di masa lampau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Buah:&#039;&#039;&#039; Berbentuk bulat pipih dengan diameter 5–7 cm. Saat matang, kulitnya berwarna kuning kecokelatan atau emas pudar.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Kulit (Pericarp):&#039;&#039;&#039; Sangat tebal, liat, dan mengandung getah putih (lateks) saat masih muda. Bagian dalam kulit yang tebal ini sebenarnya bisa dimakan (&#039;&#039;edible&#039;&#039;) jika diolah dengan benar, memiliki tekstur renyah dan rasa sepat-asam.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Daging Buah (Aril):&#039;&#039;&#039; Menempel erat pada biji (sulit dilepas), berwarna putih, bertekstur lunak seperti busa/kapas, dengan rasa yang bervariasi dari masam hingga manis segar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Akar Sosial dan Memori Kolektif ==&lt;br /&gt;
Dalam antropologi kuliner masyarakat Sulawesi, Settung memiliki tempat unik karena &amp;quot;tingkat kesulitan&amp;quot; untuk menikmatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Tradisi &amp;quot;Jepit Pintu&amp;quot; ===&lt;br /&gt;
Salah satu memori kolektif yang paling melekat pada generasi tua di Sulawesi Selatan adalah cara membuka buah Settung. Karena kulitnya yang sangat keras dan liat (sulit dikupas dengan tangan kosong atau pisau tumpul), buah ini sering kali dibuka dengan cara **dijepitkan pada engsel pintu**. Tekanan dari pintu akan meretakkan kulit buah tanpa menghancurkan daging di dalamnya. Praktik ini melahirkan ungkapan lokal tentang &amp;quot;usaha keras&amp;quot; untuk mendapatkan hasil yang manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pemanfaatan Lokal ===&lt;br /&gt;
Masyarakat Bugis dan Makassar mempraktikkan konsep &#039;&#039;zero waste&#039;&#039; (tanpa limbah) pada buah ini jauh sebelum istilah tersebut populer:&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Sebagai Buah Meja:&#039;&#039;&#039; Daging bijinya diemut/dihisap untuk rasa manis-asam.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Sebagai Sayur/Lauk:&#039;&#039;&#039; Kulit bagian dalamnya yang tebal tidak dibuang, melainkan dicacah, direndam air garam untuk menghilangkan getah, lalu dijadikan bahan utama sambal (&#039;&#039;Pecce&#039;&#039; atau &#039;&#039;Sambala&#039;&#039;&#039;) atau ditumis. Rasa sepat kulit Settung dipercaya ampuh menetralkan rasa amis ikan dan lemak daging.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Kayu:&#039;&#039;&#039; Batang pohon Settung yang tua dan keras juga kerap dimanfaatkan sebagai bahan bangunan atau perabotan rumah tangga di pedesaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. (2018). &#039;&#039;Karakteristik Morfologi dan Potensi Kecapi (Sandoricum koetjape)&#039;&#039;. Kementerian Pertanian.&lt;br /&gt;
* Dinas Ketahanan Pangan Sulawesi Selatan. (2024). &#039;&#039;[[Pangan Lokal]] yang Terlupakan: Potensi Gizi Buah Settung&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
* Jurnal Etnobotani Indonesia. (2020). &#039;&#039;Pemanfaatan Tumbuhan Pekarangan oleh Masyarakat Bugis di Kabupaten Bone&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Bahan Pangan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Buah-buahan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Flora Sulawesi]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Bugis]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Makassar]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Pangan Lokal]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Se%27ro-se%27ro&amp;diff=3757</id>
		<title>Se&#039;ro-se&#039;ro</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Se%27ro-se%27ro&amp;diff=3757"/>
		<updated>2026-02-07T11:58:04Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Sero&amp;#039;-sero\&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; (atau &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Kue Sero&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;) adalah kue kering tradisional khas masyarakat Bugis dan Makassar di Sulawesi Selatan. Kue ini terbuat dari adonan tepung beras, santan, dan gula yang dicetak menggunakan cetakan besi panas berbentuk bunga atau roda, lalu digoreng dalam minyak banyak (&amp;#039;&amp;#039;deep fry&amp;#039;&amp;#039;).  Meski secara visual sangat mirip dengan Kembang Goyang di Jawa, Sero&amp;#039;-sero&amp;#039; memiliki kedudukan yang lebih sakral dalam budaya lokal. Ia bukan s...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Sero&#039;-sero\&#039;&#039;&#039;&#039; (atau &#039;&#039;&#039;Kue Sero&#039;&#039;&#039;) adalah kue kering tradisional khas masyarakat [[Bugis]] dan [[Makassar]] di [[Sulawesi Selatan]]. Kue ini terbuat dari adonan tepung [[beras]], santan, dan gula yang dicetak menggunakan cetakan besi panas berbentuk bunga atau roda, lalu digoreng dalam minyak banyak (&#039;&#039;deep fry&#039;&#039;).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski secara visual sangat mirip dengan [[Kembang Goyang]] di Jawa, Sero&#039;-sero&#039; memiliki kedudukan yang lebih sakral dalam budaya lokal. Ia bukan sekadar camilan toples saat Lebaran, melainkan salah satu elemen wajib dalam hantaran pernikahan (&#039;&#039;Erang-erang&#039;&#039; atau &#039;&#039;Bosara&#039;&#039;) yang membawa pesan simbolis tentang rezeki dan tanggung jawab rumah tangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Filosofi: Simbol Perangkap Rezeki ==&lt;br /&gt;
Nama &amp;quot;Sero&#039;-sero&#039;&amp;quot; diambil dari kata &#039;&#039;Sero&#039;&#039; yang berarti alat perangkap ikan tradisional (biasanya terbuat dari bilah bambu yang ditancapkan di laut). Bentuk kue yang berongga-rongga dan saling jalin-menjalin dimaknai sebagai metafora dari jaring perangkap tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam konteks pernikahan, kehadiran kue ini adalah doa agar pasangan pengantin memiliki kemampuan untuk &amp;quot;memerangkap&amp;quot; rezeki yang halal dan melimpah, sebagaimana nelayan menangkap ikan dengan sero. Selain itu, teksturnya yang rapuh namun menyatu menyimbolkan saling ketergantungan dan kerja sama suami-istri; jika satu bagian patah, struktur lainnya akan terpengaruh, sehingga harus dijaga dengan kehati-hatian (kelembutan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Karakteristik Sensoris ==&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Tekstur:&#039;&#039;&#039; Sangat renyah (&#039;&#039;crispy&#039;&#039;) dan ringan. Sero&#039;-sero&#039; yang baik tidak keras saat digigit, melainkan renyah berderai.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Rasa:&#039;&#039;&#039; Manis yang moderat dengan dominasi rasa gurih dari santan kental dan aroma wangi dari tepung beras yang digoreng.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Visual:&#039;&#039;&#039; Umumnya berwarna kuning keemasan. Bentuknya simetris seperti bunga atau roda dengan lubang-lubang artistik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bahan dan Proses Pembuatan ==&lt;br /&gt;
Rahasia kerenyahan Sero&#039;-sero&#039; terletak pada penggunaan &#039;&#039;&#039;Tepung Beras&#039;&#039;&#039; (bukan terigu) dan konsistensi santan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Bahan Utama ===&lt;br /&gt;
* 500 gram [[Tepung Beras]] kualitas baik (sebaiknya disangrai sebentar agar kue lebih renyah).&lt;br /&gt;
* 200 gram Gula Pasir (sesuai selera).&lt;br /&gt;
* 3 butir Telur Ayam (kocok lepas).&lt;br /&gt;
* 400 ml [[Santan]] kental (dari 1 butir [[kelapa]] tua).&lt;br /&gt;
* 1/2 sdt Garam.&lt;br /&gt;
* Minyak Goreng dalam jumlah banyak.&lt;br /&gt;
* Wijen (opsional, untuk taburan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Langkah Pengolahan ===&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pembuatan Adonan:&#039;&#039;&#039; Kocok telur dan gula hingga gula larut (tidak perlu sampai mengembang kaku). Masukkan santan dan garam, aduk rata. Masukkan tepung beras sedikit demi sedikit sambil diaduk agar tidak bergerindil. Konsistensi adonan harus encer namun tetap bisa menempel (seperti adonan [[dadar]] gulung). Tambahkan wijen jika suka.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pemanasan Cetakan (Teknik Kunci):&#039;&#039;&#039; Panaskan minyak dalam wajan cekung. Rendam cetakan besi Sero&#039;-sero&#039; ke dalam minyak panas. Cetakan harus &#039;&#039;&#039;sangat panas&#039;&#039;&#039; sebelum dicelup ke adonan. Jika cetakan kurang panas, adonan tidak akan menempel. Jika terlalu panas, adonan akan matang duluan di mangkuk.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pencetakan:&#039;&#039;&#039; Angkat cetakan panas, celupkan ke dalam adonan (jangan sampai tenggelam penuh sampai atas cetakan, cukup 3/4 tinggi cetakan agar kue bisa lepas).&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penggorengan:&#039;&#039;&#039; Segera masukkan cetakan berisi adonan ke dalam minyak panas. Diamkan beberapa detik hingga adonan agak kokoh, lalu goyang-goyangkan (&#039;&#039;shake&#039;&#039;) cetakan hingga kue terlepas sendiri.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pematangan:&#039;&#039;&#039; Goreng dengan api sedang hingga berwarna kuning keemasan. Balik sesekali agar matang merata. Angkat dan tiriskan dengan posisi berdiri agar minyak turun tuntas.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penyimpanan:&#039;&#039;&#039; Tunggu hingga benar-benar dingin sebelum dimasukkan ke toples kedap udara agar tetap renyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Budaya Indonesia. (2026). &#039;&#039;[https://budaya-indonesia.org/Kue-Sero-Sero-Makassar-Sulawesi-Selatan Kue Sero&#039;-sero&#039;: Simbol Doa dalam Pernikahan Bugis]&#039;&#039;. Perpustakaan Digital Budaya Indonesia.&lt;br /&gt;
* RRI Makassar. (2024). &#039;&#039;[https://rri.co.id/makassar/kuliner/961577/kue-tradisional-bugis-makassar-melambangkan-doa-dan-harapan Kue Tradisional Bugis Makassar Melambangkan Doa dan Harapan]&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
* Detik Sulsel. (2024). &#039;&#039;[https://www.detik.com/sulsel/kuliner/d-7519802/10-kue-kering-khas-makassar-yang-miliki-cita-rasa-manis-legit-yuk-dicoba Se&#039;ro-se&#039;ro: Menu Wajib Hantaran Pengantin]&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Kue Tradisional]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Kue Kering]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Makanan Ritual]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Bugis]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Makassar]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sulawesi Selatan]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Bale_Tapa&amp;diff=3753</id>
		<title>Bale Tapa</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Bale_Tapa&amp;diff=3753"/>
		<updated>2026-02-07T11:31:00Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:WhatsApp Image 2026-02-07 at 19.27.47.jpg|jmpl|404x404px|Bale Tapa (foto: Katakerja)]]&lt;br /&gt;
Bale Tapa adalah olahan ikan asap yang menjadi salah satu lauk pauk khas yang mudah dijumpai di Latellang, Sulawesi Selatan. Proses pengasapannya memberikan aroma khas dan rasa gurih yang kuat, sehingga hidangan ini dikenal memiliki cita rasa yang enak dan disukai banyak keluarga. Bahan dasarnya yang sederhana, serta teknik pengolahannya yang turun-temurun menjadikan Bale Tapa sebagai pilihan praktis dalam menu sehari-hari, terutama ketika masyarakat membutuhkan hidangan yang tahan lama namun tetap lezat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai makanan pendamping, Bale Tapa biasanya disajikan bersama nasi hangat dan pelengkap lain yang tersedia di rumah. Tekstur ikan asap yang lembut dengan sentuhan rasa smoky mencerminkan kekayaan kuliner Latellang yang memanfaatkan metode pengawetan tradisional untuk menjaga kualitas bahan pangan. Hidangan ini bukan hanya menghadirkan kelezatan, tetapi juga menunjukkan cara masyarakat Sulawesi Selatan mempertahankan tradisi memasak sederhana yang penuh cita rasa dan identitas lokal.&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sulawesi Selatan]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:WhatsApp_Image_2026-02-07_at_19.27.47.jpg&amp;diff=3752</id>
		<title>Berkas:WhatsApp Image 2026-02-07 at 19.27.47.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:WhatsApp_Image_2026-02-07_at_19.27.47.jpg&amp;diff=3752"/>
		<updated>2026-02-07T11:30:23Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;jj&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Taripang&amp;diff=3741</id>
		<title>Taripang</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Taripang&amp;diff=3741"/>
		<updated>2026-02-07T10:41:20Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: menambahkan penjelasan filosofis tentang nama kue tersebut.&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Taripang.jpeg|jmpl|al=Taripang khas Bugis|Taripang khas Bugis]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Taripang&#039;&#039;&#039; adalah penganan khas bugis makassar terbuat dari ketan hitam atau ketan putih dicampur dengan parutan [[kelapa]] muda dan sedikit garam kemudian dikukus dan dilumeri dengan [[Gula Merah|gula merah]] yang telah dicairkan, penganan ini mengandung karbohidrat. Dalam masyarakat Bugis penganan ini juga biasa disebut &#039;&#039;&#039;Sawella&#039;&#039;&#039; atau &#039;&#039;&#039;Ulekule.&#039;&#039;&#039; Penyebutan Sawella berasal dari kata &#039;&#039;mawella&#039;&#039; yang berarti banyak. sebuah harapan akan rejeki yang melimpah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;Cara Pembuatan&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
Bahan baku &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* 250 gram [[Tepung Ketan|tepung ketan]]&lt;br /&gt;
* 200 ml santan kental dari kelapa parut&lt;br /&gt;
* 200 gram [[Gula Merah|gula merah]], serut halus&lt;br /&gt;
* 1/2 sendok teh garam&lt;br /&gt;
* Daun pisang untuk membungkus&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara pengolahan&lt;br /&gt;
# Campurkan tepung ketan, [[Gula Merah|gula merah]] serut, dan garam dalam wadah. Aduk rata hingga [[Gula Merah|gula merah]] tercampur merata di dalam adonan.&lt;br /&gt;
# Tuangkan santan sedikit demi sedikit sambil terus diaduk hingga adonan menjadi kalis dan bisa dibentuk.&lt;br /&gt;
# Ambil sejumput adonan dan bulatkan hingga menjadi bola kecil. Lakukan langkah ini hingga seluruh adonan habis.&lt;br /&gt;
# Panaskan kukusan dengan api sedang, kemudian olesi daun pisang dengan sedikit minyak goreng supaya nanti adonan tidak lengket.&lt;br /&gt;
# Letakkan bola-bola ketan di atas daun pisang yang sudah diolesi minyak, kemudian kukus selama 15-20 menit hingga matang.&lt;br /&gt;
# Setelah matang, angkat dan biarkan kue taripang [[Gula Merah|gula merah]] sedikit dingin sebelum disajikan.&amp;lt;ref&amp;gt;https://www.timenews.co.id/gaya-hidup/9959717888/makanan-tradisional-resep-dan-cara-membuat-kue-taripang-gula-merah-atau-kue-suwella-khas-bugis&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;Rujukan&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sulawesi Selatan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Olahan Pangan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Matang]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Sambala_Settung&amp;diff=3740</id>
		<title>Sambala Settung</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Sambala_Settung&amp;diff=3740"/>
		<updated>2026-02-07T10:31:37Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Sambala Settung.jpg|jmpl|Sambala Settung (foto: Katakerja)]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Sambala&#039; Settung&#039;&#039;&#039; atau &#039;&#039;&#039;Sambal Buah Kecapi&#039;&#039;&#039; adalah jenis sambal buah tradisional khas masyarakat [[Bugis]] di [[Sulawesi Selatan]], khususnya di daerah pedalaman seperti [[Soppeng]] dan [[Bone]]. Hidangan ini tergolong kuliner musiman yang langka, karena bahan utamanya—buah Settung atau Kecapi (&#039;&#039;Sandoricum koetjape&#039;&#039;)—hanya berbuah satu kali dalam setahun dan pohonnya kini semakin jarang ditemui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbeda dengan sambal mangga (&#039;&#039;Racca&#039; Pau&#039;&#039;) yang asam menyengat, Sambala&#039; Settung menawarkan spektrum rasa yang lebih rumit: perpaduan rasa asam, manis, dan sepat (&#039;&#039;astringent&#039;&#039;) yang khas, menjadikannya pendamping sempurna untuk lauk ikan bakar atau [[Ikan Kering|ikan kering]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Keseimbangan Rasa Sepat Settung ==&lt;br /&gt;
Dalam khazanah kuliner Bugis, Sambala&#039; Settung mengajarkan seni memanfaatkan alam. Buah Settung memiliki kulit yang keras dan daging yang sepat jika tidak diolah dengan benar. Masyarakat Bugis secara kreatif mengubah rasa sepat yang biasanya dihindari ini menjadi penyeimbang (&#039;&#039;palatte&#039;&#039;) bagi makanan berlemak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada anekdot budaya yang melekat pada buah ini. Karena kulitnya yang tebal dan keras, orang tua zaman dahulu sering membuka buah Settung dengan cara menjepitnya di engsel pintu (&#039;&#039;di-sipit&#039;&#039;) hingga pecah. Kerasnya usaha membuka kulit ini seolah terbayar lunas saat daging buahnya diolah menjadi sambal yang segar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Karakteristik Rasa ==&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Tekstur:&#039;&#039;&#039; Daging buah Settung yang dicacah memberikan tekstur yang renyah namun lembut (&#039;&#039;spongy&#039;&#039;), mirip busa padat yang menyerap bumbu sambal.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Rasa:&#039;&#039;&#039; Rasa sepat (kelat) dari buah Settung berfungsi menetralisir rasa amis ikan laut. Ketika bertemu dengan pedasnya cabai dan gurihnya [[terasi]] bakar, rasa sepat itu berubah menjadi sensasi gurih yang unik.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Aroma:&#039;&#039;&#039; Wangi buah kecapi yang floral dan sedikit asam sangat dominan, memberikan kesegaran aroma pada meja makan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bahan dan Proses Pembuatan ==&lt;br /&gt;
Pembuatan Sambala&#039; Settung sangat sederhana, namun membutuhkan ketelitian dalam memilih buah yang pas (mengkal atau matang pohon).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Bahan Utama ===&lt;br /&gt;
* 2 buah Settung / Kecapi (pilih yang dagingnya tebal).&lt;br /&gt;
* 10 buah Cabai Rawit (sesuai selera).&lt;br /&gt;
* 1 sdt Terasi/Balacang (bakar hingga harum).&lt;br /&gt;
* 1 sdt Garam kasar.&lt;br /&gt;
* 1 sdm [[Gula Merah]] (sisir) atau Gula Pasir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Langkah Pengolahan ===&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pengupasan Buah (Tahap Kritis):&#039;&#039;&#039; Kupas kulit luar buah Settung yang keras hingga bersih. Ambil bagian daging buahnya yang berwarna putih/kemerahan. Buang bijinya (atau sebagian orang menyukai sensasi mengisap biji yang berbalut daging kapas, namun untuk sambal biasanya hanya dagingnya yang dipakai).&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pencacahan:&#039;&#039;&#039; Cincang kasar (&#039;&#039;chopped&#039;&#039;) atau iris memanjang daging buah Settung. Sisihkan.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pembuatan Bumbu:&#039;&#039;&#039; Ulek cabai rawit, terasi bakar, garam, dan gula hingga halus.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penyet-an:&#039;&#039;&#039; Masukkan cacahan buah Settung ke dalam cobek sambal. Tekan-tekan (penyet) sedikit dengan ulekan agar sari buahnya keluar dan menyatu dengan sambal, namun jangan sampai hancur menjadi bubur.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penyajian:&#039;&#039;&#039; Aduk rata. Sambala&#039; Settung siap disajikan segera. Paling nikmat disantap bersama nasi hangat dan [[Ikan Bolu]] (Bandeng) bakar atau ikan kering.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Balai Bahasa Sulawesi Selatan. (2018). &#039;&#039;Kamus Bahasa Bugis - Indonesia&#039;&#039;. Makassar: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. &lt;br /&gt;
* Pemerintah Kabupaten Soppeng. (2024). &#039;&#039;Potensi Buah Lokal dan Kuliner Tradisional Soppeng&#039;&#039;. Website Resmi Pemkab Soppeng.&lt;br /&gt;
* Budaya Indonesia. (2020). &#039;&#039;[https://budaya-indonesia.org/Sambal-Kecapi Ragam Sambal Nusantara: Sambal Kecapi]&#039;&#039;. Perpustakaan Digital Budaya Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sambal]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Makanan Tradisional]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Bugis]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Soppeng]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Bone]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sulawesi Selatan]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Sambala_Settung.jpg&amp;diff=3739</id>
		<title>Berkas:Sambala Settung.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Sambala_Settung.jpg&amp;diff=3739"/>
		<updated>2026-02-07T10:30:04Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;sambala Settung di acara nikahan&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Putu_Kapuakang&amp;diff=3734</id>
		<title>Putu Kapuakang</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Putu_Kapuakang&amp;diff=3734"/>
		<updated>2026-02-07T07:29:10Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Foto putu.png|jmpl|291x291px|Jajanan Putu Kapuakang]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;[[Putu]] Kapuakang&#039;&#039;&#039; (atau lebih populer dikenal sebagai &#039;&#039;&#039;[[Putu Cangkir]]&#039;&#039;&#039; / &#039;&#039;&#039;Putu Cangkiri\&#039;&#039;&#039; dalam dialek [[Makassar]]) adalah kue basah tradisional yang menjadi ikon kuliner Kabupaten [[Gowa]], [[Sulawesi Selatan]]. Berbeda dengan Kue Putu Jawa yang berbentuk tabung bambu dan berbunyi uap nyaring, Putu Kapuakang memiliki bentuk unik menyerupai cangkir terbalik atau kerucut tumpul dengan dasar yang melebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Gowa, kue ini bukan sekadar jajanan pasar, melainkan &amp;quot;baterru&amp;quot; (teman sejati) bagi secangkir kopi panas di pagi hari. Keberadaannya sangat mudah ditemui di sepanjang jalan poros Gowa-Takalar, di mana uap mengepul dari dandang kukusan pedagang menjadi pemandangan khas yang menyambut fajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Filosofi dan Bentuk ==&lt;br /&gt;
Nama &amp;quot;Kapuakang&amp;quot; atau &amp;quot;Cangkir&amp;quot; merujuk pada cetakan wadahnya. Bagian bawah kue yang lebar dan bagian atas yang mengerucut melambangkan &#039;&#039;&#039;keseimbangan&#039;&#039;&#039; hidup masyarakat Gowa: fondasi yang kuat di bawah (rakyat/akar rumput) untuk menopang struktur yang lebih kecil di atasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, teksturnya yang lengket (karena penggunaan tepung ketan) sering dimaknai sebagai simbol &#039;&#039;&#039;kelekatan persaudaraan&#039;&#039;&#039; (&#039;&#039;Siri&#039; na Pacce&#039;&#039;). Masyarakat Gowa percaya bahwa menyuguhkan kue yang lengket dan manis kepada tamu akan mempererat hubungan emosional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Karakteristik Rasa ==&lt;br /&gt;
Putu Kapuakang memiliki profil yang berbeda dengan putu bambu biasa:&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Tekstur:&#039;&#039;&#039; Padat namun empuk. Penggunaan campuran [[Tepung Ketan]] membuat teksturnya lebih kenyal (&#039;&#039;chewy&#039;&#039;) dan tidak mudah hancur (berderai) saat digigit, berbeda dengan putu Jawa yang cenderung mawur.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Rasa:&#039;&#039;&#039; Manis legit yang merata. Jika putu biasa isian gula merahnya hanya di tengah, pada Putu Kapuakang, gula merah disisir halus dan diaduk rata dengan tepung, sehingga rasa manisnya terasa di setiap gigitan.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Aroma:&#039;&#039;&#039; Wangi gula [[aren]] yang terkaramelisasi oleh uap panas, berpadu dengan aroma pandan dari air kukusan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bahan dan Proses Pembuatan ==&lt;br /&gt;
Kunci kenikmatan Putu Kapuakang ada pada rasio tepung [[beras]] dan tepung ketan, serta teknik &amp;quot;Awur&amp;quot; (mengaduk tanpa meremas).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Bahan Utama ===&lt;br /&gt;
* 200 gram [[Tepung Beras]] (sebaiknya beras yang baru digiling agar wangi).&lt;br /&gt;
* 100 gram [[Tepung Ketan]] (untuk efek kenyal).&lt;br /&gt;
* 150 gram [[Gula Merah]] / [[Gula Aren]] (sisir sangat halus).&lt;br /&gt;
* 1/2 butir [[Kelapa]] (kupas kulit arinya, parut).&lt;br /&gt;
* Air dan Garam secukupnya.&lt;br /&gt;
* Daun Pandan (untuk air kukusan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Langkah Pengolahan ===&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Persiapan Bahan (Teknik Awur):&#039;&#039;&#039; Dalam wadah besar, campurkan tepung beras, tepung ketan, dan gula merah sisir. Perciki dengan air garam sedikit demi sedikit sambil diaduk menggunakan jari (di-awur).&lt;br /&gt;
#* &#039;&#039;Catatan Kritis:&#039;&#039; Jangan menguleni adonan seperti adonan roti. Cukup diaduk ringan hingga berbutir-butir lembap (seperti pasir basah). Jika diremas, kue akan menjadi keras/bantat.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penyaringan:&#039;&#039;&#039; Saring adonan berbutir tersebut menggunakan ayakan kawat kasar. Tujuannya agar butiran tepung menjadi halus dan seragam, sehingga kue matang merata dan empuk.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pengisian Cetakan:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
#* Ambil cetakan (biasanya berupa corong kecil atau cangkir logam/tempurung kelapa kecil).&lt;br /&gt;
#* Masukkan sedikit kelapa parut di dasar cetakan (ini akan menjadi &amp;quot;toping&amp;quot; putih saat kue dibalik).&lt;br /&gt;
#* Masukkan adonan tepung hingga penuh. Ratakan permukaannya, jangan ditekan terlalu padat agar uap bisa menembus.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pengukusan:&#039;&#039;&#039; Siapkan dandang khusus (biasanya memiliki lubang-lubang uap yang pas dengan ukuran cetakan). Letakkan cetakan di atas lubang uap. Kukus selama 2-3 menit saja hingga kue menyatu dan matang.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penyajian:&#039;&#039;&#039; Angkat cetakan, balikkan kue ke atas daun pisang. Sajikan selagi panas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Dinas Pariwisata Gowa. (2024). &#039;&#039;[https://tourisme.gowakab.go.id/kuliner/putu-cangkir Putu Cangkir: Warisan Manis dari Butta Bersejarah]&#039;&#039;. Website Resmi Pemkab Gowa.&lt;br /&gt;
* Celebes ID. (2023). &#039;&#039;[https://celebes.id/kuliner/resep-putu-cangkir-khas-makassar/ Filosofi dan Resep Putu Cangkiri Khas Makassar]&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
* Fimela. (2022). &#039;&#039;[https://www.fimela.com/food/read/4956781/resep-kue-putu-cangkir-khas-makassar Resep Kue Putu Cangkir Khas Makassar yang Lembut]&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Jajanan Pasar]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Kue Tradisional]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Olahan Beras]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Gowa]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sulawesi Selatan]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Foto_putu.png&amp;diff=3733</id>
		<title>Berkas:Foto putu.png</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Foto_putu.png&amp;diff=3733"/>
		<updated>2026-02-07T07:28:22Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Putu Kapuakang&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Putu_Kapuakang&amp;diff=3731</id>
		<title>Putu Kapuakang</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Putu_Kapuakang&amp;diff=3731"/>
		<updated>2026-02-07T07:24:17Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;[[Putu]] Kapuakang&#039;&#039;&#039; (atau lebih populer dikenal sebagai &#039;&#039;&#039;[[Putu Cangkir]]&#039;&#039;&#039; / &#039;&#039;&#039;Putu Cangkiri\&#039;&#039;&#039; dalam dialek [[Makassar]]) adalah kue basah tradisional yang menjadi ikon kuliner Kabupaten [[Gowa]], [[Sulawesi Selatan]]. Berbeda dengan Kue Putu Jawa yang berbentuk tabung bambu dan berbunyi uap nyaring, Putu Kapuakang memiliki bentuk unik menyerupai cangkir terbalik atau kerucut tumpul dengan dasar yang melebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Gowa, kue ini bukan sekadar jajanan pasar, melainkan &amp;quot;baterru&amp;quot; (teman sejati) bagi secangkir kopi panas di pagi hari. Keberadaannya sangat mudah ditemui di sepanjang jalan poros Gowa-Takalar, di mana uap mengepul dari dandang kukusan pedagang menjadi pemandangan khas yang menyambut fajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Filosofi dan Bentuk ==&lt;br /&gt;
Nama &amp;quot;Kapuakang&amp;quot; atau &amp;quot;Cangkir&amp;quot; merujuk pada cetakan wadahnya. Bagian bawah kue yang lebar dan bagian atas yang mengerucut melambangkan &#039;&#039;&#039;keseimbangan&#039;&#039;&#039; hidup masyarakat Gowa: fondasi yang kuat di bawah (rakyat/akar rumput) untuk menopang struktur yang lebih kecil di atasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, teksturnya yang lengket (karena penggunaan tepung ketan) sering dimaknai sebagai simbol &#039;&#039;&#039;kelekatan persaudaraan&#039;&#039;&#039; (&#039;&#039;Siri&#039; na Pacce&#039;&#039;). Masyarakat Gowa percaya bahwa menyuguhkan kue yang lengket dan manis kepada tamu akan mempererat hubungan emosional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Karakteristik Sensoris ==&lt;br /&gt;
Putu Kapuakang memiliki profil yang berbeda dengan putu bambu biasa:&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Tekstur:&#039;&#039;&#039; Padat namun empuk. Penggunaan campuran [[Tepung Ketan]] membuat teksturnya lebih kenyal (&#039;&#039;chewy&#039;&#039;) dan tidak mudah hancur (berderai) saat digigit, berbeda dengan putu Jawa yang cenderung mawur.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Rasa:&#039;&#039;&#039; Manis legit yang merata. Jika putu biasa isian gula merahnya hanya di tengah, pada Putu Kapuakang, gula merah disisir halus dan diaduk rata dengan tepung, sehingga rasa manisnya terasa di setiap gigitan.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Aroma:&#039;&#039;&#039; Wangi gula [[aren]] yang terkaramelisasi oleh uap panas, berpadu dengan aroma pandan dari air kukusan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bahan dan Proses Pembuatan ==&lt;br /&gt;
Kunci kenikmatan Putu Kapuakang ada pada rasio tepung [[beras]] dan tepung ketan, serta teknik &amp;quot;Awur&amp;quot; (mengaduk tanpa meremas).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Bahan Utama ===&lt;br /&gt;
* 200 gram [[Tepung Beras]] (sebaiknya beras yang baru digiling agar wangi).&lt;br /&gt;
* 100 gram [[Tepung Ketan]] (untuk efek kenyal).&lt;br /&gt;
* 150 gram [[Gula Merah]] / [[Gula Aren]] (sisir sangat halus).&lt;br /&gt;
* 1/2 butir [[Kelapa]] (kupas kulit arinya, parut).&lt;br /&gt;
* Air dan Garam secukupnya.&lt;br /&gt;
* Daun Pandan (untuk air kukusan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Langkah Pengolahan ===&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Persiapan Bahan (Teknik Awur):&#039;&#039;&#039; Dalam wadah besar, campurkan tepung beras, tepung ketan, dan gula merah sisir. Perciki dengan air garam sedikit demi sedikit sambil diaduk menggunakan jari (di-awur).&lt;br /&gt;
#* &#039;&#039;Catatan Kritis:&#039;&#039; Jangan menguleni adonan seperti adonan roti. Cukup diaduk ringan hingga berbutir-butir lembap (seperti pasir basah). Jika diremas, kue akan menjadi keras/bantat.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penyaringan:&#039;&#039;&#039; Saring adonan berbutir tersebut menggunakan ayakan kawat kasar. Tujuannya agar butiran tepung menjadi halus dan seragam, sehingga kue matang merata dan empuk.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pengisian Cetakan:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
#* Ambil cetakan (biasanya berupa corong kecil atau cangkir logam/tempurung kelapa kecil).&lt;br /&gt;
#* Masukkan sedikit kelapa parut di dasar cetakan (ini akan menjadi &amp;quot;toping&amp;quot; putih saat kue dibalik).&lt;br /&gt;
#* Masukkan adonan tepung hingga penuh. Ratakan permukaannya, jangan ditekan terlalu padat agar uap bisa menembus.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pengukusan:&#039;&#039;&#039; Siapkan dandang khusus (biasanya memiliki lubang-lubang uap yang pas dengan ukuran cetakan). Letakkan cetakan di atas lubang uap. Kukus selama 2-3 menit saja hingga kue menyatu dan matang.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penyajian:&#039;&#039;&#039; Angkat cetakan, balikkan kue ke atas daun pisang. Sajikan selagi panas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Dinas Pariwisata Gowa. (2024). &#039;&#039;[https://tourisme.gowakab.go.id/kuliner/putu-cangkir Putu Cangkir: Warisan Manis dari Butta Bersejarah]&#039;&#039;. Website Resmi Pemkab Gowa.&lt;br /&gt;
* Celebes ID. (2023). &#039;&#039;[https://celebes.id/kuliner/resep-putu-cangkir-khas-makassar/ Filosofi dan Resep Putu Cangkiri Khas Makassar]&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
* Fimela. (2022). &#039;&#039;[https://www.fimela.com/food/read/4956781/resep-kue-putu-cangkir-khas-makassar Resep Kue Putu Cangkir Khas Makassar yang Lembut]&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Jajanan Pasar]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Kue Tradisional]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Olahan Beras]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Gowa]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sulawesi Selatan]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Bandang&amp;diff=3730</id>
		<title>Bandang</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Bandang&amp;diff=3730"/>
		<updated>2026-02-07T07:21:36Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Bandang Asli.jpg|jmpl|382x382px|Kue Bandang dalam acara nikahan]]&lt;br /&gt;
Bandang yang juga dikenal sebagai &#039;&#039;[[bandang-bandang]]&#039;&#039;, &#039;&#039;[[Doko-doko Utti|doko-doko utti]]&#039;&#039;, atau [[nagasari]], merupakan kue tradisional yang banyak dijumpai di Sulawesi Selatan. Di Desa Pusungnge, wilayah DAS Walanae bagian tengah–hilir, bandang dikenal sebagai makanan selingan yang biasa dinikmati di sela aktivitas harian. Kue ini terbuat dari tepung [[beras]], santan, dan gula, dengan isian pisang yang dibungkus daun pisang lalu dikukus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kue bandang memiliki rasa manis dan legit yang khas, serta tekstur yang lembut dan lengket. Aromanya yang harum dan menggoda membuat kue ini menjadi favorit banyak orang. Kue bandang telah ada sejak zaman dahulu dan merupakan bagian penting dari budaya Bugis. Kue ini sering disajikan pada acara-acara adat, seperti pernikahan, ulang tahun, dan syukuran. Kue bandang juga menjadi simbol keramahan dan rasa syukur masyarakat Bugis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seiring berjalannya waktu, muncul beberapa variasi kue bandang dengan bahan dasar yang berbeda. Selain pisang, kue bandang juga bisa dibuat dari ubi jalar, labu kuning, dan bahkan [[singkong]]. Ada pula variasi kue bandang yang menambahkan rasa dan aroma, seperti pandan, vanila, dan coklat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kue bandang kaya akan karbohidrat dan serat yang baik untuk kesehatan pencernaan. Selain itu, kue ini juga mengandung vitamin dan mineral yang penting bagi tubuh. Kue bandang memiliki rasa dan tekstur yang unik dan berbeda dengan kue tradisional lainnya. Perpaduan rasa manis dan legit, serta tekstur yang lembut dan lengket, membuat kue ini digemari banyak orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bahan Dasar ==&lt;br /&gt;
Jenis pisang yang sering digunakan untuk kue bandang adalah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Pisang kepok: Pisang ini memiliki tekstur yang padat dan rasa yang manis legit. Pisang kepok yang matang sempurna akan menghasilkan kue bandang yang lembut dan beraroma harum.&lt;br /&gt;
* Pisang raja: Pisang ini memiliki tekstur yang lebih lunak dan rasa yang manis. Pisang raja yang matang akan menghasilkan kue bandang yang lebih lengket dan beraroma harum.&lt;br /&gt;
* Pisang nangka: Pisang ini memiliki tekstur yang lebih kasar dan rasa yang sedikit asam. Pisang nangka yang matang akan menghasilkan kue bandang yang memiliki rasa yang lebih unik dan tekstur yang lebih padat.&lt;br /&gt;
* Pisang tanduk: Pisang ini memiliki rasa yang manis dan sedikit asam. Pisang tanduk yang matang akan menghasilkan kue bandang yang memiliki tekstur yang lebih padat dan rasa yang lebih unik.&lt;br /&gt;
* Pisang ambon: Pisang ini memiliki rasa yang manis dan aroma yang harum. Pisang ambon yang matang akan menghasilkan kue bandang yang memiliki tekstur yang lembut dan aroma yang harum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara Membuat dan Menikmati&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membuat kue bandang relatif mudah dan tidak membutuhkan waktu lama. Bahan-bahannya pun mudah didapatkan di pasar tradisional maupun supermarket.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bahan lainnya ==&lt;br /&gt;
12 sendok makan kanji &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4 liter tepung beras baru &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4 sendok makan Garam &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3 gelas gula pasir &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3 liter santan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pisang secukupnya (Potong 1 buah pisang menjadi 4 bagian) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa lembar daun pisang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Rujukan ==&lt;br /&gt;
__PAKSADAFTARISI__&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sulawesi Selatan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Olahan Pangan]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Bandang_Asli.jpg&amp;diff=3729</id>
		<title>Berkas:Bandang Asli.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Bandang_Asli.jpg&amp;diff=3729"/>
		<updated>2026-02-07T07:16:47Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Bandang di Pesta nikahan&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Bale_Buta&amp;diff=3728</id>
		<title>Bale Buta</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Bale_Buta&amp;diff=3728"/>
		<updated>2026-02-07T07:12:20Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Bale Buta.jpg|jmpl|359x359px|Bale Buta di acara nikahan]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Bale Buta&#039;&#039;&#039; secara harfiah berarti &amp;quot;Ikan Buta&amp;quot; dalam bahasa [[Bugis]] atau sering juga dikenal dengan nama &#039;&#039;&#039;Tompi-tompi&#039;&#039;&#039;, adalah kudapan lauk tradisional khas masyarakat Bugis di [[Sulawesi Selatan]]. Makanan ini sejatinya adalah olahan daging ikan yang disuwir atau ditumbuk halus, dicampur dengan [[kelapa]] sangrai dan rempah, lalu dibentuk segitiga atau jajar genjang dan digoreng.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbeda dengan [[Otak-otak]] yang dibungkus daun, Bale Buta tampak dengan kulit luar yang garing kecokelatan. Kehadirannya sangat lekat dengan ritual daur hidup; ia adalah menu wajib dalam baki hantaran atau sering disebut &#039;&#039;Bosara&#039;&#039; pada acara [[Aqiqah]], [[Khatam Al-Qur&#039;an]], hingga resepsi pernikahan adat Bugis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Filosofi dan Etimologi ==&lt;br /&gt;
Penamaan &amp;quot;Bale Buta&amp;quot; menyimpan makna metaforis yang jenaka. Dalam bahasa Bugis, &#039;&#039;Bale&#039;&#039; berarti ikan dan &#039;&#039;Buta&#039;&#039; berarti buta. Dinamakan demikian karena dalam penyajiannya, wujud asli ikan termasuk mata dan kepalanya sudah tidak terlihat lagi—telah &amp;quot;dibutakan&amp;quot; atau disembunyikan dalam bentuk adonan geometris yang rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bentuknya yang sering kali segitiga atau menyerupai atap rumah (limas pipih) juga sering dimaknai sebagai simbol perlindungan dan keseimbangan dalam rumah tangga (jika disajikan saat pernikahan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Karakteristik Rasa ==&lt;br /&gt;
Bale Buta menawarkan sensasi makan ikan tanpa &amp;quot;gangguan&amp;quot; duri:&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Tekstur:&#039;&#039;&#039; Bagian luarnya renyah karena proses penggorengan &#039;&#039;deep fry&#039;&#039;, sementara bagian dalamnya padat namun lembut, mirip perkedel namun lebih berserat daging.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Rasa:&#039;&#039;&#039; Dominasi rasa gurih dari ikan laut segar berpadu dengan manis-gurih dari kelapa sangrai dan aroma bawang putih yang kuat.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Aroma:&#039;&#039;&#039; Wangi rempah goreng yang menyengat, bebas dari bau amis karena penggunaan rempah peredam seperti merica dan bawang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bahan dan Proses Pembuatan ==&lt;br /&gt;
Kunci kenikmatan Bale Buta terletak pada rasio daging ikan dan kelapa, serta teknik pembentukan yang padat agar tidak ambyar saat digoreng.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Bahan Utama ===&lt;br /&gt;
* 500 gram Daging Ikan (biasanya [[Ikan Cakalang]], [[Ikan Tuna]], atau [[Ikan Bandeng]] yang sudah dikukus dan dibuang durinya).&lt;br /&gt;
* 1/2 butir Kelapa setengah tua (parut, lalu sangrai sebentar hingga wangi/kering).&lt;br /&gt;
* 1 butir Telur Ayam (sebagai pengikat/perekat).&lt;br /&gt;
* Minyak Goreng secukupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Bumbu Halus ===&lt;br /&gt;
* 5 siung [[Bawang Merah]].&lt;br /&gt;
* 3 siung Bawang Putih.&lt;br /&gt;
* 1 sdt Merica butiran (Lada).&lt;br /&gt;
* Garam dan Penyedap rasa secukupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Langkah Pengolahan ===&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Persiapan Ikan:&#039;&#039;&#039; Kukus ikan hingga matang. Pisahkan daging dari duri dan kulitnya. Tumbuk daging ikan (atau suwir sangat halus) hingga teksturnya terurai lembut.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pencampuran:&#039;&#039;&#039; Dalam wadah besar, campurkan daging ikan tumbuk, kelapa parut sangrai, dan bumbu halus. Aduk rata. Masukkan [[telur ayam]], lalu uleni adonan hingga menyatu dan bisa dipadatkan (kalis).&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pembentukan:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
#* Ambil sejumput adonan (sekitar 30-40 gram).&lt;br /&gt;
#* Padatkan di telapak tangan, lalu bentuk menjadi **segitiga pipih** atau persegi panjang sesuai selera adat setempat. Pastikan permukaannya mulus dan padat agar tidak menyerap minyak berlebih.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penggorengan:&#039;&#039;&#039; Panaskan minyak dengan api sedang. Goreng Bale Buta hingga berubah warna menjadi cokelat keemasan (&#039;&#039;golden brown&#039;&#039;) dan kulit luarnya terasa keras/garing saat diketuk sodet.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penyajian:&#039;&#039;&#039; Angkat dan tiriskan. Bale Buta bisa dimakan sebagai lauk pendamping [[Buras]] atau dimakan begitu saja sebagai camilan (kue).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan. (2024). &#039;&#039;Kuliner Ritual Bugis: Simbol dan Makna&#039;&#039;. Makassar.&lt;br /&gt;
* Nusantara Food Biodiversity. (2026). &#039;&#039;[https://nusantarafoodbiodiversity.org/data/mh3pwdmqregfjj4 Bale Buta: Tempa-tempa Khas Bugis]&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Makanan Tradisional]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Olahan Ikan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Makanan Ritual]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Bugis]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sulawesi Selatan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Lauk Pauk]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Bale_Buta.jpg&amp;diff=3727</id>
		<title>Berkas:Bale Buta.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Bale_Buta.jpg&amp;diff=3727"/>
		<updated>2026-02-07T07:11:24Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Bale Buta pada acara Nikahan&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Bale_Buta&amp;diff=3725</id>
		<title>Bale Buta</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Bale_Buta&amp;diff=3725"/>
		<updated>2026-02-07T06:24:57Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Bale Buta&#039;&#039;&#039; secara harfiah berarti &amp;quot;Ikan Buta&amp;quot; dalam bahasa [[Bugis]] atau sering juga dikenal dengan nama &#039;&#039;&#039;Tompi-tompi&#039;&#039;&#039;, adalah kudapan lauk tradisional khas masyarakat Bugis di [[Sulawesi Selatan]]. Makanan ini sejatinya adalah olahan daging ikan yang disuwir atau ditumbuk halus, dicampur dengan [[kelapa]] sangrai dan rempah, lalu dibentuk segitiga atau jajar genjang dan digoreng.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbeda dengan [[Otak-otak]] yang dibungkus daun, Bale Buta tampak dengan kulit luar yang garing kecokelatan. Kehadirannya sangat lekat dengan ritual daur hidup; ia adalah menu wajib dalam baki hantaran atau sering disebut &#039;&#039;Bosara&#039;&#039; pada acara [[Aqiqah]], [[Khatam Al-Qur&#039;an]], hingga resepsi pernikahan adat Bugis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Filosofi dan Etimologi ==&lt;br /&gt;
Penamaan &amp;quot;Bale Buta&amp;quot; menyimpan makna metaforis yang jenaka. Dalam bahasa Bugis, &#039;&#039;Bale&#039;&#039; berarti ikan dan &#039;&#039;Buta&#039;&#039; berarti buta. Dinamakan demikian karena dalam penyajiannya, wujud asli ikan termasuk mata dan kepalanya sudah tidak terlihat lagi—telah &amp;quot;dibutakan&amp;quot; atau disembunyikan dalam bentuk adonan geometris yang rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bentuknya yang sering kali segitiga atau menyerupai atap rumah (limas pipih) juga sering dimaknai sebagai simbol perlindungan dan keseimbangan dalam rumah tangga (jika disajikan saat pernikahan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Karakteristik Rasa ==&lt;br /&gt;
Bale Buta menawarkan sensasi makan ikan tanpa &amp;quot;gangguan&amp;quot; duri:&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Tekstur:&#039;&#039;&#039; Bagian luarnya renyah karena proses penggorengan &#039;&#039;deep fry&#039;&#039;, sementara bagian dalamnya padat namun lembut, mirip perkedel namun lebih berserat daging.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Rasa:&#039;&#039;&#039; Dominasi rasa gurih dari ikan laut segar berpadu dengan manis-gurih dari kelapa sangrai dan aroma bawang putih yang kuat.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Aroma:&#039;&#039;&#039; Wangi rempah goreng yang menyengat, bebas dari bau amis karena penggunaan rempah peredam seperti merica dan bawang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bahan dan Proses Pembuatan ==&lt;br /&gt;
Kunci kenikmatan Bale Buta terletak pada rasio daging ikan dan kelapa, serta teknik pembentukan yang padat agar tidak ambyar saat digoreng.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Bahan Utama ===&lt;br /&gt;
* 500 gram Daging Ikan (biasanya [[Ikan Cakalang]], [[Ikan Tuna]], atau [[Ikan Bandeng]] yang sudah dikukus dan dibuang durinya).&lt;br /&gt;
* 1/2 butir Kelapa setengah tua (parut, lalu sangrai sebentar hingga wangi/kering).&lt;br /&gt;
* 1 butir Telur Ayam (sebagai pengikat/perekat).&lt;br /&gt;
* Minyak Goreng secukupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Bumbu Halus ===&lt;br /&gt;
* 5 siung [[Bawang Merah]].&lt;br /&gt;
* 3 siung Bawang Putih.&lt;br /&gt;
* 1 sdt Merica butiran (Lada).&lt;br /&gt;
* Garam dan Penyedap rasa secukupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Langkah Pengolahan ===&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Persiapan Ikan:&#039;&#039;&#039; Kukus ikan hingga matang. Pisahkan daging dari duri dan kulitnya. Tumbuk daging ikan (atau suwir sangat halus) hingga teksturnya terurai lembut.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pencampuran:&#039;&#039;&#039; Dalam wadah besar, campurkan daging ikan tumbuk, kelapa parut sangrai, dan bumbu halus. Aduk rata. Masukkan [[telur ayam]], lalu uleni adonan hingga menyatu dan bisa dipadatkan (kalis).&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pembentukan:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
#* Ambil sejumput adonan (sekitar 30-40 gram).&lt;br /&gt;
#* Padatkan di telapak tangan, lalu bentuk menjadi **segitiga pipih** atau persegi panjang sesuai selera adat setempat. Pastikan permukaannya mulus dan padat agar tidak menyerap minyak berlebih.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penggorengan:&#039;&#039;&#039; Panaskan minyak dengan api sedang. Goreng Bale Buta hingga berubah warna menjadi cokelat keemasan (&#039;&#039;golden brown&#039;&#039;) dan kulit luarnya terasa keras/garing saat diketuk sodet.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penyajian:&#039;&#039;&#039; Angkat dan tiriskan. Bale Buta bisa dimakan sebagai lauk pendamping [[Buras]] atau dimakan begitu saja sebagai camilan (kue).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan. (2024). &#039;&#039;Kuliner Ritual Bugis: Simbol dan Makna&#039;&#039;. Makassar.&lt;br /&gt;
* Nusantara Food Biodiversity. (2026). &#039;&#039;[https://nusantarafoodbiodiversity.org/data/mh3pwdmqregfjj4 Bale Buta: Tempa-tempa Khas Bugis]&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Makanan Tradisional]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Olahan Ikan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Makanan Ritual]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Bugis]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sulawesi Selatan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Lauk Pauk]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Sambala_Settung&amp;diff=3723</id>
		<title>Sambala Settung</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Sambala_Settung&amp;diff=3723"/>
		<updated>2026-02-07T06:01:46Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Sambala&amp;#039; Settung&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; atau &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Sambal Buah Kecapi&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; adalah jenis sambal buah tradisional khas masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan, khususnya di daerah pedalaman seperti Soppeng dan Bone. Hidangan ini tergolong kuliner musiman yang langka, karena bahan utamanya—buah Settung atau Kecapi (&amp;#039;&amp;#039;Sandoricum koetjape&amp;#039;&amp;#039;)—hanya berbuah satu kali dalam setahun dan pohonnya kini semakin jarang ditemui.  Berbeda dengan sambal mangga (&amp;#039;&amp;#039;Racca&amp;#039; Pau&amp;#039;&amp;#039;) yang a...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Sambala&#039; Settung&#039;&#039;&#039; atau &#039;&#039;&#039;Sambal Buah Kecapi&#039;&#039;&#039; adalah jenis sambal buah tradisional khas masyarakat [[Bugis]] di [[Sulawesi Selatan]], khususnya di daerah pedalaman seperti [[Soppeng]] dan [[Bone]]. Hidangan ini tergolong kuliner musiman yang langka, karena bahan utamanya—buah Settung atau Kecapi (&#039;&#039;Sandoricum koetjape&#039;&#039;)—hanya berbuah satu kali dalam setahun dan pohonnya kini semakin jarang ditemui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbeda dengan sambal mangga (&#039;&#039;Racca&#039; Pau&#039;&#039;) yang asam menyengat, Sambala&#039; Settung menawarkan spektrum rasa yang lebih rumit: perpaduan rasa asam, manis, dan sepat (&#039;&#039;astringent&#039;&#039;) yang khas, menjadikannya pendamping sempurna untuk lauk ikan bakar atau ikan kering.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Keseimbangan Rasa Sepat Settung ==&lt;br /&gt;
Dalam khazanah kuliner Bugis, Sambala&#039; Settung mengajarkan seni memanfaatkan alam. Buah Settung memiliki kulit yang keras dan daging yang sepat jika tidak diolah dengan benar. Masyarakat Bugis secara kreatif mengubah rasa sepat yang biasanya dihindari ini menjadi penyeimbang (&#039;&#039;palatte&#039;&#039;) bagi makanan berlemak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada anekdot budaya yang melekat pada buah ini. Karena kulitnya yang tebal dan keras, orang tua zaman dahulu sering membuka buah Settung dengan cara menjepitnya di engsel pintu (&#039;&#039;di-sipit&#039;&#039;) hingga pecah. Kerasnya usaha membuka kulit ini seolah terbayar lunas saat daging buahnya diolah menjadi sambal yang segar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Karakteristik Rasa ==&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Tekstur:&#039;&#039;&#039; Daging buah Settung yang dicacah memberikan tekstur yang renyah namun lembut (&#039;&#039;spongy&#039;&#039;), mirip busa padat yang menyerap bumbu sambal.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Rasa:&#039;&#039;&#039; Rasa sepat (kelat) dari buah Settung berfungsi menetralisir rasa amis ikan laut. Ketika bertemu dengan pedasnya cabai dan gurihnya [[terasi]] bakar, rasa sepat itu berubah menjadi sensasi gurih yang unik.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Aroma:&#039;&#039;&#039; Wangi buah kecapi yang floral dan sedikit asam sangat dominan, memberikan kesegaran aroma pada meja makan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bahan dan Proses Pembuatan ==&lt;br /&gt;
Pembuatan Sambala&#039; Settung sangat sederhana, namun membutuhkan ketelitian dalam memilih buah yang pas (mengkal atau matang pohon).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Bahan Utama ===&lt;br /&gt;
* 2 buah Settung / Kecapi (pilih yang dagingnya tebal).&lt;br /&gt;
* 10 buah Cabai Rawit (sesuai selera).&lt;br /&gt;
* 1 sdt Terasi/Balacang (bakar hingga harum).&lt;br /&gt;
* 1 sdt Garam kasar.&lt;br /&gt;
* 1 sdm [[Gula Merah]] (sisir) atau Gula Pasir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Langkah Pengolahan ===&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pengupasan Buah (Tahap Kritis):&#039;&#039;&#039; Kupas kulit luar buah Settung yang keras hingga bersih. Ambil bagian daging buahnya yang berwarna putih/kemerahan. Buang bijinya (atau sebagian orang menyukai sensasi mengisap biji yang berbalut daging kapas, namun untuk sambal biasanya hanya dagingnya yang dipakai).&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pencacahan:&#039;&#039;&#039; Cincang kasar (&#039;&#039;chopped&#039;&#039;) atau iris memanjang daging buah Settung. Sisihkan.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pembuatan Bumbu:&#039;&#039;&#039; Ulek cabai rawit, terasi bakar, garam, dan gula hingga halus.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penyet-an:&#039;&#039;&#039; Masukkan cacahan buah Settung ke dalam cobek sambal. Tekan-tekan (penyet) sedikit dengan ulekan agar sari buahnya keluar dan menyatu dengan sambal, namun jangan sampai hancur menjadi bubur.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penyajian:&#039;&#039;&#039; Aduk rata. Sambala&#039; Settung siap disajikan segera. Paling nikmat disantap bersama nasi hangat dan [[Ikan Bolu]] (Bandeng) bakar atau ikan kering.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Balai Bahasa Sulawesi Selatan. (2018). &#039;&#039;Kamus Bahasa Bugis - Indonesia&#039;&#039;. Makassar: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. &lt;br /&gt;
* Pemerintah Kabupaten Soppeng. (2024). &#039;&#039;Potensi Buah Lokal dan Kuliner Tradisional Soppeng&#039;&#039;. Website Resmi Pemkab Soppeng.&lt;br /&gt;
* Budaya Indonesia. (2020). &#039;&#039;[https://budaya-indonesia.org/Sambal-Kecapi Ragam Sambal Nusantara: Sambal Kecapi]&#039;&#039;. Perpustakaan Digital Budaya Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sambal]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Makanan Tradisional]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Bugis]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Soppeng]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Bone]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sulawesi Selatan]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Nasu_Wolio&amp;diff=3719</id>
		<title>Nasu Wolio</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Nasu_Wolio&amp;diff=3719"/>
		<updated>2026-02-07T05:42:56Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Nasu Wolio&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; atau sering disebut sebagai &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Ayam Nasu Wolio&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; adalah hidangan olahan ayam kampung tradisional yang berasal dari kebudayaan Wolio di Kota Baubau, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Secara harfiah, &amp;#039;&amp;#039;Nasu&amp;#039;&amp;#039; berarti masak/laauk dan &amp;#039;&amp;#039;Wolio&amp;#039;&amp;#039; merujuk pada etnis serta pusat pemerintahan eks-Kesultanan Buton.  Berbeda dengan opor ayam yang berwarna pucat atau kari yang pekat akan kunyit, Nasu Wolio memiliki kuah yang cenderung gela...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Nasu Wolio&#039;&#039;&#039; atau sering disebut sebagai &#039;&#039;&#039;Ayam Nasu Wolio&#039;&#039;&#039; adalah hidangan olahan ayam kampung tradisional yang berasal dari kebudayaan [[Wolio]] di [[Kota Baubau]], [[Pulau Buton]], [[Sulawesi Tenggara]]. Secara harfiah, &#039;&#039;Nasu&#039;&#039; berarti masak/laauk dan &#039;&#039;Wolio&#039;&#039; merujuk pada etnis serta pusat pemerintahan eks-[[Kesultanan Buton]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbeda dengan opor ayam yang berwarna pucat atau kari yang pekat akan [[kunyit]], Nasu Wolio memiliki kuah yang cenderung gelap kecokelatan dan berminyak. Warna dan tekstur khas ini bukan berasal dari kecap, melainkan dari penggunaan &#039;&#039;&#039;Kaluku Yi Hole&#039;&#039;&#039; ([[kelapa]] sangrai yang ditumbuk hingga mengeluarkan minyak).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sejarah dan Filosofi dalam Ritual Haroa ==&lt;br /&gt;
Dalam stratifikasi kuliner Buton, Nasu Wolio menempati posisi kasta tertinggi. Ia adalah &amp;quot;Hidangan Raja&amp;quot; yang kemudian membumi menjadi hidangan perayaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehadiran Nasu Wolio bersifat mutlak dalam tradisi &#039;&#039;&#039;Haroa&#039;&#039;&#039;—yakni ritual doa syukuran atau tolak bala yang melibatkan penyajian makanan dalam baki berkaki (&#039;&#039;Talang&#039;&#039;). Dalam baki Haroa, Nasu Wolio diletakkan sebagai lauk utama yang menyimbolkan kemakmuran dan keberkahan. Minyak yang keluar dari kelapa sangrai (&#039;&#039;minyak vco alami&#039;&#039;) dimaknai sebagai pelumas kehidupan yang melancarkan segala urusan dan rezeki tuan rumah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Karakteristik Rasa ==&lt;br /&gt;
Nasu Wolio menawarkan kompleksitas rasa yang memanjakan lidah:&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Aroma:&#039;&#039;&#039; Bau &#039;&#039;smoky&#039;&#039; (asap) dan &#039;&#039;nutty&#039;&#039; (kacang-kacangan) sangat dominan, hasil dari proses penyangraian kelapa yang sabar.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Rasa:&#039;&#039;&#039; Gurih yang tebal dan sedikit manis alami dari kelapa, berpadu dengan pedas hangat dari rempah [[lengkuas]] dan serai. Tidak ada rasa santan yang &#039;&#039;mahteh&#039;&#039; (berlebihan), karena santan telah menyatu dengan minyak kelapa sangrai.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Tekstur:&#039;&#039;&#039; Daging ayam kampung yang dimasak perlahan (&#039;&#039;slow cooking&#039;&#039;) menjadi sangat empuk namun tidak hancur, terbalut bumbu yang &#039;medok&#039; dan berminyak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bahan dan Proses Pembuatan ==&lt;br /&gt;
Rahasia otentisitas Nasu Wolio terletak pada dua elemen: penggunaan Ayam Kampung (wajib, karena ayam potong akan hancur) dan teknik pembuatan Kaluku Yi Hole.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Bahan Utama ===&lt;br /&gt;
* 1 ekor Ayam Kampung muda (potong 8-10 bagian). Bakar sebentar di atas bara api untuk menghilangkan bulu halus dan menambah aroma.&lt;br /&gt;
* 1 butir Kelapa Tua (parut).&lt;br /&gt;
* 500 ml Santan Cair.&lt;br /&gt;
* 200 ml Santan Kental.&lt;br /&gt;
* Minyak goreng secukupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Bumbu ===&lt;br /&gt;
* 10 butir [[Bawang Merah]] (iris tipis).&lt;br /&gt;
* 5 siung Bawang Putih (iris tipis).&lt;br /&gt;
* 3 batang Serai (memarkan).&lt;br /&gt;
* 3 ruas Lengkuas (memarkan).&lt;br /&gt;
* 2 ruas [[Jahe]] (iris tipis).&lt;br /&gt;
* 1 sdm Ketumbar bubuk.&lt;br /&gt;
* Cabai Rawit utuh secukupnya.&lt;br /&gt;
* Garam dan Gula secukupnya.&lt;br /&gt;
* Air [[Asam Jawa]] secukupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Langkah Pengolahan ===&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pembuatan Kaluku Yi Hole (The Soul):&#039;&#039;&#039; Sangrai kelapa parut di atas wajan tanpa minyak dengan api kecil. Aduk terus hingga berwarna cokelat tua dan kering. Angkat selagi panas, lalu tumbuk (ulek) hingga halus dan &#039;&#039;&#039;mengeluarkan minyak&#039;&#039;&#039;. Sisihkan.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penurapan (Marinating):&#039;&#039;&#039; Lumuri potongan ayam kampung dengan sebagian Kaluku Yi Hole yang sudah berminyak tadi. Diamkan selama 15-20 menit agar meresap.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penulisan Bumbu:&#039;&#039;&#039; Tumis bawang merah, bawang putih, serai, lengkuas, dan jahe hingga layu dan harum.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penyatuan:&#039;&#039;&#039; Masukkan ayam yang sudah berbalut kelapa sangrai ke dalam tumisan bumbu. Aduk rata hingga daging ayam berubah warna menjadi kaku.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Perebusan (Braising):&#039;&#039;&#039; Tuangkan santan cair. Masak dengan api sedang hingga mendidih. Tambahkan garam, gula, ketumbar, dan air asam jawa. Masak terus hingga ayam mulai empuk dan kuah menyusut.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Finishing:&#039;&#039;&#039; Masukkan santan kental dan sisa Kaluku Yi Hole (jika ada). Masukkan cabai rawit utuh. Lanjutkan memasak dengan api kecil hingga kuah mengeluarkan minyak berwarna kemerahan dan bumbu meresap sempurna ke dalam serat daging (&#039;&#039;nyemek&#039;&#039;).&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penyajian:&#039;&#039;&#039; Angkat dan sajikan. Nasu Wolio paling nikmat disantap dengan [[Lapa-lapa]] atau ketupat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Liputan6. (2025). &#039;&#039;[https://www.liputan6.com/regional/read/6037155/nasu-wolio-warisan-kuliner-kerajaan-buton-penuh-rasa Nasu Wolio, Warisan Kuliner Kerajaan Buton Penuh Rasa]&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
* Sultra Line. (2024). &#039;&#039;[https://sultraline.id/gurihnya-nasu-wolio-masakan-khas-buton/ Gurihnya Nasu Wolio, Masakan Khas Buton]&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
* Scribd. (2024). &#039;&#039;[https://id.scribd.com/document/856645805/Makalah-Ayam-Nasu-Wolio Makalah Ayam Nasu Wolio: Sejarah dan Resep]&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Makanan Tradisional]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Olahan Ayam]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Makanan Ritual]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Wolio]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Baubau]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Buton]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sulawesi Tenggara]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Kambewe&amp;diff=3644</id>
		<title>Kambewe</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Kambewe&amp;diff=3644"/>
		<updated>2026-02-05T21:53:03Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Kambewe&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; adalah kudapan musiman berbahan dasar jagung muda (&amp;#039;&amp;#039;Zea mays&amp;#039;&amp;#039;) yang berasal dari tradisi kuliner masyarakat Buton, Muna, dan Buton Tengah di Sulawesi Tenggara. Berbeda dengan Kambuse (jagung rebus pipil) yang butirannya utuh, Kambewe diolah dengan cara diparut atau digiling hingga menjadi adonan pasta, dicampur dengan kelapa dan gula merah, lalu dikukus dalam balutan kulit jagung (klobot).  Karena bahan utamanya yang spesifik...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Kambewe&#039;&#039;&#039; adalah kudapan musiman berbahan dasar [[jagung]] muda (&#039;&#039;Zea mays&#039;&#039;) yang berasal dari tradisi kuliner masyarakat [[Buton]], [[Muna]], dan [[Buton Tengah]] di [[Sulawesi Tenggara]]. Berbeda dengan [[Kambuse]] (jagung rebus pipil) yang butirannya utuh, Kambewe diolah dengan cara diparut atau digiling hingga menjadi adonan pasta, dicampur dengan [[kelapa]] dan gula merah, lalu dikukus dalam balutan kulit jagung (klobot).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena bahan utamanya yang spesifik—yakni jagung yang masih muda dan berair—Kambewe tidak tersedia sepanjang tahun. Ia adalah kuliner &amp;quot;edisi terbatas&amp;quot; yang hanya muncul meriah saat musim panen jagung tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Filosofis: Edisi Terbatas Musim Panen ==&lt;br /&gt;
Kehadiran Kambewe dalam siklus pertanian masyarakat Buton dan Muna memiliki makna perayaan. Ia adalah simbol transisi panen. Jika jagung tua biasanya dikeringkan untuk disimpan sebagai cadangan pangan pokok (disimpan di lumbung), maka jagung muda dinikmati segera sebagai bentuk rasa syukur instan (&#039;&#039;immediate gratification&#039;&#039;) para petani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara kultural, Kambewe memiliki dua wajah:&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Sebagai Kudapan (Kue):&#039;&#039;&#039; Diolah dengan gula merah menjadi manis, disajikan sebagai teman minum teh atau suguhan tamu saat pesta panen.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Sebagai Makanan Pokok:&#039;&#039;&#039; Dalam versi yang lebih tua (tanpa gula, hanya garam dan bawang), Kambewe gurih sering disantap sebagai pengganti nasi atau [[Kasuami]], dimakan bersama lauk ikan kuah [[Parende]] dan sambal [[terasi]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Karakteristik Rasa ==&lt;br /&gt;
Kambewe menawarkan sensasi rasa yang sangat alamiah:&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Aroma:&#039;&#039;&#039; Wangi uap jagung yang bercampur dengan aroma &#039;&#039;earthy&#039;&#039; (langu yang sedap) dari kulit jagung pembungkusnya sangat dominan saat baru keluar dari kukusan.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Tekstur:&#039;&#039;&#039; Lembut namun padat. Tidak sehalus puding, karena serat-serat jagung parut masih terasa di lidah (&#039;&#039;gritty&#039;&#039;), memberikan tekstur yang khas.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Rasa:&#039;&#039;&#039; Manis legit yang tidak berlebihan. Rasa manis datang dari perpaduan sari pati jagung muda dan gula merah, diimbangi oleh rasa gurih (&#039;&#039;creamy&#039;&#039;) dari parutan kelapa muda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bahan dan Proses Pembuatan ==&lt;br /&gt;
Resep berikut adalah untuk varian &#039;&#039;&#039;Kue Kambewe Manis&#039;&#039;&#039; yang umum dijadikan oleh-oleh atau jajanan pasar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Bahan Utama ===&lt;br /&gt;
* 10-12 buah Jagung Muda (pilih yang bijinya masih mengeluarkan susu/air bila dipencet).&lt;br /&gt;
* 1/2 butir Kelapa Muda (parut memanjang).&lt;br /&gt;
* 200 gram [[Gula Merah]] (sisir halus).&lt;br /&gt;
* 1 sdt Garam.&lt;br /&gt;
* Kulit Jagung (Klobot) utuh yang sudah dicuci bersih untuk membungkus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Langkah Pengolahan ===&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Persiapan Jagung:&#039;&#039;&#039; Kupas jagung secara hati-hati agar kulitnya (klobot) tetap utuh dan lebar. Sisihkan kulitnya untuk pembungkus. Bersihkan rambut jagung hingga tuntas.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penghalusan (Grinding):&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
#* &#039;&#039;Cara Tradisional:&#039;&#039; Jagung diserut lalu ditumbuk dalam lesung kayu hingga hancur namun tidak sampai menjadi bubur cair.&lt;br /&gt;
#* &#039;&#039;Cara Modern:&#039;&#039; Jagung disisir lalu diblender kasar (&#039;&#039;pulse&#039;&#039;) atau diparut. Pastikan teksturnya masih agak kasar.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pencampuran (Mixing):&#039;&#039;&#039; Dalam wadah besar, campurkan jagung halus, kelapa parut, irisan gula merah, dan garam. Aduk menggunakan tangan hingga gula merah larut dan menyatu dengan adonan jagung. Koreksi rasa manisnya.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pembungkusan (Wrapping):&#039;&#039;&#039; Ambil 2-3 sendok makan adonan. Letakkan di tengah selembar kulit jagung. Lipat sisi kanan dan kiri ke tengah, lalu lipat bagian bawah dan atasnya hingga membentuk paket persegi panjang yang rapat (mirip membungkus &#039;&#039;[[Nagasari]]&#039;&#039; atau &#039;&#039;Lepet Jagung&#039;&#039;).&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pengukusan:&#039;&#039;&#039; Susun Kambewe dalam dandang panas. Kukus selama 30–45 menit dengan api sedang. Tanda matangnya adalah ketika kulit jagung berubah warna menjadi layu kekuningan dan aroma manis mulai menguar kuat.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penyajian:&#039;&#039;&#039; Angkat dan dinginkan sejenak. Kambewe paling nikmat disantap saat hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* RRI Baubau. (2025). &#039;&#039;[https://rri.co.id/baubau/kuliner/791621/kambewe-kue-jagung-muda-khas-buton Kambewe, Kue Jagung Muda Khas Buton]&#039;&#039;. Radio Republik Indonesia.&lt;br /&gt;
* Telisik.id. (2024). &#039;&#039;[https://telisik.id/news/kambewe-makanan-lokal-sulawesi-tenggara-diolah-saat-panen-jagung Kambewe Makanan Lokal Sultra, Diolah saat Panen Jagung]&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
* Budaya Indonesia. (2017). &#039;&#039;[https://budaya-indonesia.org/Kambewe Kambewe: Warisan Kuliner Buton]&#039;&#039;. Perpustakaan Digital Budaya Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Jajanan Pasar]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Kue Tradisional]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Olahan Jagung]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Buton]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Muna]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Buton Tengah]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sulawesi Tenggara]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Parende&amp;diff=3641</id>
		<title>Parende</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Parende&amp;diff=3641"/>
		<updated>2026-02-05T21:48:22Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Parende&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; adalah hidangan sup ikan kuah kuning yang menjadi identitas kuliner maritim masyarakat Buton, Wakatobi, dan Muna di Sulawesi Tenggara. Ciri khas utamanya adalah penggunaan ikan pelagis segar (seperti Cakalang atau Tuna) yang dimasak dalam kuah asam segar berwarna kekuningan.  Berbeda dengan Palumara khas Makassar yang cenderung kental akan bumbu tumis, Parende dikenal dengan karakter kuahnya yang lebih ringan, bening, namun tajam...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Parende&#039;&#039;&#039; adalah hidangan sup ikan kuah kuning yang menjadi identitas kuliner maritim masyarakat [[Buton]], [[Wakatobi]], dan [[Muna]] di [[Sulawesi Tenggara]]. Ciri khas utamanya adalah penggunaan ikan pelagis segar (seperti Cakalang atau Tuna) yang dimasak dalam kuah asam segar berwarna kekuningan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbeda dengan [[Palumara]] khas Makassar yang cenderung kental akan bumbu tumis, Parende dikenal dengan karakter kuahnya yang lebih ringan, bening, namun tajam akan rasa asam dari buah [[asam jawa]] atau belimbing wuluh. Di Buton, Parende hampir tidak pernah absen dalam jamuan makan, biasanya disandingkan dengan makanan pokok berbahan [[singkong]] seperti [[Kasuami]] atau [[Kabhuto]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Filosofi: ==&lt;br /&gt;
Dalam catatan sejarah Kesultanan Buton, Parende bukan sekadar lauk pauk, melainkan media penanda strata sosial. Terdapat aturan tidak tertulis mengenai pembagian potongan ikan dalam penyajian Parende:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Kepala Ikan:&#039;&#039;&#039; Potongan ini dianggap paling prestisius. Di masa lalu, Parende bagian kepala hanya boleh disajikan untuk golongan &#039;&#039;Kaomu&#039;&#039; (bangsawan) atau &#039;&#039;Walaka&#039;&#039; (adat), serta tamu kehormatan. Kepala ikan menyimbolkan kepemimpinan dan intelektualitas.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Badan dan Ekor:&#039;&#039;&#039; Bagian ini disajikan untuk golongan &#039;&#039;Papara&#039;&#039; (masyarakat umum/rakyat jelata).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun sistem stratifikasi ini mulai luntur di era modern, tradisi menyuguhkan Parende kepala ikan kepada orang yang dituakan atau tamu penting tetap bertahan sebagai bentuk penghormatan tertinggi (&#039;&#039;Hospitality of Buton&#039;&#039;).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Karakteristik Rasa ==&lt;br /&gt;
Parende menawarkan profil rasa yang &amp;quot;membangunkan&amp;quot; indra:&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Rasa:&#039;&#039;&#039; Dominasi rasa asam segar yang berpadu dengan gurih alami (umami) dari kaldu ikan laut. Rasa asam ini penting untuk menetralkan lemak ikan dan bau amis.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Aroma:&#039;&#039;&#039; Wangi aromatik yang kuat dari daun kemangi (&#039;&#039;Ocimum basilicum&#039;&#039;) dan serai, berpadu dengan aroma [[kunyit]] yang hangat.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Tekstur Ikan:&#039;&#039;&#039; Karena dimasak dengan teknik &#039;&#039;poaching&#039;&#039; (merebus perlahan), daging ikan dalam Parende tetap padat namun lembut (&#039;&#039;juicy&#039;&#039;), tidak hancur seperti ikan yang dimasak terlalu lama (&#039;&#039;overcooked&#039;&#039;).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bahan dan Proses Pembuatan ==&lt;br /&gt;
Kunci kenikmatan Parende terletak pada kesegaran ikan. Masyarakat Buton pantang menggunakan ikan yang sudah dibekukan lama atau bermata merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Bahan Utama ===&lt;br /&gt;
* 1 ekor Ikan Pelagis ukuran sedang (Cakalang, Tuna Sirip Kuning, atau Kakap Merah). Potong menjadi 3-4 bagian.&lt;br /&gt;
* 1 liter Air&lt;br /&gt;
* 2 sdm Air [[Asam Jawa]] (atau bisa diganti jeruk nipis/belimbing wuluh)&lt;br /&gt;
* 1 ikat Daun Kemangi (siangi daunnya)&lt;br /&gt;
* 2 sdm Minyak Goreng (untuk menumis, opsional. Versi original seringkali langsung rebus).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Bumbu ===&lt;br /&gt;
* 5 siung [[Bawang Merah]] (iris tipis)&lt;br /&gt;
* 3 siung Bawang Putih (iris tipis)&lt;br /&gt;
* 2 batang Serai (memarkan)&lt;br /&gt;
* 2 ruas Kunyit (bakar sebentar lalu haluskan/iris tipis)&lt;br /&gt;
* 5 buah Cabai Rawit utuh (sesuai selera)&lt;br /&gt;
* 1 buah [[Tomat]] merah (potong kasar)&lt;br /&gt;
* Garam dan Gula secukupnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Langkah Pengolahan ===&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Persiapan Ikan:&#039;&#039;&#039; Cuci bersih potongan ikan. Lumuri dengan sedikit perasan jeruk nipis dan garam untuk mematikan bau amis darah. Diamkan 10 menit, lalu bilas bersih kembali.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Perebusan Awal (Mendidihkan Air):&#039;&#039;&#039; Didihkan air dalam panci. Konsep nama &amp;quot;Parende&amp;quot; sendiri konon berasal dari kata &amp;quot;Mendidih&amp;quot; atau mematangkan ikan dalam kuah panas.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pencampuran Bumbu:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
#* &#039;&#039;Versi Tumis (Modern):&#039;&#039; Tumis bawang merah, bawang putih, dan kunyit hingga harum, lalu masukkan ke dalam air mendidih.&lt;br /&gt;
#* &#039;&#039;Versi Rebus (Tradisional):&#039;&#039; Masukkan langsung irisan bawang, serai, kunyit, dan cabai rawit ke dalam air mendidih. Biarkan hingga aroma langunya hilang.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pematangan Ikan:&#039;&#039;&#039; Masukkan potongan ikan ke dalam kuah yang sudah berbumbu mendidih. Tambahkan air asam jawa, tomat, garam, dan gula.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Finishing:&#039;&#039;&#039; Masak sebentar saja (sekitar 7-10 menit) agar sari ikan keluar namun dagingnya tidak keras. Sesaat sebelum api dimatikan, masukkan daun kemangi. Aduk sebentar hingga layu. Angkat.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penyajian:&#039;&#039;&#039; Sajikan Parende panas-panas bersama Kasuami hangat. Bagian kepala ikan sebaiknya diletakkan di piring tamu yang paling dihormati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* RRI Baubau. (2024). &#039;&#039;[https://rri.co.id/baubau/kuliner/1223038/parende-sop-ikan-khas-buton-yang-tetap-eksis Parende, Sop Ikan Khas Buton yang Tetap Eksis]&#039;&#039;. Radio Republik Indonesia.&lt;br /&gt;
* Budaya Indonesia. (2018). &#039;&#039;[https://budaya-indonesia.org/Ikan-Parende-khas-Buton Ikan Parende Khas Buton]&#039;&#039;. Perpustakaan Digital Budaya Indonesia.&lt;br /&gt;
* Kompas TV. (2020). &#039;&#039;[https://www.kompas.tv/kuliner/80890/resep-mudah-membuat-menu-ikan-parende-khas-buton Resep Mudah Membuat Menu Ikan Parende Khas Buton]&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Makanan Tradisional]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Olahan Ikan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sup]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Buton]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Wakatobi]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Muna]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sulawesi Tenggara]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Tuli-tuli&amp;diff=3635</id>
		<title>Tuli-tuli</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Tuli-tuli&amp;diff=3635"/>
		<updated>2026-02-05T21:43:12Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Tuli-tuli&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; adalah kudapan goreng tradisional khas masyarakat Buton dan Muna di Sulawesi Tenggara. Berbahan dasar ubi kayu atau singkong (&amp;#039;&amp;#039;Manihot esculenta&amp;#039;&amp;#039;) yang diolah menjadi Kaopi, makanan ini memiliki identitas visual yang sangat distingtif: bentuknya menyerupai angka delapan (8) atau simpul tali.  Di tanah Buton, Tuli-tuli lebih dari sekadar pengganjal perut. Ia adalah &amp;quot;camilan sosial&amp;quot; yang wajib hadir di sore hari, dinikmati bersama...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Tuli-tuli&#039;&#039;&#039; adalah kudapan goreng tradisional khas masyarakat [[Buton]] dan [[Muna]] di [[Sulawesi Tenggara]]. Berbahan dasar ubi kayu atau [[singkong]] (&#039;&#039;Manihot esculenta&#039;&#039;) yang diolah menjadi [[Kaopi]], makanan ini memiliki identitas visual yang sangat distingtif: bentuknya menyerupai angka delapan (8) atau simpul tali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tanah Buton, Tuli-tuli lebih dari sekadar pengganjal perut. Ia adalah &amp;quot;camilan sosial&amp;quot; yang wajib hadir di sore hari, dinikmati bersama teh hangat dan cocolan sambal goreng yang pedas. Harganya yang sangat terjangkau menjadikannya simbol kuliner egaliter yang dinikmati oleh segala lapisan masyarakat, dari pejabat hingga nelayan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Asal-usul dan Filosofi Bentuk ==&lt;br /&gt;
Nama &amp;quot;Tuli-tuli&amp;quot; sering kali memancing rasa penasaran karena kemiripan bunyinya dengan kondisi gangguan pendengaran. Namun, dalam konteks lokal, nama ini merujuk pada bentuknya yang melingkar menyerupai lubang telinga atau simpul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bentuk angka delapan atau simpul ganda pada Tuli-tuli bukan tanpa alasan. Secara teknis, bentuk ini memungkinkan panas minyak menjangkau seluruh permukaan adonan hingga ke bagian dalam, menghasilkan tekstur yang matang merata—renyah di luar namun tetap kenyal di dalam. Secara filosofis, bentuk simpul yang tak putus ini sering dimaknai oleh tetua adat sebagai simbol &#039;&#039;&#039;keterikatan&#039;&#039;&#039; dan &#039;&#039;&#039;persaudaraan&#039;&#039;&#039; masyarakat Buton yang erat dan tidak mudah lepas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Karakteristik Rasa ==&lt;br /&gt;
Tuli-tuli memiliki profil rasa dan tekstur yang kontras:&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Tekstur:&#039;&#039;&#039; Bagian kulit luarnya garing dan renyah (&#039;&#039;crispy&#039;&#039;) akibat proses penggorengan &#039;&#039;deep fry&#039;&#039;, sementara bagian dalamnya terasa kenyal dan padat (&#039;&#039;chewy&#039;&#039;), mirip dengan tekstur [[pempek]] atau [[cireng]] namun lebih berserat.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Rasa:&#039;&#039;&#039; Rasa dasar Tuli-tuli adalah gurih netral dengan aroma singkong yang khas.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Peran Sambal:&#039;&#039;&#039; Tuli-tuli dianggap &amp;quot;belum lengkap&amp;quot; jika dimakan polosan. Jiwa dari hidangan ini terletak pada cocolan &#039;&#039;&#039;Sambal Goreng&#039;&#039;&#039; (tumisan cabai, bawang merah, dan [[tomat]]) yang memberikan dimensi rasa pedas, asin, dan umami yang meledak di mulut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bahan dan Proses Pembuatan ==&lt;br /&gt;
Rahasia kekenyalan Tuli-tuli terletak pada penggunaan bahan &#039;&#039;&#039;Kaopi&#039;&#039;&#039; (parutan singkong yang telah diperas airnya hingga kering) dan teknik pencampuran adonan mentah dan matang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Bahan Utama ===&lt;br /&gt;
* 1 kg Singkong (Ubi Kayu), pilih jenis yang tidak pahit&lt;br /&gt;
* 1 siung [[Bawang Merah]] (iris tipis)&lt;br /&gt;
* Garam secukupnya&lt;br /&gt;
* Minyak Goreng secukupnya&lt;br /&gt;
* Air panas secukupnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Langkah Pengolahan ===&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pembuatan Kaopi:&#039;&#039;&#039; Kupas singkong dan cuci bersih. Parut singkong hingga halus. Masukkan parutan ke dalam kain bersih atau karung, lalu peras/tekan sekuat tenaga hingga air patinya keluar semua dan ampas singkong menjadi kering (kesat). Ampas kering inilah yang disebut &#039;&#039;Kaopi&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Teknik Biang (Pencampuran):&#039;&#039;&#039; Bagi Kaopi menjadi dua bagian sama banyak.&lt;br /&gt;
#* &#039;&#039;Bagian A (Adonan Masak):&#039;&#039; Campurkan setengah bagian Kaopi dengan sedikit air, irisan bawang merah, dan garam. Masak di atas wajan dengan api kecil sambil terus diaduk hingga mengental seperti lem (biang).&lt;br /&gt;
#* &#039;&#039;Bagian B (Adonan Mentah):&#039;&#039; Siapkan sisa Kaopi kering dalam wadah besar.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pengulenan:&#039;&#039;&#039; Masukkan Adonan Masak (panas) ke dalam Adonan Mentah. Uleni menggunakan tangan (hati-hati panas) hingga kedua adonan menyatu sempurna dan menjadi kalis (bisa dibentuk). Teknik ini kuncinya agar Tuli-tuli renyah tapi tidak keras.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pembentukan:&#039;&#039;&#039; Ambil sedikit adonan (sebesar bola pingpong), pilin memanjang seperti tali di atas talenan atau telapak tangan, lalu bentuk menjadi angka 8 atau simpul ganda. Lakukan hingga adonan habis.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penggorengan:&#039;&#039;&#039; Panaskan minyak dalam jumlah banyak. Goreng Tuli-tuli dengan api sedang hingga berubah warna menjadi kuning keemasan (&#039;&#039;golden brown&#039;&#039;). Tiriskan.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penyajian:&#039;&#039;&#039; Sajikan selagi hangat bersama sambal tumis terpisah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* RRI Baubau. (2025). &#039;&#039;[https://rri.co.id/voi/mudik-lebaran-2025/1416781/tuli-tuli-kuliner-nikmat-pulau-buton Tuli-Tuli, Kuliner Nikmat Pulau Buton]&#039;&#039;. Radio Republik Indonesia.&lt;br /&gt;
* Travel Kompas. (2016). &#039;&#039;[https://travel.kompas.com/read/2016/10/10/120400627/tuli-tuli.gorengan.gurih.khas.pulau.buton Tuli-tuli, Gorengan Gurih Khas Pulau Buton]&#039;&#039;. Kompas.com.&lt;br /&gt;
* Budaya Indonesia. (2017). &#039;&#039;[https://budaya-indonesia.org/Tuli-tuli Tuli-tuli: Pustaka Budaya]&#039;&#039;. Perpustakaan Digital Budaya Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Jajanan Pasar]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Gorengan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Olahan Singkong]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Buton]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Muna]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sulawesi Tenggara]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Roti_Maros&amp;diff=3632</id>
		<title>Roti Maros</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Roti_Maros&amp;diff=3632"/>
		<updated>2026-02-05T21:21:15Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Roti Maros&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; adalah varian roti manis tradisional yang menjadi ikon kuliner Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Secara fisik, ia menyerupai roti kasur atau roti sobek dengan tekstur yang sangat lembut, namun identitas utamanya terletak pada isian khasnya: selai srikaya kuning pekat yang melimpah.  Bagi pelintas jalur Trans-Sulawesi, Roti Maros memegang status legendaris. Kios-kios roti yang berjejer di sepanjang jalan poros Maros-Makassar bukan sek...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Roti Maros&#039;&#039;&#039; adalah varian roti manis tradisional yang menjadi ikon kuliner Kabupaten [[Maros]], [[Sulawesi Selatan]]. Secara fisik, ia menyerupai roti kasur atau roti sobek dengan tekstur yang sangat lembut, namun identitas utamanya terletak pada isian khasnya: [[selai srikaya]] kuning pekat yang melimpah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi pelintas jalur Trans-Sulawesi, Roti Maros memegang status legendaris. Kios-kios roti yang berjejer di sepanjang jalan poros Maros-Makassar bukan sekadar tempat singgah, melainkan destinasi wisata kuliner tersendiri. Roti ini paling nikmat disantap saat masih hangat, baru saja keluar dari oven pembakaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sejarah dan Fenomena Jalur Transit ==&lt;br /&gt;
Berbeda dengan kue tradisional lain yang lahir dari ritual adat, popularitas Roti Maros lahir dari budaya mobilitas (transit). Ia tumbuh seiring dengan ramainya lalu lintas di jalan poros yang menghubungkan Kota [[Makassar]] dengan daerah-daerah utara Sulawesi Selatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya, roti ini merupakan industri rumah tangga sederhana. Namun, karena teksturnya yang lembut dan rasa manisnya yang mampu memulihkan energi para musafir, ia bertransformasi menjadi komoditas &amp;quot;buah tangan&amp;quot; (oleh-oleh) yang wajib dibeli. Fenomena ini menciptakan lanskap unik di Maros, di mana puluhan kedai menjajakan roti panas 24 jam, menciptakan aroma wangi panggangan yang menyambut siapa saja yang memasuki gerbang kota ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Karakteristik Rasa ==&lt;br /&gt;
Kekuatan Roti Maros terletak pada kontradiksi yang harmonis:&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Tekstur Roti:&#039;&#039;&#039; Adonan rotinya dikenal sangat empuk, ringan, dan berserat halus (&#039;&#039;fluffy&#039;&#039;). Ia dirancang untuk mudah disobek dengan tangan tanpa perlu pisau.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Isian :&#039;&#039;&#039; Jiwa dari Roti Maros adalah isiannya. Bukan cokelat atau keju pabrikan, melainkan selai srikaya tradisional yang dibuat dari campuran telur, santan, dan gula. Rasanya manis legit, gurih santan, dengan aroma pandan atau [[vanili]] yang kuat.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Penyajian:&#039;&#039;&#039; Roti ini memiliki masa &#039;&#039;best before&#039;&#039; yang singkat. Ia mencapai puncak kenikmatannya saat hangat, di mana isian srikaya masih meleleh dan roti terasa selembut awan. Saat dingin, teksturnya akan sedikit memadat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bahan dan Proses Pembuatan ==&lt;br /&gt;
Pembuatan Roti Maros terdiri dari dua tahap krusial: pembuatan selai srikaya dan pembuatan adonan roti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== 1. Membuat Isian (Selai Srikaya) ===&lt;br /&gt;
Ini adalah kunci otentisitas.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Bahan:&#039;&#039;&#039; 5 butir kuning telur, 250 ml santan kental (dari [[kelapa]] segar), 200 gr gula pasir, dan daun pandan.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Cara:&#039;&#039;&#039; Kocok kuning telur dan gula hingga larut. Masukkan santan dan daun pandan. Masak di atas api sangat kecil (atau ditim) sambil terus diaduk agar santan tidak pecah dan telur tidak menggumpal. Masak hingga mengental menjadi selai/custard. Dinginkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== 2. Membuat Adonan Roti ===&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Bahan Utama:&#039;&#039;&#039; 500 gr Terigu protein tinggi, 100 gr Gula pasir, 11 gr Ragi instan, 2 butir Telur, 200 ml Air hangat/Susu cair, dan 50 gr Margarin.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Pencampuran (Kneading):&#039;&#039;&#039; Campur semua bahan kering dan telur. Tuang cairan perlahan sambil diuleni hingga setengah kalis. Masukkan margarin dan garam, uleni terus hingga &#039;&#039;&#039;kalis elastis&#039;&#039;&#039; (adonan bisa direntangkan tipis tanpa sobek/&#039;&#039;windowpane stage&#039;&#039;).&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Fermentasi I (Proofing):&#039;&#039;&#039; Diamkan adonan selama 45-60 menit hingga mengembang dua kali lipat. Kempiskan untuk buang gasnya.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Pengisian:&#039;&#039;&#039; Bagi adonan menjadi bulatan-bulatan kecil (sekitar 40-50 gram). Pipihkan, beri isian selai srikaya di tengahnya, lalu tutup rapat dan bulatkan kembali.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Penyusunan:&#039;&#039;&#039; Susun bulatan-bulatan tersebut dalam loyang persegi secara berdempetan.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Fermentasi II:&#039;&#039;&#039; Diamkan kembali selama 30 menit hingga adonan menyatu satu sama lain (mengembang memenuhi loyang).&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Pemanggangan:&#039;&#039;&#039; Olesi permukaan dengan susu cair atau kuning telur. Panggang di oven suhu 180°C selama 20-25 menit hingga permukaannya kuning kecokelatan (&#039;&#039;golden brown&#039;&#039;).&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Finishing:&#039;&#039;&#039; Begitu keluar dari oven, segera olesi permukaannya dengan margarin agar kulit roti tetap lembap dan mengkilap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Maros. (2024). &#039;&#039;Kuliner Khas Maros: Warisan Rasa di Jalur Trans&#039;&#039;. Website Resmi Pemkab Maros.&lt;br /&gt;
* Tribun Timur. (2023). &#039;&#039;[https://makassar.tribunnews.com/2023/05/21/rahasia-kelembutan-roti-maros-ada-pada-isian-srikaya-ini-resepnya Rahasia Kelembutan Roti Maros Ada Pada Isian Srikaya]&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
* IDN Times Sulsel. (2024). &#039;&#039;Sejarah Roti Maros, Oleh-oleh Wajib Pelintas Trans Sulawesi&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Roti]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Oleh-oleh]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Makanan Tradisional]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Maros]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sulawesi Selatan]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Bolu_Rampah&amp;diff=3631</id>
		<title>Bolu Rampah</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Bolu_Rampah&amp;diff=3631"/>
		<updated>2026-02-05T21:11:16Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Bolu Rampah&#039;&#039;&#039; atau kerap ditulis &#039;&#039;&#039;Bolu Rempah&#039;&#039;&#039; adalah varian kue bolu (&#039;&#039;sponge cake&#039;&#039;) tradisional khas [[Makassar]] dan [[Bugis]] di [[Sulawesi Selatan]]. Sesuai namanya, identitas utama kue ini terletak pada penggunaan rempah-rempah yang kuat (biasanya campuran kayu manis dan bumbu spekuk) serta penggunaan [[gula merah]] (gula [[aren]]) yang memberikan warna cokelat gelap yang khas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbeda dengan &#039;&#039;Bolu Cukke&#039;&#039; yang berukuran kecil dan cenderung kering, Bolu Rampah hadir dalam loyang besar dengan tekstur yang padat namun lembut (&#039;&#039;moist&#039;&#039;), sering kali ditaburi kacang kenari di atasnya sebagai pelengkap tekstur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:Nama_File_Foto_Anda.jpg|thumb|250px]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Jejak Sejarah dan Filosofi ==&lt;br /&gt;
Kehadiran Bolu Rampah adalah bukti nyata dari proses &amp;quot;pribumisasi&amp;quot; kuliner kolonial di tanah Sulawesi. Secara historis, teknik pembuatan bolu (pengocokan telur dan tepung hingga mengembang) adalah pengaruh kuliner Eropa (Belanda). Namun, masyarakat lokal Makassar dan Bugis mengadopsi teknik ini dengan memasukkan jiwa nusantara: mengganti gula putih dengan &#039;&#039;&#039;gula merah&#039;&#039;&#039; lokal yang melimpah, dan menyuntikkan &#039;&#039;&#039;rempah-rempah&#039;&#039;&#039; (&#039;&#039;rampah&#039;&#039;) yang menghangatkan tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam lanskap sosial, Bolu Rampah menduduki kasta yang terhormat. Ia bukan sekadar kudapan teman minum teh sore, melainkan salah satu isi baki hantaran (&#039;&#039;Bosara&#039;&#039;) dalam prosesi pernikahan adat atau acara syukuran besar. Warna cokelatnya yang pekat dan aromanya yang semerbak dimaknai sebagai simbol kehangatan dan kemanisan hubungan antarkeluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Profil Sensoris ==&lt;br /&gt;
Bolu Rampah menawarkan pengalaman rasa yang &amp;quot;dewasa&amp;quot; dan kompleks.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Aroma:&#039;&#039;&#039; Wangi yang menguar sangat distingtif; perpaduan antara aroma karamel dari gula merah yang dipanggang dan tajamnya aroma bumbu spekuk (kayu manis, [[cengkeh]], [[pala]]). Bau ini sering memicu nostalgia akan suasana dapur nenek di kampung halaman.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Tekstur:&#039;&#039;&#039; Tidak seperti &#039;&#039;chiffon cake&#039;&#039; yang sangat ringan dan berongga besar, Bolu Rampah memiliki pori-pori yang lebih rapat dan tekstur yang agak padat (&#039;&#039;dense&#039;&#039;), namun tetap lembut dan lembap saat dikunyah.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Rasa:&#039;&#039;&#039; Manisnya tidak menyengat (seperti gula pasir), melainkan legit dan gurih, diimbangi dengan sensasi hangat dari rempah yang tertinggal di tenggorokan (&#039;&#039;aftertaste&#039;&#039;).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bahan-bahan ==&lt;br /&gt;
Berikut adalah komposisi standar untuk menghasilkan Bolu Rampah dengan cita rasa otentik Makassar:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* 5 butir Telur Ayam (ukuran besar)&lt;br /&gt;
* 250 gram [[Gula Merah]] (disisir sangat halus atau dicairkan dengan sedikit air)&lt;br /&gt;
* 50 gram Gula Pasir (untuk membantu pengembangan telur)&lt;br /&gt;
* 200 gram [[Tepung Terigu]] protein sedang&lt;br /&gt;
* 1 sdm Bumbu Spekuk (campuran kayu manis, pala, cengkeh)&lt;br /&gt;
* 1 sdt Baking Powder&lt;br /&gt;
* 100 ml Minyak Goreng (atau mentega cair)&lt;br /&gt;
* Toping: Kacang [[Kenari]] (cincang kasar) atau Wijen secukupnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Cara Pengolahan ==&lt;br /&gt;
Kunci keberhasilan Bolu Rampah terletak pada pengembangan telur dan pencampuran gula merah yang merata agar tidak bantat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Persiapan:&#039;&#039;&#039; Panaskan oven pada suhu 170°C. Siapkan loyang (biasanya bentuk tulban/cincin atau kotak), olesi dengan margarin dan taburi sedikit tepung.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pengocokan Telur (Mixing):&#039;&#039;&#039; Dalam wadah besar, kocok telur, gula pasir, dan gula merah sisir dengan &#039;&#039;mixer&#039;&#039; berkecepatan tinggi. Kocok hingga adonan mengembang, kental, dan berjejak (&#039;&#039;ribbon stage&#039;&#039;). Pastikan tidak ada gumpalan gula merah yang tertinggal.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pencampuran Bahan Kering:&#039;&#039;&#039; Turunkan kecepatan &#039;&#039;mixer&#039;&#039; ke posisi terendah. Masukkan tepung terigu, bumbu spekuk, dan baking powder yang sudah diayak sebelumnya. Aduk perlahan hanya sampai tercampur rata (jangan &#039;&#039;overmix&#039;&#039;).&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pencampuran Lemak:&#039;&#039;&#039; Masukkan minyak goreng atau mentega cair. Aduk balik menggunakan spatula dengan teknik lipat (dari bawah ke atas) untuk memastikan minyak tidak mengendap di dasar wadah. Endapan minyak adalah penyebab utama bolu menjadi bantat.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Panggang:&#039;&#039;&#039; Tuang adonan ke dalam loyang. Hentakkan loyang beberapa kali untuk mengeluarkan gelembung udara. Taburi permukaan dengan kacang kenari cincang. Panggang dalam oven selama 40-50 menit.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penyelesaian:&#039;&#039;&#039; Lakukan tes tusuk; jika lidi keluar bersih, kue sudah matang. Keluarkan dari oven, biarkan uap panas hilang sejenak sebelum dikeluarkan dari loyang. Potong-potong saat sudah dingin agar tekstur lebih set.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Kompasiana. (2022). &#039;&#039;[https://www.kompasiana.com/indahnovita5600/6235de1180a65a3c2802e442/resep-bolu-rampah-makassar Resep Bolu Rampah Makassar: Harum Legit Menggigit]&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
* Budaya Indonesia. (2026). &#039;&#039;[https://budaya-indonesia.org/Bolu-Rampah Bolu Rampah: Pustaka Budaya]&#039;&#039;. Perpustakaan Digital Budaya Indonesia.&lt;br /&gt;
* Chanel Sulsel. (2025). &#039;&#039;[https://sulsel.pikiran-rakyat.com/kuliner/pr-2729489130/bolu-rampah-kue-tradisional-bugis-yang-melejit-hingga-luar-sulawesi Bolu Rampah, Kue Tradisional Bugis yang Melejit hingga Luar Sulawesi]&#039;&#039;. Pikiran Rakyat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Kue Tradisional]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Bolu]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Makassar]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Bugis]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sulawesi Selatan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Oleh-oleh]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Bolu_Rampah&amp;diff=3628</id>
		<title>Bolu Rampah</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Bolu_Rampah&amp;diff=3628"/>
		<updated>2026-02-05T21:10:25Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Bolu Rampah&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; atau kerap ditulis &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Bolu Rempah&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; adalah varian kue bolu (&amp;#039;&amp;#039;sponge cake&amp;#039;&amp;#039;) tradisional khas Makassar dan Bugis di Sulawesi Selatan. Sesuai namanya, identitas utama kue ini terletak pada penggunaan rempah-rempah yang kuat (biasanya campuran kayu manis dan bumbu spekuk) serta penggunaan gula merah (gula aren) yang memberikan warna cokelat gelap yang khas.  Berbeda dengan &amp;#039;&amp;#039;Bolu Cukke&amp;#039;&amp;#039; yang berukuran kecil dan cenderung kering,...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Bolu Rampah&#039;&#039;&#039; atau kerap ditulis &#039;&#039;&#039;Bolu Rempah&#039;&#039;&#039; adalah varian kue bolu (&#039;&#039;sponge cake&#039;&#039;) tradisional khas [[Makassar]] dan [[Bugis]] di [[Sulawesi Selatan]]. Sesuai namanya, identitas utama kue ini terletak pada penggunaan rempah-rempah yang kuat (biasanya campuran kayu manis dan bumbu spekuk) serta penggunaan [[gula merah]] (gula [[aren]]) yang memberikan warna cokelat gelap yang khas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbeda dengan &#039;&#039;Bolu Cukke&#039;&#039; yang berukuran kecil dan cenderung kering, Bolu Rampah hadir dalam loyang besar dengan tekstur yang padat namun lembut (&#039;&#039;moist&#039;&#039;), sering kali ditaburi kacang kenari di atasnya sebagai pelengkap tekstur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:Nama_File_Foto_Anda.jpg|thumb|250px|Potongan Bolu Rampah dengan taburan kenari khas Makassar.]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Jejak Sejarah dan Filosofi ==&lt;br /&gt;
Kehadiran Bolu Rampah adalah bukti nyata dari proses &amp;quot;pribumisasi&amp;quot; kuliner kolonial di tanah Sulawesi. Secara historis, teknik pembuatan bolu (pengocokan telur dan tepung hingga mengembang) adalah pengaruh kuliner Eropa (Belanda). Namun, masyarakat lokal Makassar dan Bugis mengadopsi teknik ini dengan memasukkan jiwa nusantara: mengganti gula putih dengan &#039;&#039;&#039;gula merah&#039;&#039;&#039; lokal yang melimpah, dan menyuntikkan &#039;&#039;&#039;rempah-rempah&#039;&#039;&#039; (&#039;&#039;rampah&#039;&#039;) yang menghangatkan tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam lanskap sosial, Bolu Rampah menduduki kasta yang terhormat. Ia bukan sekadar kudapan teman minum teh sore, melainkan salah satu isi baki hantaran (&#039;&#039;Bosara&#039;&#039;) dalam prosesi pernikahan adat atau acara syukuran besar. Warna cokelatnya yang pekat dan aromanya yang semerbak dimaknai sebagai simbol kehangatan dan kemanisan hubungan antarkeluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Profil Sensoris ==&lt;br /&gt;
Bolu Rampah menawarkan pengalaman rasa yang &amp;quot;dewasa&amp;quot; dan kompleks.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Aroma:&#039;&#039;&#039; Wangi yang menguar sangat distingtif; perpaduan antara aroma karamel dari gula merah yang dipanggang dan tajamnya aroma bumbu spekuk (kayu manis, [[cengkeh]], [[pala]]). Bau ini sering memicu nostalgia akan suasana dapur nenek di kampung halaman.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Tekstur:&#039;&#039;&#039; Tidak seperti &#039;&#039;chiffon cake&#039;&#039; yang sangat ringan dan berongga besar, Bolu Rampah memiliki pori-pori yang lebih rapat dan tekstur yang agak padat (&#039;&#039;dense&#039;&#039;), namun tetap lembut dan lembap saat dikunyah.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Rasa:&#039;&#039;&#039; Manisnya tidak menyengat (seperti gula pasir), melainkan legit dan gurih, diimbangi dengan sensasi hangat dari rempah yang tertinggal di tenggorokan (&#039;&#039;aftertaste&#039;&#039;).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bahan-bahan ==&lt;br /&gt;
Berikut adalah komposisi standar untuk menghasilkan Bolu Rampah dengan cita rasa otentik Makassar:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* 5 butir Telur Ayam (ukuran besar)&lt;br /&gt;
* 250 gram [[Gula Merah]] (disisir sangat halus atau dicairkan dengan sedikit air)&lt;br /&gt;
* 50 gram Gula Pasir (untuk membantu pengembangan telur)&lt;br /&gt;
* 200 gram [[Tepung Terigu]] protein sedang&lt;br /&gt;
* 1 sdm Bumbu Spekuk (campuran kayu manis, pala, cengkeh)&lt;br /&gt;
* 1 sdt Baking Powder&lt;br /&gt;
* 100 ml Minyak Goreng (atau mentega cair)&lt;br /&gt;
* Toping: Kacang [[Kenari]] (cincang kasar) atau Wijen secukupnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Cara Pengolahan ==&lt;br /&gt;
Kunci keberhasilan Bolu Rampah terletak pada pengembangan telur dan pencampuran gula merah yang merata agar tidak bantat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Persiapan:&#039;&#039;&#039; Panaskan oven pada suhu 170°C. Siapkan loyang (biasanya bentuk tulban/cincin atau kotak), olesi dengan margarin dan taburi sedikit tepung.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pengocokan Telur (Mixing):&#039;&#039;&#039; Dalam wadah besar, kocok telur, gula pasir, dan gula merah sisir dengan &#039;&#039;mixer&#039;&#039; berkecepatan tinggi. Kocok hingga adonan mengembang, kental, dan berjejak (&#039;&#039;ribbon stage&#039;&#039;). Pastikan tidak ada gumpalan gula merah yang tertinggal.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pencampuran Bahan Kering:&#039;&#039;&#039; Turunkan kecepatan &#039;&#039;mixer&#039;&#039; ke posisi terendah. Masukkan tepung terigu, bumbu spekuk, dan baking powder yang sudah diayak sebelumnya. Aduk perlahan hanya sampai tercampur rata (jangan &#039;&#039;overmix&#039;&#039;).&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pencampuran Lemak:&#039;&#039;&#039; Masukkan minyak goreng atau mentega cair. Aduk balik menggunakan spatula dengan teknik lipat (dari bawah ke atas) untuk memastikan minyak tidak mengendap di dasar wadah. Endapan minyak adalah penyebab utama bolu menjadi bantat.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Panggang:&#039;&#039;&#039; Tuang adonan ke dalam loyang. Hentakkan loyang beberapa kali untuk mengeluarkan gelembung udara. Taburi permukaan dengan kacang kenari cincang. Panggang dalam oven selama 40-50 menit.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penyelesaian:&#039;&#039;&#039; Lakukan tes tusuk; jika lidi keluar bersih, kue sudah matang. Keluarkan dari oven, biarkan uap panas hilang sejenak sebelum dikeluarkan dari loyang. Potong-potong saat sudah dingin agar tekstur lebih set.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Kompasiana. (2022). &#039;&#039;[https://www.kompasiana.com/indahnovita5600/6235de1180a65a3c2802e442/resep-bolu-rampah-makassar Resep Bolu Rampah Makassar: Harum Legit Menggigit]&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
* Budaya Indonesia. (2026). &#039;&#039;[https://budaya-indonesia.org/Bolu-Rampah Bolu Rampah: Pustaka Budaya]&#039;&#039;. Perpustakaan Digital Budaya Indonesia.&lt;br /&gt;
* Chanel Sulsel. (2025). &#039;&#039;[https://sulsel.pikiran-rakyat.com/kuliner/pr-2729489130/bolu-rampah-kue-tradisional-bugis-yang-melejit-hingga-luar-sulawesi Bolu Rampah, Kue Tradisional Bugis yang Melejit hingga Luar Sulawesi]&#039;&#039;. Pikiran Rakyat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Kue Tradisional]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Bolu]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Makassar]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Bugis]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sulawesi Selatan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Oleh-oleh]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Gambang_Tape&amp;diff=3627</id>
		<title>Gambang Tape</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Gambang_Tape&amp;diff=3627"/>
		<updated>2026-02-05T21:03:01Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Gambang/Tape&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; (atau dikenal luas sebagai &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Tape Ketan Hitam&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;) adalah kudapan fermentasi tradisional yang memegang posisi sakral dalam kalender kuliner masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan, khususnya di wilayah Bone dan Soppeng. Berbeda dengan &amp;quot;Roti Gambang&amp;quot; khas Betawi yang bertekstur keras, Gambang di tanah Sulawesi adalah bola-bola ketan hitam yang lembut, berair, dan memabukkan—bukan karena alkoholnya, melainkan karena aroma manisnya...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Gambang/Tape&#039;&#039;&#039; (atau dikenal luas sebagai &#039;&#039;&#039;[[Tape]] Ketan Hitam&#039;&#039;&#039;) adalah kudapan fermentasi tradisional yang memegang posisi sakral dalam kalender kuliner masyarakat [[Bugis]] di [[Sulawesi Selatan]], khususnya di wilayah [[Bone]] dan [[Soppeng]]. Berbeda dengan &amp;quot;Roti Gambang&amp;quot; khas Betawi yang bertekstur keras, Gambang di tanah Sulawesi adalah bola-bola ketan hitam yang lembut, berair, dan memabukkan—bukan karena alkoholnya, melainkan karena aroma manisnya yang menusuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi masyarakat Bugis, Gambang bukan sekadar makanan penutup. Ia adalah penanda waktu; kehadirannya adalah sinyal mutlak bahwa Hari Raya [[Idul Fitri]] atau [[Idul Adha]] telah tiba. Tanpa piring berisi bola-bola hitam ini bersanding dengan [[Gogoso]] atau [[Burasa]], meja tamu dianggap &amp;quot;bisu&amp;quot; dan perayaan terasa ganjil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Filosofi: Ujian Kesabaran dan Kesucian ==&lt;br /&gt;
Dalam kosmologi dapur Bugis, pembuatan Gambang adalah sebuah ritual spiritual yang menuntut kesucian. Masyarakat setempat memegang teguh kepercayaan (pamali) bahwa Gambang sangat sensitif terhadap kondisi emosional pembuatnya. Ada pameo, &#039;&#039;&amp;quot;Aja mu gauru ko masussai atimmu&amp;quot;&#039;&#039; (Jangan mengaduk ketan jika hatimu sedang keruh). Jika pembuatnya sedang marah atau tidak fokus, konon hasil fermentasinya akan menjadi &#039;&#039;Makecci&#039;&#039; (kecut).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aspek kebersihan juga dijaga ketat. Wanita yang sedang menstruasi (haid) dilarang keras terlibat dalam proses peragian. Secara budaya, ini dimaknai bahwa Gambang menuntut &amp;quot;kesucian&amp;quot; agar ragi bisa bekerja sempurna mengubah pati menjadi gula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bahan-bahan ==&lt;br /&gt;
Untuk menghasilkan Gambang dengan tekstur dan rasa otentik, berikut komposisi bahan yang umum digunakan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* 1 liter [[Beras Ketan Hitam]] berkualitas baik&lt;br /&gt;
* 1/2 liter [[Beras Ketan Putih]] (campuran digunakan agar tekstur tidak terlalu kasar/keras)&lt;br /&gt;
* 2 butir [[Ragi]] tape (dihaluskan)&lt;br /&gt;
* Gula pasir secukupnya (opsional, tergantung selera manis)&lt;br /&gt;
* Air panas secukupnya&lt;br /&gt;
* [[Daun Pisang]] untuk alas dan penutup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Cara Pengolahan ==&lt;br /&gt;
Proses pembuatan Gambang membutuhkan ketelitian tingkat tinggi, terutama pada tahap pendinginan dan peragian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pencucian dan Perendaman:&#039;&#039;&#039; Cuci [[beras]] ketan hitam dan ketan putih secara terpisah hingga air cuciannya benar-benar bening. Rendam keduanya dalam wadah terpisah selama minimal satu malam (kurang lebih 8-12 jam) agar beras melunak. Tiriskan.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pencampuran:&#039;&#039;&#039; Campurkan beras ketan hitam dan putih yang sudah direndam dalam satu wadah. Aduk hingga tercampur rata.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pengukusan Tahap I:&#039;&#039;&#039; Panaskan dandang/kukusan. Masukkan campuran ketan dan kukus hingga setengah matang (keluar uap banyak). Angkat ketan ke dalam baskom.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penyiraman (Aron):&#039;&#039;&#039; Siram ketan setengah matang tersebut dengan air panas secukupnya sambil diaduk perlahan hingga air terserap dan ketan menjadi pekat (aron). Diamkan sejenak.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pengukusan Tahap II:&#039;&#039;&#039; Kukus kembali ketan yang sudah diaron hingga benar-benar matang dan tanak (sekitar 30-45 menit).&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pendinginan (Krusial):&#039;&#039;&#039; Hamparkan nasi ketan matang di atas nampan atau tampah yang lebar. Angin-anginkan hingga &#039;&#039;&#039;benar-benar dingin&#039;&#039;&#039; (suhu ruang). &#039;&#039;Catatan: Memberi ragi pada ketan yang masih hangat akan mematikan ragi dan membuat tape menjadi masam atau busuk.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Peragian:&#039;&#039;&#039; Taburkan ragi yang sudah dihaluskan ke atas ketan dingin menggunakan saringan teh agar menyebar rata bak debu halus. Tambahkan gula pasir jika ingin rasa yang lebih manis. Aduk perlahan hingga rata.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pembentukan:&#039;&#039;&#039; Ambil segenggam adonan, bentuk menjadi bola-bola bulat (seukuran bola pingpong atau tenis) sambil sedikit dipadatkan.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Fermentasi:&#039;&#039;&#039; Susun bola-bola ketan ke dalam panci atau wadah yang sudah dialasi daun pisang. Tutup bagian atasnya dengan daun pisang lagi, lalu tutup wadah dengan rapat.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penyimpanan:&#039;&#039;&#039; Simpan di tempat yang kering dan gelap (suhu ruang). Diamkan selama 3 hari 2 malam. Setelah mengeluarkan air dan aroma alkohol manis tercium kuat, Gambang siap disajikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Arfiani. (2025). &#039;&#039;[https://rri.co.id/kuliner/1424391/gambang-kudapan-wajib-orang-bugis-bone-saat-lebaran Gambang, Kudapan Wajib Orang Bugis Bone saat Lebaran]&#039;&#039;. RRI Bone.&lt;br /&gt;
* DetikFood. (2022). &#039;&#039;[https://food.detik.com/berita-boga/d-6066305/manis-asam-tape-gambang-khas-bugis-yang-istimewa-saat-lebaran Manis Asam! Tape Gambang Khas Bugis yang Istimewa Saat Lebaran]&#039;&#039;. Detik.com.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Makanan Tradisional]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Fermentasi]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Bugis]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Bone]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Soppeng]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sulawesi Selatan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Makanan Ritual]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Tape&amp;diff=3626</id>
		<title>Tape</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Tape&amp;diff=3626"/>
		<updated>2026-02-05T21:02:12Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: ←Mengosongkan halaman&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Tape&amp;diff=3622</id>
		<title>Tape</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Tape&amp;diff=3622"/>
		<updated>2026-02-05T20:58:18Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Gambang/Tape&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; (atau dikenal luas sebagai &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Tape Ketan Hitam&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;) adalah kudapan fermentasi tradisional yang memegang posisi sakral dalam kalender kuliner masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan, khususnya di wilayah Bone dan Soppeng. Berbeda dengan &amp;quot;Roti Gambang&amp;quot; khas Betawi yang bertekstur keras, Gambang di tanah Sulawesi adalah bola-bola ketan hitam yang lembut, berair, dan memabukkan—bukan karena alkoholnya, melainkan karena aroma manisnya...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Gambang/Tape&#039;&#039;&#039; (atau dikenal luas sebagai &#039;&#039;&#039;Tape Ketan Hitam&#039;&#039;&#039;) adalah kudapan fermentasi tradisional yang memegang posisi sakral dalam kalender kuliner masyarakat [[Bugis]] di [[Sulawesi Selatan]], khususnya di wilayah [[Bone]] dan [[Soppeng]]. Berbeda dengan &amp;quot;Roti Gambang&amp;quot; khas Betawi yang bertekstur keras, Gambang di tanah Sulawesi adalah bola-bola ketan hitam yang lembut, berair, dan memabukkan—bukan karena alkoholnya, melainkan karena aroma manisnya yang menusuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi masyarakat Bugis, Gambang bukan sekadar makanan penutup. Ia adalah penanda waktu; kehadirannya adalah sinyal mutlak bahwa Hari Raya [[Idul Fitri]] atau [[Idul Adha]] telah tiba. Tanpa piring berisi bola-bola hitam ini bersanding dengan [[Gogoso]] atau [[Burasa]], meja tamu dianggap &amp;quot;bisu&amp;quot; dan perayaan terasa ganjil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Filosofi: Ujian Kesabaran dan Kesucian ==&lt;br /&gt;
Dalam kosmologi dapur Bugis, pembuatan Gambang adalah sebuah ritual spiritual yang menuntut kesucian. Masyarakat setempat memegang teguh kepercayaan (pamali) bahwa Gambang sangat sensitif terhadap kondisi emosional pembuatnya. Ada pameo, &#039;&#039;&amp;quot;Aja mu gauru ko masussai atimmu&amp;quot;&#039;&#039; (Jangan mengaduk ketan jika hatimu sedang keruh). Jika pembuatnya sedang marah atau tidak fokus, konon hasil fermentasinya akan menjadi &#039;&#039;Makecci&#039;&#039; (kecut).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aspek kebersihan juga dijaga ketat. Wanita yang sedang menstruasi (haid) dilarang keras terlibat dalam proses peragian. Secara budaya, ini dimaknai bahwa Gambang menuntut &amp;quot;kesucian&amp;quot; agar ragi bisa bekerja sempurna mengubah pati menjadi gula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bahan-bahan ==&lt;br /&gt;
Untuk menghasilkan Gambang dengan tekstur dan rasa otentik, berikut komposisi bahan yang umum digunakan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* 1 liter [[Beras Ketan Hitam]] berkualitas baik&lt;br /&gt;
* 1/2 liter [[Beras Ketan Putih]] (campuran digunakan agar tekstur tidak terlalu kasar/keras)&lt;br /&gt;
* 2 butir [[Ragi]] tape (dihaluskan)&lt;br /&gt;
* Gula pasir secukupnya (opsional, tergantung selera manis)&lt;br /&gt;
* Air panas secukupnya&lt;br /&gt;
* [[Daun Pisang]] untuk alas dan penutup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Cara Pengolahan ==&lt;br /&gt;
Proses pembuatan Gambang membutuhkan ketelitian tingkat tinggi, terutama pada tahap pendinginan dan peragian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pencucian dan Perendaman:&#039;&#039;&#039; Cuci [[beras]] ketan hitam dan ketan putih secara terpisah hingga air cuciannya benar-benar bening. Rendam keduanya dalam wadah terpisah selama minimal satu malam (kurang lebih 8-12 jam) agar beras melunak. Tiriskan.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pencampuran:&#039;&#039;&#039; Campurkan beras ketan hitam dan putih yang sudah direndam dalam satu wadah. Aduk hingga tercampur rata.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pengukusan Tahap I:&#039;&#039;&#039; Panaskan dandang/kukusan. Masukkan campuran ketan dan kukus hingga setengah matang (keluar uap banyak). Angkat ketan ke dalam baskom.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penyiraman (Aron):&#039;&#039;&#039; Siram ketan setengah matang tersebut dengan air panas secukupnya sambil diaduk perlahan hingga air terserap dan ketan menjadi pekat (aron). Diamkan sejenak.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pengukusan Tahap II:&#039;&#039;&#039; Kukus kembali ketan yang sudah diaron hingga benar-benar matang dan tanak (sekitar 30-45 menit).&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pendinginan (Krusial):&#039;&#039;&#039; Hamparkan nasi ketan matang di atas nampan atau tampah yang lebar. Angin-anginkan hingga &#039;&#039;&#039;benar-benar dingin&#039;&#039;&#039; (suhu ruang). &#039;&#039;Catatan: Memberi ragi pada ketan yang masih hangat akan mematikan ragi dan membuat tape menjadi masam atau busuk.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Peragian:&#039;&#039;&#039; Taburkan ragi yang sudah dihaluskan ke atas ketan dingin menggunakan saringan teh agar menyebar rata bak debu halus. Tambahkan gula pasir jika ingin rasa yang lebih manis. Aduk perlahan hingga rata.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pembentukan:&#039;&#039;&#039; Ambil segenggam adonan, bentuk menjadi bola-bola bulat (seukuran bola pingpong atau tenis) sambil sedikit dipadatkan.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Fermentasi:&#039;&#039;&#039; Susun bola-bola ketan ke dalam panci atau wadah yang sudah dialasi daun pisang. Tutup bagian atasnya dengan daun pisang lagi, lalu tutup wadah dengan rapat.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penyimpanan:&#039;&#039;&#039; Simpan di tempat yang kering dan gelap (suhu ruang). Diamkan selama 3 hari 2 malam. Setelah mengeluarkan air dan aroma alkohol manis tercium kuat, Gambang siap disajikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Arfiani. (2025). &#039;&#039;[https://rri.co.id/kuliner/1424391/gambang-kudapan-wajib-orang-bugis-bone-saat-lebaran Gambang, Kudapan Wajib Orang Bugis Bone saat Lebaran]&#039;&#039;. RRI Bone.&lt;br /&gt;
* DetikFood. (2022). &#039;&#039;[https://food.detik.com/berita-boga/d-6066305/manis-asam-tape-gambang-khas-bugis-yang-istimewa-saat-lebaran Manis Asam! Tape Gambang Khas Bugis yang Istimewa Saat Lebaran]&#039;&#039;. Detik.com.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Makanan Tradisional]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Fermentasi]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Bugis]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Bone]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Soppeng]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sulawesi Selatan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Makanan Ritual]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Jipang&amp;diff=3479</id>
		<title>Jipang</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Jipang&amp;diff=3479"/>
		<updated>2026-01-29T08:19:07Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Jipang&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; (atau sering dilafalkan sebagai &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Bipang&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; dan &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Gipang&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;) lebih dari sekadar kudapan manis; ia adalah monumen kecil dari pertemuan budaya dan kearifan lokal dalam mengawetkan pangan. Berbasis pada bulir beras atau beras ketan (&amp;#039;&amp;#039;Oryza sativa glutinosa&amp;#039;&amp;#039;) yang dimekarkan (&amp;#039;&amp;#039;puffing&amp;#039;&amp;#039;), Jipang hadir sebagai bentuk transformasi sederhana dari bahan pokok menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi. Di Sulawesi Selatan, khususnya di sepanj...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Jipang&#039;&#039;&#039; (atau sering dilafalkan sebagai &#039;&#039;&#039;Bipang&#039;&#039;&#039; dan &#039;&#039;&#039;Gipang&#039;&#039;&#039;) lebih dari sekadar kudapan manis; ia adalah monumen kecil dari pertemuan budaya dan kearifan lokal dalam mengawetkan pangan. Berbasis pada bulir [[beras]] atau [[beras ketan]] (&#039;&#039;Oryza sativa glutinosa&#039;&#039;) yang dimekarkan (&#039;&#039;puffing&#039;&#039;), Jipang hadir sebagai bentuk transformasi sederhana dari bahan pokok menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi. Di [[Sulawesi Selatan]], khususnya di sepanjang poros jalan Trans-Sulawesi wilayah Kabupaten [[Jeneponto]], Jipang telah menjadi identitas geografis—sebuah &amp;quot;teman perjalanan&amp;quot; yang wajib dibeli oleh para pelintas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Jejak Sejarah dan Simbolisme Budaya ==&lt;br /&gt;
Kehadiran Jipang di Nusantara adalah bukti nyata dari akulturasi kuliner yang cair. Secara etimologis, nama ini diyakini menyerap bahasa Hokkien, &#039;&#039;&#039;&amp;quot;Bi-Pang&amp;quot;&#039;&#039;&#039;, di mana &#039;&#039;Bi&#039;&#039; berarti beras dan &#039;&#039;Pang&#039;&#039; merujuk pada aroma wangi atau proses pemanggangan. Awalnya dibawa oleh perantau Tiongkok sebagai bekal makanan yang tahan lama, Jipang kemudian mengalami indigenisasi (pribumisasi) total oleh masyarakat lokal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam lanskap sosial masyarakat [[Bugis]]-[[Makassar]], Jipang melampaui fungsi kenyangnya. Teksturnya yang padat dan saling merekat karena balutan gula merah dimaknai sebagai simbol kohesi sosial—sebuah harapan agar persaudaraan dan hubungan kekerabatan senantiasa lengket dan tak terpisahkan. Rasa manis legit yang mendominasi kudapan ini juga kerap diasosiasikan dengan doa akan kesejahteraan dan manisnya kehidupan, menjadikannya sajian yang pantas dan terhormat untuk tamu di hari raya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Profil Sensoris ==&lt;br /&gt;
Menikmati Jipang adalah sebuah pengalaman tekstural yang kontras. Pada gigitan pertama, ia menawarkan kerenyahan (&#039;&#039;crunchy&#039;&#039;) dari butiran beras yang mekar, namun sensasi itu segera disusul oleh tekstur lengket (&#039;&#039;chewy&#039;&#039;) saat gula karamel mulai lumer di mulut. Aroma yang menguar adalah perpaduan kompleks antara wangi &#039;&#039;smoky&#039;&#039; dari gula yang terkaramelisasi dan aroma tanah (&#039;&#039;earthy&#039;&#039;) dari beras sangrai, menciptakan nostalgia rasa yang khas pedesaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Proses Pembuatan: Dari Jemuran ke Wajan ==&lt;br /&gt;
Pembuatan Jipang adalah seni manajemen waktu dan suhu. Prosesnya dimulai jauh sebelum api dinyalakan, yakni di bawah terik matahari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahan utamanya sederhana: 1 kg [[Beras Ketan]] berkualitas, 500 gram [[Gula Merah]] (atau [[Gula Aren]]), [[Minyak Goreng]], dan sedikit garam. Namun, kuncinya terletak pada kesabaran. Beras ketan yang telah dikukus matang harus dijemur hingga mencapai titik kering paripurna (seperti nasi aking). Tahap ini krusial; jika masih ada sisa kelembapan, ketan akan gagal mekar dan berakhir keras atau &amp;quot;bantat&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Transformasi magis terjadi di dua wajan berbeda. Di wajan pertama, ketan kering digoreng singkat dalam minyak panas hingga mekar seketika, lalu ditiriskan. Di wajan kedua, gula merah dilelehkan bersama sedikit air dan garam hingga berbuih kental membentuk karamel &amp;quot;rambut nenek&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Momen paling kritis adalah penyatuan dua elemen ini. Ketan goreng dimasukkan ke dalam larutan karamel panas dan harus diaduk dengan kecepatan tinggi. Keterlambatan sekian detik akan membuat gula mengeras tidak merata. Adonan yang masih panas dan lengket itu kemudian dituang ke cetakan, dipadatkan sekuat tenaga, dan dipotong-potong sebelum dingin sepenuhnya. Begitu suhu turun, Jipang akan mengunci bentuknya, siap untuk disimpan atau dijajakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* RRI. (2024). &#039;&#039;Gipang, Jajanan Legendaris Kaya Makna&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
* Chanel Sulsel. (2024). &#039;&#039;Jipang: Kudapan Manis Legendaris dari Makassar&#039;&#039;. Pikiran Rakyat.&lt;br /&gt;
* Pemerintah Desa Pao. (2026). &#039;&#039;[https://desapao.go.id Jipang: Oleh-Oleh Khas Jeneponto]&#039;&#039;. Website Resmi Desa Pao.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Jajanan Pasar]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Oleh-oleh]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Olahan Beras]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Makanan Tradisional]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Jeneponto]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sulawesi Selatan]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Cao_Mairo&amp;diff=3476</id>
		<title>Cao Mairo</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Cao_Mairo&amp;diff=3476"/>
		<updated>2026-01-29T07:52:17Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: saya menambahkan gambar&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Cao Mairo.png|jmpl|370x370px|Cao Mairo di Kab. Pangkep]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Cao Mairo&#039;&#039;&#039; adalah makanan tradisional berbahan dasar ikan yang berasal dari [[Pulau Salemo]], Kabupaten [[Pangkajene dan Kepulauan]] (Pangkep), [[Sulawesi Selatan]]. Makanan ini tergolong sebagai produk [[fermentasi]] ikan (sejenis peda atau [[terasi]] basah) yang menggunakan bahan utama ikan mairo (ikan teri/&#039;&#039;Stolephorus sp.&#039;&#039;).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sejarah dan Etimologi ==&lt;br /&gt;
Keberadaan Cao tidak terlepas dari kondisi geografis masyarakat Pulau Salemo yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Secara historis, Cao tercipta sebagai strategi pengawetan makanan untuk menyiasati hasil tangkapan ikan yang melimpah namun mudah busuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penamaan &amp;quot;Cao&amp;quot; konon berasal dari bahasa Bugis cauk yang berarti &amp;quot;lelah&amp;quot;. Hal ini merujuk pada karakteristik awalnya sebagai makanan bekal praktis bagi nelayan yang menempuh perjalanan jauh dan melelahkan untuk menjual hasil tangkapan mereka.&amp;lt;ref name=&amp;quot;Katakerja&amp;quot;&amp;gt;Katakerja. (2022). &#039;&#039;Ensiklopedia Pangan Olahan SulSelBar&#039;&#039;. Makassar: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Hal. 52-54.&amp;lt;/ref&amp;gt; Selain sebagai bekal, Cao juga menjadi solusi cadangan lauk rumah tangga saat musim ombak tinggi atau paceklik ikan.&amp;lt;ref name=&amp;quot;IDNTimes&amp;quot;&amp;gt;Nursam, A. (2020). &#039;&#039;[https://sulsel.idntimes.com/food/dining-guide/mengenal-cao-olahan-ikan-fermentasi-khas-pangkep-sulsel-00-z6qqk-y5sbpl Mengenal Cao, Olahan Ikan Fermentasi Khas Pangkep Sulsel]&#039;&#039;. IDN Times Sulsel.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Tinjauan Sains: Fermentasi ==&lt;br /&gt;
Secara ilmiah, Cao merupakan produk fermentasi spontan yang melibatkan garam dan karbohidrat. Penambahan nasi dan ragi dalam proses pembuatan berfungsi sebagai sumber energi bagi bakteri asam laktat (BAL) untuk berkembang biak. Proses ini menurunkan pH (menjadi asam) yang secara efektif menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk, sehingga ikan menjadi awet dalam jangka waktu lama serta menghasilkan aroma dan rasa gurih yang khas.&amp;lt;ref&amp;gt;Hasbullah, H., &amp;amp; Uga, S. (2017). &#039;&#039;Karakteristik Ikan Tembang (Sardinella gibbosa) Sebagai Bahan Baku Pembuatan Produk Fermentasi Chao&#039;&#039;. Jurnal Galung Tropika, 6(1), 13-26.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Proses Pembuatan ==&lt;br /&gt;
Pembuatan Cao Mairo melibatkan proses fermentasi bertingkat selama kurang lebih satu minggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Bahan&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Ikan mairo (teri) 1 ons&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Nasi 1 piring&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Ragi secukupnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Garam secukupnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Pewarna makanan (opsional, untuk estetika)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Langkah-langkah&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Pisahkan tulang dan daging ikan teri, lalu cuci hingga bersih.&lt;br /&gt;
* Campurkan ikan dengan garam, simpan dalam wadah tertutup selama 3 hari (fermentasi garam).&lt;br /&gt;
* Secara terpisah, campurkan nasi dengan ragi. Simpan dalam wadah kedap udara selama 3 hari (fermentasi nasi).&lt;br /&gt;
* Setelah 3 hari, campurkan hasil fermentasi ikan dan hasil fermentasi nasi.&lt;br /&gt;
* Tambahkan pewarna makanan, aduk hingga rata.&lt;br /&gt;
* Masukkan adonan ke dalam botol atau wadah tertutup, lalu simpan (peram) kembali selama 1 minggu hingga menjadi Cao siap olah.&amp;lt;ref name=&amp;quot;Katakerja&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Saran Penyajian ==&lt;br /&gt;
Cao biasanya dimasak tumis bersama [[kelapa]] parut untuk menjadi lauk pendamping nasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
;Bahan Olahan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Cao Mairo siap pakai&lt;br /&gt;
* [[Bawang Merah|Bawang merah]] &amp;amp; Bawang putih (iris tipis)&lt;br /&gt;
* Kelapa parut&lt;br /&gt;
* Garam, gula, dan penyedap rasa&lt;br /&gt;
* Minyak goreng&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Cara Memasak&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
# Panaskan minyak, tumis irisan bawang merah dan bawang putih hingga harum.&lt;br /&gt;
# Campurkan Cao dengan kelapa parut dalam wadah terpisah hingga rata.&lt;br /&gt;
# Masukkan campuran Cao dan kelapa ke dalam tumisan bawang.&lt;br /&gt;
# Tambahkan garam, gula, dan penyedap rasa sesuai selera.&lt;br /&gt;
# Aduk merata dan masak hingga matang. Angkat dan sajikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Rujukan ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sulawesi Selatan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Olahan Ikan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Fermentasi]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Cao_Mairo.png&amp;diff=3475</id>
		<title>Berkas:Cao Mairo.png</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Cao_Mairo.png&amp;diff=3475"/>
		<updated>2026-01-29T07:51:10Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Cao Mairo di Pagkep&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Buras_tarreang&amp;diff=3474</id>
		<title>Buras tarreang</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Buras_tarreang&amp;diff=3474"/>
		<updated>2026-01-29T07:47:55Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: saya menambahkan pute&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Buras Tarreang.png|jmpl|335x335px|Foto Peyajian Buras Tarreang]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Buras Tarreang&#039;&#039;&#039; adalah hidangan tradisional khas dari [[Polewali Mandar]], [[Sulawesi Barat]]. Makanan ini merupakan varian lokal dari &#039;&#039;buras&#039;&#039; yang menggabungkan [[beras]] dengan biji &#039;&#039;&#039;Tarreang&#039;&#039;&#039; (Jewawut), tanaman serealia lokal yang telah lama dibudidayakan masyarakat Mandar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Definisi dan Pembeda Utama ==&lt;br /&gt;
Perbedaan mendasar Buras Tarreang terletak pada penggunaan &#039;&#039;&#039;Tarreang&#039;&#039;&#039; (&#039;&#039;Setaria italica&#039;&#039;) sebagai bahan campuran utama beras. Penggunaan jewawut tidak hanya memberikan tekstur yang lebih padat dan aroma khas, tetapi juga menjadi penanda identitas kuliner lokal, sekaligus pembeda autentik dari &#039;&#039;Burasa’&#039;&#039; biasa yang umumnya hanya menggunakan beras.&amp;lt;ref name=&amp;quot;Katakerja&amp;quot;&amp;gt;Katakerja. (2022). &#039;&#039;Ensiklopedia Pangan Olahan SulSelBar&#039;&#039;. Makassar: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Hal. 50-51.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Penyajian dan Konteks Budaya ==&lt;br /&gt;
Dalam tradisi masyarakat Mandar, Buras Tarreang memiliki fungsi sosial yang kuat:&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Hari Raya:&#039;&#039;&#039; Menjadi sajian wajib saat Idulfitri dan Iduladha, seringkali disandingkan dengan masakan daging berkuah.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Bekal Perjalanan:&#039;&#039;&#039; Karena teksturnya yang padat dan daya simpannya yang baik, buras ini menjadi bekal favorit bagi pelaut atau perantau Mandar.&amp;lt;ref name=&amp;quot;Katakerja&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Upacara Adat:&#039;&#039;&#039; Produk olahan Tarreang sering hadir dalam ritual adat seperti &#039;&#039;Sayyang Pattu&#039;du&#039;&#039; (kuda menari), &#039;&#039;Maulid&#039;&#039;, dan acara syukuran panen, menyimbolkan harapan akan keberkahan yang terus &amp;quot;mengikut&amp;quot; (&#039;&#039;ma&#039;uleq&#039;&#039;) pemilik hajat.&amp;lt;ref&amp;gt;Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2018). &#039;&#039;Ule&#039; - Warisan Budaya Takbenda Indonesia&#039;&#039;.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Nilai Gizi ==&lt;br /&gt;
Secara nutrisi, penambahan Tarreang meningkatkan kualitas gizi buras dibandingkan buras beras biasa. Tarreang diketahui memiliki kandungan &#039;&#039;&#039;protein (6,78%)&#039;&#039;&#039; dan &#039;&#039;&#039;serat&#039;&#039;&#039; yang lebih tinggi dibandingkan beras putih biasa, serta mengandung lemak nabati yang memberikan rasa gurih alami tanpa perlu penyedap berlebih.&amp;lt;ref&amp;gt;Febriady, A. (2020). &#039;&#039;[https://www.mongabay.co.id/2020/05/17/tarreang-sumber-pangan-kaya-nutrisi-orang-mandar/ &#039;Tarreang&#039;, Sumber Pangan Kaya Nutrisi Orang Mandar]&#039;&#039;. Mongabay Indonesia.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Cara Pengolahan ==&lt;br /&gt;
Proses pengolahan melibatkan teknik pencampuran dan perebusan lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
;Bahan:&lt;br /&gt;
* Tarreang (Jewawut) 1 liter&lt;br /&gt;
* Beras 1 liter&lt;br /&gt;
* Santan [[kelapa]] 6 gelas&lt;br /&gt;
* Garam 1 sendok teh&lt;br /&gt;
* Daun pisang (muda) untuk pembungkus&lt;br /&gt;
* Tali pengikat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
;Langkah-langkah pengolahan:&lt;br /&gt;
# Cuci bersih Tarreang dan beras.&lt;br /&gt;
# Campurkan keduanya dalam wajan, tambahkan santan dan garam.&lt;br /&gt;
# Masak dengan teknik &#039;&#039;aron&#039;&#039; (liwet) sambil diaduk hingga santan meresap habis dan adonan menjadi setengah matang.&lt;br /&gt;
# Dinginkan adonan sebelum dibungkus.&lt;br /&gt;
# Bungkus adonan menggunakan daun pisang muda, bentuk pipih memanjang, dan ikat dua bungkusan menjadi satu bagian (&#039;&#039;tali buras&#039;&#039;).&lt;br /&gt;
# Rebus dalam air mendidih selama 2 hingga 3 jam hingga matang sempurna.&amp;lt;ref name=&amp;quot;Katakerja&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Rujukan ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sulawesi Barat]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Olahan Pangan Matang]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Buras_Tarreang.png&amp;diff=3473</id>
		<title>Berkas:Buras Tarreang.png</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Buras_Tarreang.png&amp;diff=3473"/>
		<updated>2026-01-29T07:46:22Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Foto peyajian Buras Tarreang&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Kue_Kalimbu&amp;diff=3219</id>
		<title>Kue Kalimbu</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Kue_Kalimbu&amp;diff=3219"/>
		<updated>2025-12-19T16:43:50Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Kalimbu.jpg|jmpl|Kue Kalimbu atau Beppa Janda merupakan kue khas Bugis-Makassar yang terbuat dari ubi kayu (singkong), pisang, dan kelapa.]]&#039;&#039;&#039;Kue Kalimbu&#039;&#039;&#039; adalah kue khas Bugis-Makassar. Beberapa daerah di Sulawesi Selatan menyebutnya dengan Beppa Janda/Jadde (Bugis). Kata “Kalimbu” berasal dari bahasa Makassar “Kalimbuk” yang artinya selimut.&amp;lt;ref&amp;gt;Abduraerah Arif.1995.Kamus Makassar-Indonesia. Ujung Pandang: Yayasan Perguruan Islam Kapita&amp;lt;/ref&amp;gt; Penamaan kue ini bisa jadi karena bentuk kue ini yang terselimuti oleh kelapa parut di luarnya. Kalimbu merupakan [[Pangan Lokal|pangan lokal]] yang terbuat dari pisang yang dibalut singkong rebus dan kelapa parut &amp;lt;ref&amp;gt;https://obsesi.or.id/index.php/obsesi/article/download/936/pdf&amp;lt;/ref&amp;gt;. Kue Kalimbu atau Beppa Janda biasanya disajikan sebagai makanan harian atau disajikan sebagai hidangan pagi atau sore hari. Kue ini juga banyak disajikan saat bulan Ramadhan. &lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;Cara Membuat&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
Bahan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Ubi Kayu (Singkong)&lt;br /&gt;
* Pewarna Makanan (Pandan Pasta)&lt;br /&gt;
* Pisang Ambon (Masak)&lt;br /&gt;
* Kelapa&lt;br /&gt;
* Gula Pasir&lt;br /&gt;
* Daun Pisang (Opsional)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Cara membuat&#039;&#039;&#039; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Langkah 1:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Parut ubi kayu (singkong) sesuai kebutuhan&lt;br /&gt;
* Tambahkan pandan pasta, lakukan hingga warna bercampur rata pada adonan&lt;br /&gt;
* Potong pisang menjadi bentuk yang kecil (kurang lebih 3cm)&lt;br /&gt;
* Ambil sebagian adonan ubi lalu beri pisang yang telah dipotong, lalu bentuk hingga pisang terbalut adonan&lt;br /&gt;
* Bungkus adonan dengan daun pisang (opsional) lalu kukus hingga kurang lebih 30 menit, jika tidak ingin menggunakan daun pisang adonan dapat langsung di kukus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Langkah 2:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Parut kelapa dan campurkan dengan gula pasir (sesuai kebutuhan)&lt;br /&gt;
* Setelah matang, tiriskan kue kurang lebih 5 menit (hingga hangat) kemudian gulingkan pada campuran kelapa dan gula pasir tadi hingga menutupi semua bagian kue&lt;br /&gt;
* Kue Kalimbu siap disajikan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;Rujukan&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sulawesi Selatan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Olahan Pangan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Matang]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Ikan_emas_pamarrasan&amp;diff=3217</id>
		<title>Ikan emas pamarrasan</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Ikan_emas_pamarrasan&amp;diff=3217"/>
		<updated>2025-12-19T16:38:42Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: takarir gambar dan deskripsi pangan sedikit.&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Pantollo’ pamarasan merupakan masakan khas Toraja yang terbuat dari ikan mas atau belut yang diolah dengan pamarasan (rawon) yang dicampur dengan sedimikian rupa menggunakan rempah-rempah khas Toraja. Makanan ini biasanya disajikan dalam acara-acara adat masyarakat Toraja. Selain dimasak dengan menggunakan ikan mas, pantollo’ pamarasan juga bisa diolah dengan menggunakan ikan gabus, ikan tongkol, belut, daging babi dan cumi-cumi.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Masakan Pamarrasan merupakan masakan tradisional khas masyarakat Toraja dan hanya bisa diperoleh disekitar daerah Sulawesi. Biasanya masakan Pamarrasan ini disajikan pada upacara tradisional suku Toraja seperti upacara pemakaman dan upacara syukuran.[[Berkas:Pantollo Pamarasan ikan mas.jpg|jmpl|Ikan Mas Pamarrasan]]Pamarrasan adalah cara masyarakat lokal memasak makanan dengan bumbu hitam spesial Toraja yang diolah dari buah Pangi ( di Jawa disebut dengan kluwek). Pohon pangi dipercaya memiliki banyak manfaat bagi tubuh baik dari daunnya, buah maupun bijinya. Selain daging merah sebagai bahan dasarnya, bumbu pamarrasan dapat dimasak pula dengan ikan segar seperti ikan mas, salmon, belut atau cumi-cumi. Pamarrasan, rawon khas ala Toraja ini memiliki cita rasa dan wangi yang khas dari buah kluwek dengan kuah gurih pedas menyegarkan dan tidak kental.&amp;lt;ref&amp;gt;https://budaya-indonesia.org/Pantollo-Pamarrasan-Ikan-Mas-Toraja-Sulawesi-Selatan&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bahan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# 3 ekor ikan mas/belut&lt;br /&gt;
# ½ sdt garam&lt;br /&gt;
# 1 bh jeruk nipis, ambil airnya&lt;br /&gt;
# minyak goreng secukupnya, untuk menggoreng&lt;br /&gt;
# 3 sdm minyak goreng&lt;br /&gt;
# 10 bh bawang merah iris tipis&lt;br /&gt;
# 10 siung bawang putih iris tipis&lt;br /&gt;
# 20 bh cabai rawit merah&lt;br /&gt;
# 2 cm jahe memarkan&lt;br /&gt;
# 2 cm lengkuas memarkan&lt;br /&gt;
# 10 bh keluak tua, haluskan&lt;br /&gt;
# 1 sdt garam&lt;br /&gt;
# 500 ml air&lt;br /&gt;
# 10 btg kucai &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Cara Membuat ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Lumuri ikan mas dengan garam dan jeruk nipis. Diamkan selama 10 menit.&lt;br /&gt;
# Goreng ikan hingga setengah matang. Angkat dan tiriskan. sisihkan.&lt;br /&gt;
# Panaskan minyak goreng. Tumis bawang merah dan bawang putih hingga harum. Masukkan cabai rawit, jahe, lengkuas, keluak dan garam aduk hingga bumbu matang.&lt;br /&gt;
# Masukkan ikan. Aduk hingga ikan berubah warna.&lt;br /&gt;
# Tuang air, aduk rata. Masak hingga matang.&lt;br /&gt;
# Sesaat akan diangkat taburi dengan kucai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sumber ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references responsive=&amp;quot;0&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
{{DEFAULTSORT:Pantollo pamarasan Ikan mas }}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Lawa%27_Bale&amp;diff=3203</id>
		<title>Lawa&#039; Bale</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Lawa%27_Bale&amp;diff=3203"/>
		<updated>2025-12-19T15:13:28Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Lawa&amp;#039; Bale&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; adalah hidangan tradisional khas suku Bugis, khususnya dari Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Makanan ini dikategorikan sebagai lauk pauk (&amp;#039;&amp;#039;makanan pendamping&amp;#039;&amp;#039;) yang berbahan dasar ikan segar mentah yang diolah tanpa proses pemanasan api, melainkan &amp;quot;dimatangkan&amp;quot; melalui proses fermentasi singkat menggunakan asam cuka atau jeruk nipis. Sering disebut sebagai &amp;#039;&amp;#039;&amp;quot;sashimi&amp;quot;&amp;#039;&amp;#039; khas Bugis, Lawa&amp;#039; Bale adalah menu wajib yang merepresentasikan keramahtam...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;[[Lawa]]&#039; Bale&#039;&#039;&#039; adalah hidangan tradisional khas suku Bugis, khususnya dari Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Makanan ini dikategorikan sebagai lauk pauk (&#039;&#039;makanan pendamping&#039;&#039;) yang berbahan dasar ikan segar mentah yang diolah tanpa proses pemanasan api, melainkan &amp;quot;dimatangkan&amp;quot; melalui proses fermentasi singkat menggunakan asam cuka atau jeruk nipis. Sering disebut sebagai &#039;&#039;&amp;quot;sashimi&amp;quot;&#039;&#039; khas Bugis, Lawa&#039; Bale adalah menu wajib yang merepresentasikan keramahtamahan masyarakat Wajo. &lt;br /&gt;
[[Berkas:Lawa bale.png|jmpl|271x271px|sumber gambar: Ensiklopedia Pangan Olahan Sulselbar]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;Sejarah dan Filosofi&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
Secara historis, Lawa&#039; Bale bermula dari kepraktisan. Konon, hidangan ini awalnya adalah bekal sederhana bagi para petani Wajo saat menggarap sawah. Karena proses pembuatannya tidak membutuhkan perapian atau kayu bakar, makanan ini menjadi pilihan logis dan efisien untuk diolah di tengah ladang.&lt;br /&gt;
Dalam perkembangannya, status Lawa&#039; Bale naik kelas dari makanan petani menjadi sajian kehormatan. Saat ini, hidangan ini memegang peranan vital dalam &#039;&#039;&#039;Sistem Sosial&#039;&#039;&#039; masyarakat Bugis Wajo:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Simbol Penghormatan:&#039;&#039;&#039; Dalam hajatan besar seperti pesta pernikahan (&#039;&#039;botting&#039;&#039;) atau penjemputan tamu penting, Lawa&#039; Bale dianggap sebagai menu &amp;quot;pengunci&amp;quot;. Jamuan dianggap belum lengkap atau kurang sempurna tanpa kehadirannya.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Etimologi:&#039;&#039;&#039; Kata &#039;&#039;&amp;quot;Bale&amp;quot;&#039;&#039; dalam bahasa Bugis berarti ikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;Karakteristik&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
Cita rasa Lawa&#039; Bale sangat kompleks, memadukan rasa asam, pedas, dan gurih sekaligus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Asam &amp;amp; Segar:&#039;&#039;&#039; Dominasi rasa asam dari jeruk nipis berfungsi ganda: sebagai pemberi rasa segar sekaligus agen koagulasi protein yang &amp;quot;mematangkan&amp;quot; daging ikan mentah serta menghilangkan bau amis.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Gurih &amp;amp; Bertekstur:&#039;&#039;&#039; Penggunaan &#039;&#039;&#039;Serundeng&#039;&#039;&#039; ([[kelapa]] parut sangrai) memberikan tekstur renyah dan rasa gurih yang menyeimbangkan asamnya jeruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;Proses Pembuatan&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
Resep berikut menggunakan &#039;&#039;&#039;Ikan Kandea&#039;&#039;&#039; sebagai bahan utama, sesuai standar tradisi Wajo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== &#039;&#039;&#039;Bahan Utama&#039;&#039;&#039; ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Ikan Kandea (segar)&lt;br /&gt;
* Jeruk Nipis (5 buah)&lt;br /&gt;
* Kelapa parut sangrai (&#039;&#039;Serundeng&#039;&#039;)&lt;br /&gt;
* Cabai rawit (sesuai selera pedas)&lt;br /&gt;
* Garam, Gula, dan Penyedap rasa (&#039;&#039;Vetsin&#039;&#039;) secukupnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== &#039;&#039;&#039;Langkah Pengolahan&#039;&#039;&#039; ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Persiapan Ikan (Filleting):&#039;&#039;&#039; Bersihkan Ikan Kandea. Pisahkan daging dari kepala dan durinya. Cuci bersih daging ikan, lalu peras air cuciannya hingga daging kesat/kering.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Proses &amp;quot;Pemasakan&amp;quot; (Marinasi):&#039;&#039;&#039; Peras jeruk nipis, campurkan air perasannya dengan sedikit air dan garam. Tuangkan larutan ini ke daging ikan. Aduk rata dan diamkan sejenak hingga daging berubah warna (memutih) tanda telah &amp;quot;matang&amp;quot; oleh asam.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pencampuran Bumbu:&#039;&#039;&#039; Masukkan kelapa sangrai (serundeng) ke dalam adonan ikan, aduk rata.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Finishing:&#039;&#039;&#039; Haluskan cabai rawit dan garam. Campurkan ke dalam adonan lawa. Tambahkan gula dan penyedap rasa sesuai selera untuk menyeimbangkan rasa. Aduk hingga semua bumbu meresap sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Penyajian:&#039;&#039;&#039; Lawa&#039; Bale siap dihidangkan, idealnya disantap bersama nasi hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;&#039;Rujukan&#039;&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Tim Ensiklopedia Pangan. (2022). &#039;&#039;Ensiklopedia Pangan Olahan Sulselbar&#039;&#039;. Makassar: Program Katakerja. Hal. 106-107.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Lawa_bale.png&amp;diff=3200</id>
		<title>Berkas:Lawa bale.png</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Lawa_bale.png&amp;diff=3200"/>
		<updated>2025-12-19T15:08:37Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;lawa bale ini bersumber dari buku Ensiklopedia Olahan Pangan Sulselbar&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Donge-donge&amp;diff=3062</id>
		<title>Donge-donge</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Donge-donge&amp;diff=3062"/>
		<updated>2025-12-10T04:21:18Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Donge-donge&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; adalah kue tradisional Sulawesi Selatan berbahan dasar tepung beras ketan hitam yang memiliki kaitan erat dengan ritual pertanian. Kudapan ini dikenal sebagai sajian khas dalam upacara adat &amp;#039;&amp;#039;Mappalili&amp;#039;&amp;#039; (ritual turun sawah/dimulainya musim tanam) dan sering dijadikan bekal praktis oleh para petani saat bekerja di sawah.  == Konteks Budaya: Ritual Mappalili == Donge-donge bukan sekadar jajanan pasar, melainkan makanan yang memiliki fungs...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Donge-donge&#039;&#039;&#039; adalah kue tradisional [[Sulawesi Selatan]] berbahan dasar tepung beras ketan hitam yang memiliki kaitan erat dengan ritual pertanian. Kudapan ini dikenal sebagai sajian khas dalam upacara adat &#039;&#039;[[Mappalili]]&#039;&#039; (ritual turun sawah/dimulainya musim tanam) dan sering dijadikan bekal praktis oleh para petani saat bekerja di sawah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Konteks Budaya: Ritual Mappalili ==&lt;br /&gt;
Donge-donge bukan sekadar jajanan pasar, melainkan makanan yang memiliki fungsi sosial dalam siklus pertanian masyarakat Bugis (khususnya di wilayah [[Pangkajene dan Kepulauan|Pangkep]] dan [[Barru]]).&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Ritual Adat:&#039;&#039;&#039; Kue ini disajikan secara khusus pada saat acara &#039;&#039;Mappalili&#039;&#039;, sebuah tradisi sakral yang dipimpin oleh para &#039;&#039;Bissu&#039;&#039; atau tokoh adat untuk memohon keberkahan dan keselamatan sebelum masa tanam padi dimulai.&amp;lt;ref&amp;gt;Gunawan, A. (2022). &#039;&#039;[https://etnomusikologi.isi.ac.id/2022/07/26/genrang-palili-dalam-ritual-adat-mappalili-di-segeri-dulu-dan-kini-agim-gunawan-etnomusikologi/ Genrang Palili&#039; dalam Ritual Adat Mappalili&#039; di Sulawesi Selatan]&#039;&#039;. Yogyakarta: Institut Seni Indonesia (ISI).&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Bekal Petani:&#039;&#039;&#039; Selain fungsi seremonial, Donge-donge dirancang sebagai makanan logistik. Teksturnya yang padat dan kemasannya yang alami membuatnya mudah dibawa ke sawah tanpa wadah tambahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Karakteristik Unik ==&lt;br /&gt;
Ciri khas utama Donge-donge terletak pada pembungkusnya yang menggunakan **Daun Letto** (sejenis daun tanaman palem atau lontar). Penggunaan daun ini memberikan aroma khas yang berbeda dengan kue tradisional lain yang umumnya menggunakan daun pisang.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Daya Simpan:&#039;&#039;&#039; Keunggulan teknis dari Donge-donge adalah keawetannya. Kue ini diklaim mampu bertahan selama **7 hari** pada suhu ruang dan hingga **30 hari** jika disimpan dalam lemari pendingin.&amp;lt;ref name=&amp;quot;Katakerja&amp;quot;&amp;gt;Katakerja. (2022). &#039;&#039;Ensiklopedia Pangan Olahan SulSelBar&#039;&#039;. Makassar: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Hal. 70-71.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Proses Pembuatan ==&lt;br /&gt;
Pembuatan Donge-donge mirip dengan kue basah pada umumnya, namun spesifik pada penggunaan ketan hitam dan teknik pembungkusan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
;Bahan Kulit:&lt;br /&gt;
* Tepung beras ketan hitam&lt;br /&gt;
* Santan&lt;br /&gt;
* Garam secukupnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
;Bahan Isian (Unti):&lt;br /&gt;
* [[Kelapa]] parut&lt;br /&gt;
* Gula merah (dicairkan)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
;Bahan Pembungkus:&lt;br /&gt;
* Daun Letto (daun palem/lontar)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
;Langkah-langkah:&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pembuatan Kulit:&#039;&#039;&#039; Campurkan tepung beras ketan hitam dengan santan dan garam. Uleni adonan hingga kalis dan menyatu.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pembuatan Isi:&#039;&#039;&#039; Campurkan kelapa parut dengan gula merah cair, aduk hingga rata (membentuk enten/unti).&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pembentukan:&#039;&#039;&#039; &lt;br /&gt;
#* Ambil sedikit adonan kulit, pipihkan di telapak tangan.&lt;br /&gt;
#* Beri isian kelapa gula merah di tengahnya.&lt;br /&gt;
#* Tutup dan bentuk adonan menjadi lonjong.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pembungkusan:&#039;&#039;&#039; Bungkus adonan lonjong tersebut menggunakan daun Letto, lalu ikat erat agar tidak lepas.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pematangan:&#039;&#039;&#039; Kukus dalam dandang panas selama kurang lebih 30 menit hingga matang. Angkat dan sajikan.&amp;lt;ref name=&amp;quot;Katakerja&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Rujukan ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sulawesi Selatan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Kue Tradisional]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Ritual Adat]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Dompo_durian&amp;diff=3056</id>
		<title>Dompo durian</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Dompo_durian&amp;diff=3056"/>
		<updated>2025-12-10T03:17:24Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Dompo Durian&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; adalah makanan ringan tradisional berbahan dasar buah durian yang berasal dari wilayah Luwu Raya (mencakup Kabupaten Luwu, Kota Palopo, Luwu Utara, dan Luwu Timur), Sulawesi Selatan. Makanan ini merupakan bentuk pengawetan daging buah durian yang dikeringkan hingga padat, menyerupai &amp;#039;&amp;#039;dodol&amp;#039;&amp;#039; atau &amp;#039;&amp;#039;lempok&amp;#039;&amp;#039; namun dengan tekstur yang lebih kering dan teknik penyajian yang berbeda (digoreng).  == Latar Belakang &amp;amp; Geog...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;[[Dompo]] Durian&#039;&#039;&#039; adalah makanan ringan tradisional berbahan dasar buah [[durian]] yang berasal dari wilayah [[Luwu Raya]] (mencakup [[Kabupaten Luwu]], [[Kota Palopo]], [[Luwu Utara]], dan [[Luwu Timur]]), [[Sulawesi Selatan]]. Makanan ini merupakan bentuk pengawetan daging buah durian yang dikeringkan hingga padat, menyerupai &#039;&#039;[[dodol]]&#039;&#039; atau &#039;&#039;lempok&#039;&#039; namun dengan tekstur yang lebih kering dan teknik penyajian yang berbeda (digoreng).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Latar Belakang &amp;amp; Geografi ==&lt;br /&gt;
Wilayah Luwu Raya dikenal sebagai salah satu sentra penghasil durian terbesar di Sulawesi Selatan. Saat musim panen raya (biasanya awal tahun), produksi durian seringkali melimpah ruah (&#039;&#039;over-supply&#039;&#039;).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dompo tercipta sebagai kearifan lokal masyarakat Luwu untuk menyiasati kelebihan hasil panen tersebut. Jika buah segar memiliki masa simpan yang pendek, Dompo yang telah melalui proses pemasanan dan pengeringan dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama, sehingga buah durian tetap dapat dinikmati di luar musim panen.&amp;lt;ref name=&amp;quot;Katakerja&amp;quot;&amp;gt;Katakerja. (2022). &#039;&#039;Ensiklopedia Pangan Olahan SulSelBar&#039;&#039;. Makassar: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Hal. 68-69.&amp;lt;/ref&amp;gt; Saat ini, Dompo telah menjadi komoditas oleh-oleh khas bagi wisatawan yang berkunjung ke Palopo atau Luwu.&amp;lt;ref&amp;gt;Jadesta Kemenparekraf. &#039;&#039;[https://jadesta.kemenparekraf.go.id/paket/dompo_durian Produk Wisata Dompo Durian]&#039;&#039;. Jaringan Desa Wisata (Jadesta).&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Perbedaan dengan Lempok ==&lt;br /&gt;
Meski sekilas mirip dengan [[Lempok Durian]] (khas Sumatera) atau Dodol, Dompo memiliki tahapan proses yang lebih panjang.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Lempok/Dodol:&#039;&#039;&#039; Daging durian dimasak dengan gula hingga kental, lalu didinginkan dan dikemas (tekstur basah/legit).&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Dompo:&#039;&#039;&#039; Setelah dimasak hingga kental, adonan &#039;&#039;&#039;dijemur&#039;&#039;&#039; di bawah sinar matahari selama berhari-hari hingga mengeras. Dalam penyajiannya, Dompo seringkali dipotong kecil, dibalut tepung, dan &#039;&#039;&#039;digoreng&#039;&#039;&#039; kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Proses Pembuatan ==&lt;br /&gt;
Proses pembuatan Dompo memakan waktu cukup lama, terutama pada tahap pengeringan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
;Bahan Utama:&lt;br /&gt;
* Daging buah durian segar 2 Kg&lt;br /&gt;
* Gula pasir 350 gram&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
;Bahan Pencelup (untuk penggorengan):&lt;br /&gt;
* Tepung terigu 350 gram&lt;br /&gt;
* Air secukupnya (adonan agak kental)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
;Langkah Pengolahan:&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pemisahan:&#039;&#039;&#039; Pisahkan daging buah durian dari bijinya.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pemasakan:&#039;&#039;&#039; Campurkan daging durian dengan gula pasir dalam wajan. Masak dengan api kecil sambil terus diaduk selama kurang lebih 30 menit hingga adonan matang, mengental, dan berubah warna menjadi kecokelatan (karamelisasi).&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pencetakan:&#039;&#039;&#039; Angkat dan dinginkan adonan. Cetak adonan di atas alas plastik dengan bentuk bulat pipih (diameter sekitar 10 cm, tebal 0,7 cm) atau sesuai selera.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Pengeringan:&#039;&#039;&#039; Jemur adonan di bawah sinar matahari selama kurang lebih 10 hari (tergantung kondisi cuaca). Balik posisi Dompo setiap 2-3 hari agar keringnya merata.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;&#039;Penyajian:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
#* Ambil Dompo yang sudah kering, potong kecil-kecil sesuai ukuran sajian.&lt;br /&gt;
#* Celupkan ke dalam adonan tepung terigu kental.&lt;br /&gt;
#* Goreng dengan api kecil hingga berwarna kecokelatan.&lt;br /&gt;
#* Angkat, tiriskan, dan Dompo siap dihidangkan sebagai teman minum kopi atau teh.&amp;lt;ref name=&amp;quot;Katakerja&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Rujukan ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sulawesi Selatan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Luwu Raya]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Olahan Buah]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Kue Tradisional]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Cao_Mairo&amp;diff=3050</id>
		<title>Cao Mairo</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Cao_Mairo&amp;diff=3050"/>
		<updated>2025-12-09T16:23:13Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Cao Mairo&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; adalah makanan tradisional berbahan dasar ikan yang berasal dari Pulau Salemo, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Makanan ini tergolong sebagai produk fermentasi ikan (sejenis peda atau terasi basah) yang menggunakan bahan utama ikan mairo (ikan teri/&amp;#039;&amp;#039;Stolephorus sp.&amp;#039;&amp;#039;).  == Sejarah dan Etimologi == Keberadaan Cao tidak terlepas dari kondisi geografis masyarakat Pulau Salemo yang mayoritas berprofesi s...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Cao Mairo&#039;&#039;&#039; adalah makanan tradisional berbahan dasar ikan yang berasal dari [[Pulau Salemo]], Kabupaten [[Pangkajene dan Kepulauan]] (Pangkep), [[Sulawesi Selatan]]. Makanan ini tergolong sebagai produk [[fermentasi]] ikan (sejenis peda atau [[terasi]] basah) yang menggunakan bahan utama ikan mairo (ikan teri/&#039;&#039;Stolephorus sp.&#039;&#039;).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sejarah dan Etimologi ==&lt;br /&gt;
Keberadaan Cao tidak terlepas dari kondisi geografis masyarakat Pulau Salemo yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Secara historis, Cao tercipta sebagai strategi pengawetan makanan untuk menyiasati hasil tangkapan ikan yang melimpah namun mudah busuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penamaan &amp;quot;Cao&amp;quot; konon berasal dari bahasa Bugis &#039;&#039;cauk&#039;&#039; yang berarti &amp;quot;lelah&amp;quot;. Hal ini merujuk pada karakteristik awalnya sebagai makanan bekal praktis bagi nelayan yang menempuh perjalanan jauh dan melelahkan untuk menjual hasil tangkapan mereka.&amp;lt;ref name=&amp;quot;Katakerja&amp;quot;&amp;gt;Katakerja. (2022). &#039;&#039;Ensiklopedia Pangan Olahan SulSelBar&#039;&#039;. Makassar: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Hal. 52-54.&amp;lt;/ref&amp;gt; Selain sebagai bekal, Cao juga menjadi solusi cadangan lauk rumah tangga saat musim ombak tinggi atau paceklik ikan.&amp;lt;ref name=&amp;quot;IDNTimes&amp;quot;&amp;gt;Nursam, A. (2020). &#039;&#039;[https://sulsel.idntimes.com/food/dining-guide/mengenal-cao-olahan-ikan-fermentasi-khas-pangkep-sulsel-00-z6qqk-y5sbpl Mengenal Cao, Olahan Ikan Fermentasi Khas Pangkep Sulsel]&#039;&#039;. IDN Times Sulsel.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Tinjauan Sains: Fermentasi ==&lt;br /&gt;
Secara ilmiah, Cao merupakan produk fermentasi spontan yang melibatkan garam dan karbohidrat. Penambahan nasi dan ragi dalam proses pembuatan berfungsi sebagai sumber energi bagi bakteri asam laktat (BAL) untuk berkembang biak. Proses ini menurunkan pH (menjadi asam) yang secara efektif menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk, sehingga ikan menjadi awet dalam jangka waktu lama serta menghasilkan aroma dan rasa gurih yang khas.&amp;lt;ref&amp;gt;Hasbullah, H., &amp;amp; Uga, S. (2017). &#039;&#039;Karakteristik Ikan Tembang (Sardinella gibbosa) Sebagai Bahan Baku Pembuatan Produk Fermentasi Chao&#039;&#039;. Jurnal Galung Tropika, 6(1), 13-26.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Proses Pembuatan ==&lt;br /&gt;
Pembuatan Cao Mairo melibatkan proses fermentasi bertingkat selama kurang lebih satu minggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
;Bahan:&lt;br /&gt;
* Ikan mairo (teri) 1 ons&lt;br /&gt;
* Nasi 1 piring&lt;br /&gt;
* Ragi secukupnya&lt;br /&gt;
* Garam secukupnya&lt;br /&gt;
* Pewarna makanan (opsional, untuk estetika)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
;Langkah-langkah:&lt;br /&gt;
# Pisahkan tulang dan daging ikan teri, lalu cuci hingga bersih.&lt;br /&gt;
# Campurkan ikan dengan garam, simpan dalam wadah tertutup selama 3 hari (fermentasi garam).&lt;br /&gt;
# Secara terpisah, campurkan nasi dengan ragi. Simpan dalam wadah kedap udara selama 3 hari (fermentasi nasi).&lt;br /&gt;
# Setelah 3 hari, campurkan hasil fermentasi ikan dan hasil fermentasi nasi.&lt;br /&gt;
# Tambahkan pewarna makanan, aduk hingga rata.&lt;br /&gt;
# Masukkan adonan ke dalam botol atau wadah tertutup, lalu simpan (peram) kembali selama 1 minggu hingga menjadi Cao siap olah.&amp;lt;ref name=&amp;quot;Katakerja&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Saran Penyajian ==&lt;br /&gt;
Cao biasanya dimasak tumis bersama [[kelapa]] parut untuk menjadi lauk pendamping nasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
;Bahan Olahan:&lt;br /&gt;
* Cao Mairo siap pakai&lt;br /&gt;
* Bawang merah &amp;amp; Bawang putih (iris tipis)&lt;br /&gt;
* Kelapa parut&lt;br /&gt;
* Garam, gula, dan penyedap rasa&lt;br /&gt;
* Minyak goreng&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
;Cara Memasak:&lt;br /&gt;
# Panaskan minyak, tumis irisan bawang merah dan bawang putih hingga harum.&lt;br /&gt;
# Campurkan Cao dengan kelapa parut dalam wadah terpisah hingga rata.&lt;br /&gt;
# Masukkan campuran Cao dan kelapa ke dalam tumisan bawang.&lt;br /&gt;
# Tambahkan garam, gula, dan penyedap rasa sesuai selera.&lt;br /&gt;
# Aduk merata dan masak hingga matang. Angkat dan sajikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Rujukan ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sulawesi Selatan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Olahan Ikan]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Fermentasi]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Buras_tarreang&amp;diff=3038</id>
		<title>Buras tarreang</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Buras_tarreang&amp;diff=3038"/>
		<updated>2025-12-09T15:40:26Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abdul.rizal: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Buras Tarreang&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; adalah hidangan tradisional khas dari Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Makanan ini merupakan varian lokal dari &amp;#039;&amp;#039;buras&amp;#039;&amp;#039; yang menggabungkan beras dengan biji &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Tarreang&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; (Jewawut), tanaman serealia lokal yang telah lama dibudidayakan masyarakat Mandar.  == Definisi dan Pembeda Utama == Perbedaan mendasar Buras Tarreang terletak pada penggunaan &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Tarreang&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; (&amp;#039;&amp;#039;Setaria italica&amp;#039;&amp;#039;) sebagai bahan campuran utama beras. Penggunaan jewaw...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Buras Tarreang&#039;&#039;&#039; adalah hidangan tradisional khas dari [[Polewali Mandar]], [[Sulawesi Barat]]. Makanan ini merupakan varian lokal dari &#039;&#039;buras&#039;&#039; yang menggabungkan beras dengan biji &#039;&#039;&#039;Tarreang&#039;&#039;&#039; (Jewawut), tanaman serealia lokal yang telah lama dibudidayakan masyarakat Mandar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Definisi dan Pembeda Utama ==&lt;br /&gt;
Perbedaan mendasar Buras Tarreang terletak pada penggunaan &#039;&#039;&#039;Tarreang&#039;&#039;&#039; (&#039;&#039;Setaria italica&#039;&#039;) sebagai bahan campuran utama beras. Penggunaan jewawut tidak hanya memberikan tekstur yang lebih padat dan aroma khas, tetapi juga menjadi penanda identitas kuliner lokal, sekaligus pembeda autentik dari &#039;&#039;Burasa’&#039;&#039; biasa yang umumnya hanya menggunakan beras.&amp;lt;ref name=&amp;quot;Katakerja&amp;quot;&amp;gt;Katakerja. (2022). &#039;&#039;Ensiklopedia Pangan Olahan SulSelBar&#039;&#039;. Makassar: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Hal. 50-51.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Penyajian dan Konteks Budaya ==&lt;br /&gt;
Dalam tradisi masyarakat Mandar, Buras Tarreang memiliki fungsi sosial yang kuat:&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Hari Raya:&#039;&#039;&#039; Menjadi sajian wajib saat Idulfitri dan Iduladha, seringkali disandingkan dengan masakan daging berkuah.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Bekal Perjalanan:&#039;&#039;&#039; Karena teksturnya yang padat dan daya simpannya yang baik, buras ini menjadi bekal favorit bagi pelaut atau perantau Mandar.&amp;lt;ref name=&amp;quot;Katakerja&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Upacara Adat:&#039;&#039;&#039; Produk olahan Tarreang sering hadir dalam ritual adat seperti &#039;&#039;Sayyang Pattu&#039;du&#039;&#039; (kuda menari), &#039;&#039;Maulid&#039;&#039;, dan acara syukuran panen, menyimbolkan harapan akan keberkahan yang terus &amp;quot;mengikut&amp;quot; (&#039;&#039;ma&#039;uleq&#039;&#039;) pemilik hajat.&amp;lt;ref&amp;gt;Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2018). &#039;&#039;Ule&#039; - Warisan Budaya Takbenda Indonesia&#039;&#039;.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Nilai Gizi ==&lt;br /&gt;
Secara nutrisi, penambahan Tarreang meningkatkan kualitas gizi buras dibandingkan buras beras biasa. Tarreang diketahui memiliki kandungan &#039;&#039;&#039;protein (6,78%)&#039;&#039;&#039; dan &#039;&#039;&#039;serat&#039;&#039;&#039; yang lebih tinggi dibandingkan beras putih biasa, serta mengandung lemak nabati yang memberikan rasa gurih alami tanpa perlu penyedap berlebih.&amp;lt;ref&amp;gt;Febriady, A. (2020). &#039;&#039;[https://www.mongabay.co.id/2020/05/17/tarreang-sumber-pangan-kaya-nutrisi-orang-mandar/ &#039;Tarreang&#039;, Sumber Pangan Kaya Nutrisi Orang Mandar]&#039;&#039;. Mongabay Indonesia.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Cara Pengolahan ==&lt;br /&gt;
Proses pengolahan melibatkan teknik pencampuran dan perebusan lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
;Bahan:&lt;br /&gt;
* Tarreang (Jewawut) 1 liter&lt;br /&gt;
* Beras 1 liter&lt;br /&gt;
* Santan [[kelapa]] 6 gelas&lt;br /&gt;
* Garam 1 sendok teh&lt;br /&gt;
* Daun pisang (muda) untuk pembungkus&lt;br /&gt;
* Tali pengikat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
;Langkah-langkah pengolahan:&lt;br /&gt;
# Cuci bersih Tarreang dan beras.&lt;br /&gt;
# Campurkan keduanya dalam wajan, tambahkan santan dan garam.&lt;br /&gt;
# Masak dengan teknik &#039;&#039;aron&#039;&#039; (liwet) sambil diaduk hingga santan meresap habis dan adonan menjadi setengah matang.&lt;br /&gt;
# Dinginkan adonan sebelum dibungkus.&lt;br /&gt;
# Bungkus adonan menggunakan daun pisang muda, bentuk pipih memanjang, dan ikat dua bungkusan menjadi satu bagian (&#039;&#039;tali buras&#039;&#039;).&lt;br /&gt;
# Rebus dalam air mendidih selama 2 hingga 3 jam hingga matang sempurna.&amp;lt;ref name=&amp;quot;Katakerja&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Rujukan ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Sulawesi Barat]]&lt;br /&gt;
[[Kategori:Olahan Pangan Matang]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abdul.rizal</name></author>
	</entry>
</feed>